Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
12


__ADS_3

Arya menjatuhkan pantat pada bangku di sebelah Tama. Ternyata bukan hanya satu tim basket, tapi mereka juga teman sebangku.


Arya menatap Tama yang kini ikut menatapnya. Jangan salah sangka, itu bukan tatapan cinta. Bahkan mereka berdua tak tahu mengapa melakukan hal aneh itu.


Arya tak ambil pusing dengan adegan saling menatap mereka. Sering kali mereka melakukan hal yang sama waktu tanding basket. Arya fokus pada buku yang sedang di salin Tama.


“Ada PR, ya?” tanya Arya yang mengambil buku tulis matematikanya dan ikut menyontek bersama Tama.


Menyontek sudah mendarah daging bagi siswa sekolah. Tak mungkin ada siswa di dunia ini yang tak pernah mencontek. Meski siswa terpintar sekalipun tak akan terlepas dengan budaya menyontek.


“Lo ajak Dinda kemana?” bukannya menjawab, Tama malah bertanya hal lain dengan tangan yang terus menyalin.


“Nggak kemana-mana, cuma nganter sampai kelas. Oiya, nanti biar gue yang nganter Dinda pulang,” jawabnya yang juga tanpa menoleh pada Tama.


Tama menghentikan kegiatan menyalinnya, menatap Arya sejenak kemudian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


“Nggak perlu, rumah kalian kan berlainan arah.”


“Nggak pa-pa. Gue cuma pengen tau rumah pacar gue. Ah, gue belum ngomong kalau gue baru pacaran sama Dinda, ya?” tanya Arya menghentikan kegiatan menyalinnya.


Tama terdiam, jadi berita itu benar. “Nggak perlu, Dinda udah cerita kok,” bohong Tama.


Tama tak tahu kenapa dia berbohong pada Arya, hanya dia merasa sudah melakukan hal yang benar.


Arya mengangguk mengerti, kemudian bel tanda masuk pun berbunyi nyaring.


“Sial, gue belum selesai nyalin,” ucap Arya dan Tama yang hampir bersamaan. Semua siswa juga ikut heboh.


“Oi.. siapa yang minjem buku gue,” teriak seorang siswi.


“Bentar, nanggung..” jawab si peminjam. Yah, begitulah suasana pagi yang hampir dilalui semua kelas.


~oOo~


Mereka benar-benar membahas hubungan Dinda dan Arya saat jam istirahat.


Mendengar cerita Dinda berhasil membuat ketiga teman Dinda menganga. Jadi semuanya hanya sandiwara. Mereka tak percaya ada hal seperti itu didunia nyata.


Bukankah cerita seperti Dinda hanya ada di novel maupun drama korea atau sinetron yang panjangnya mengalahkan rel kereta itu.


“Enaknya, gue juga pengen...” ujar Fany iri.

__ADS_1


“Pasti ending-nya lo bakal jadian beneran sama Kak Arya,” tebak Ardi.


“Nggak mungkinlah,” sanggah Dinda tak terima.


Dinda merasa temannya yang satu ini terlalu banyak menonton drama dan novel romance sampai-sampai bisa berpikir seperti itu.


“Iya-iya, kan kalau di drama kayak gitu,” tambah Lola setuju.


“Dan hidup gue bukan drama korea,” jelas Dinda kesal.


Kalaupun hidupnya benar-benar seperti drama korea, Dinda hanya ingin pemeran cowok dalam kisahnya itu Tama, bukannya Arya.


“Kenapa lo nggak coba pindah suka sama Kak Arya?” usul Fany. Dan menurut Dinda itu usulan tergila yang pernah dia dengar.


Dinda meminum es tehnya sampai habis. “Nggak bakal. Gue nggak akan suka sama cowok tukang suruh kayak Kak Arya.”


“Bagus tau, kan Kak Arya emang calon pemimpin. Jadi harap makhlum kalau dia suka nyuruh,” tambah Ardi.


Dinda menatap Ardi kesal. “Sejak kapan lo jadi fanboy-nya Kak Arya, eh?”


Lola tertawa mendengar pertanyaan dari Dinda. “Tau tu, sejak Ardi ditolongan Kak Arya nyariin sepatunya,” jeplak Lola, “naksir kan lo sama Kak Arya?”


“Di? Lo masih normal, kan?” tanya Fany memastikan.


“Huu..” sorak ketiga cewek itu dan Ardi berhasil dihadiahi toyoran dari ketiganya.


~oOo~


Bel pulang sekolah sudah berdiring. Siapa yang tak memuja bunyi bel itu, tapi beda hal dengan Dinda hari ini saat mendapati Arya yang sudah menunggu di depan kelasnya.


Dinda kesal karena perbuatan Arya itu membuatnya harus menerima banyak sorakan cie-cie dan cicuit burung gagal dari teman sekelasnya.


Ini keterlaluan. Haruskah Arya bertindak sok romantis seperti sekarang. Bukankah Arya bisa menunggu Dinda di tempat parkir saja.


“Ngapain lo di sini?” tanya Dinda kesal dan berjalan cepat mendahului Arya.


“Kita kan mau pulang bareng,” jawab Arya setelah berada di samping Dinda.


Dinda menyibilkan bibirnya kesal. “Lo kan bisa nunggu di tempat parkir.”


“Kelamaan. Gue nggak mau kayak orang ilang nungguin lo.”

__ADS_1


Dinda mengeluarkan ponselnya, niatnya sih mau mengabari Tama kalau dia tak akan pulang sekolah bersamanya.


Arya melihat gerak-gerik Dinda pun penasaran. “Mau ngabarin siapa?”


“Bukan urusan lo.”


“Tama udah gue kasih tau kalau lo pulang bareng gue,” ujar Arya asal.


Arya hanya menebak kalau Dinda akan mengabari Tama. Dan ternyata dugaan Arya benar saat melihat Dinda kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.


Dinda menatap Arya tajam. Dia kembali berpikir apa Arya benar-benar bisa membaca pikirannya?


“Jangan liatin gue kayak gitu kalau lo nggak mau beneran naksir sama gue.”


Dinda kembali menyibilkan bibirnya. “PD-nya kumat,” ucapnya lirih, tapi masih bisa didengar Arya.


Arya hanya tersenyum senang. Dia baru tahu kalau menggoda Dinda semenyenangkan ini. Kalau Arya sadar dari dulu, pasti dia sudah banyak menggoda Dinda.


~oOo~


Tama menggenggam ponselnya erat saat mendapati montor Arya tengah melaju meninggalkan sekolah.


Bukannya dia cemburu, hanya saja dia merasa tak dianggap oleh Dinda. Walaupun Arya sudah meminta izin, tapi Dinda belum meminta izin padanya.


Walaupun Tama tak berhak dimintai izin, tapi setidaknya Dinda harus memberi kabar padanya. Dan sampai detik ini pun Tama tak menerima kabar dari Dinda. Apa Tama memang tak berarti bagi Dinda sekarang.


Dan juga Dinda belum bercerita sendiri tentang hubungannya dengan Arya. Seharusnya Tama sudah menyadarinya, jika hal sepenting itu saja Dinda tak bercerita, apalagi hal kecil seperti pulang bersama teman.


Bahkan Dinda juga menghiraukan ucapannya tentang menjauhi Arya.


Bukannya apa-apa. Tama senang jika Dinda bahagia, hanya saja Arya sudah memakan banyak korban.


Sebenarnya Arya hanyalah cowok biasa seperti yang lain, dia bukan playboy. Yang membedakan di sini adalah Arya memiliki banyak fans.


Apalagi fans Arya tak hanya di kalangan angkatannya ataupun adik kelas. Banyak kakak kelas juga yang mengincar Arya untuk dijadikan sebagai pacar.


Bagus kalau kakak kelas itu adem ayem. Bahkan saat dia kelas satu dulu sudah banyak yang kena bully si kakak kelas karena secara terang-terangan menyatakan cintanya pada Arya.


Tama hanya tak ingin Dinda mengalami hal mengerikan itu. Tama tak suka mencampuri urusan cewek, tapi jika kakak kelasnya itu berani menyentuh Dinda, maka dia tak akan sungkan untuk ikut campur dan membuat si kakak kelas menyesal.


Tama akan tetap melindungi adik kecilnya, meskipun keberadaannya tak dianggap oleh Dinda sekalipun.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2