Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
16


__ADS_3

Dinda sudah berdiri di tempat parkir. Menunggu seseorang yang seharusnya mengantarnya pulang.


Dinda tersenyum saat orang yang dimaksud muncul dalam penglihatannya. Arya bergegas menghampiri Dinda. Ada apa dengan wajah kusut itu? Padahal tadi Arya terlihat baik-baik saja.


“Din, sorry ya. Hari ini gue nggak bisa nganterin lo pulang. Tadi gue lupa ngasih tau,” jelasnya saat berada di depan Dinda. Arya merasa bersalah karena sudah membuat Dinda menunggu.


“Tadi gue udah bilang sama Tama,” jelasnya karena berpikir mungkin Dinda akan bingung pulang dengan siapa.


Ada rasa kecewa saat Arya mengatakan itu. “Sorry, ya,” ucap Arya lagi. “itu dia Tama, gue pulang duluan.”


Arya melajukan montornya pergi, bahkan sebelum Dinda mengucapkan sepatah kata sekalipun.


Seharusnya Dinda cukup tahu diri bahwa dirinya tak memiliki hak untuk marah, tapi kenapa rasanya seperti dikhianati. Dinda merasa dirinya seperti barang. Dicari saat butuh dan ditinggalkan saat tak diperlukan.


“Kenapa ngelamun? Ayo pulang. Lo pulang bareng gue, kan?” tepukan di bahu berhasil membuyarkan lamunan Dinda.


Dinda mengangguk. “Ayo naik!” ujar Tama yang sudah memposisikan montornya di depan Dinda. Akhirnya montor itu melaju.


Dinda sempat melihat montor Arya terparkir di depan gerbang sekolah. Lalu di mana pemiliknya. Dinda mencoba mencari keberadaan Arya sebelum montor Tama melesat lebih jauh.


Dinda melihat Arya membantu seorang cewek turun dari taksi. Cewek itu terlihat seperti Sisil. Ya, itu memang Sisil. Apa mereka sudah baikan? Atau bahkan sekarang mereka resmi jadian.


Mungkin karena itu Arya mengatakan hal macam tadi. Kenapa Arya tak mengatakannya secara langsung. Mungkin dia lebih bisa menerimanya daripada seperti sekarang.


“Kamu kenapa? Tumben diem aja,” tanya Tama saat berhenti di lampu merah.


Dinda menggeleng. Dia tak peduli Tama dapat melihat gerak kepalanya atau tidak.


“Ada masalah?” tanya Tama khawatir.


Dinda menggeleng lagi. “Nggak ada. Cuma ngerasa capek aja.”


“Ya udah, sampai rumah langsung istirahat.”


Dinda mengangguk mengerti, “iya.”


Dinda tak mengerti kenapa dia berbohong kepada Tama. Padahal dulu dia selalu menceritakan semua keluh kesahnya pada Tama, tapi sekarang?


Hanya suara kendaraan yang mengisi perjalanan mereka berdua. Padahal biasanya Dinda tak pernah berhenti mengoceh saat dibonceng oleh Tama.

__ADS_1


Tama berpikir mungkin Dinda masih kepikiran dengan kejadian tadi pagi.


"Kakak kelas tadi ada yang datengin lo lagi? "


Dinda menggeleng.


"Dinda nggak pa-pa, Mas. Cuma capek banyek catetan tadi. "


Merasa Finda enggan untuk bercerita. Tama memilih untuk diam. Menghormati keputusan adiknya.


~oOo~


Arya berjalan menuju pintu taksi yang berhasil membuat Sisil terkejut. Dia ketahuan, bagaimana bisa? Apa yang harus dia lakukan?


Sisil bingung setengah mati. Bahkan dia bisa merasakan tangannya gemetar hebat ketakutan. Bagaimana jika nanti Arya marah padanya?


Ternyata selama ini Sisil belum sadar kalau Arya tahu dia mengikuti cowok itu. Salahkan Sisil yang berpikir terlalu polos dan tak ingin sopir taksi yang dia tumpangi menjaga jarak cukup jauh dari Arya.


Padahal jika itu orang lain, dia pasti sudah yakin pada awal percobaan bahwa dia telah gagal. Tapi Sisil terlalu percaya diri untuk merasa dirinya telah berhasil memata-matai Arya.


Klap.


“Keluar, pulang bareng gue,” ujar Arya sambil membantu Sisil keluar dari dalam taksi.


Sisil menunduk takut saat mengekor di belakang Arya. Arya melepaskan jaket yang di pakainya dan mengikat lengan jaket itu pada pinggang Sisil. Membuat jarak keduanya sangat dekat.


Pipi Sisil bersemu merah saat Arya berada sedekat ini dengannya. Arya tak pernah berada sedekat ini atas kemauannya sendiri. Selalu saja Sisil yang berusaha menempel pada Arya.


Setelah jaket itu terpasang di pinggang Sisil, Arya menyuruh Sisil naik ke montornya. Bukan tanpa alasan Arya memakaikan jaketnya pada Sisil.


Hal itu dikarenakan Sisil hanya menggunakan dress seatas lutut yang tak memungkinkan untuk dipakai menaiki montor. Setidaknya, jaket itu sedikit membantu.


~oOo~


Dinda meraih ponsel yang berdering di samping bantalnya. Ya, kini dia tengah berbaring malas di tempat tidur. Suara ponsel itu berhasil mengganggu waktu malasnya.


Benda elektronik itu berhenti berdering tepat saat berada di tangan Dinda. Dinda cukup terkejut melihat puluhan pesan yang masuk dan juga beberapa panggilan yang tak terjawab. Semuanya dari Tama. Dinda membuka pesan yang isi keseluruhannya hampir sama.


Dinda bergegas beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya. Nampak wajah cemas Tama terlihat dari seberang jendela.

__ADS_1


“Kemana aja? Kenapa teleponnya nggak diangkat?” tanya Tama khawatir saat Dinda telah membuka jendelanya.


“Sorry, tadi Dinda ketiduran,” dusta Dinda. Nyatanya dia hanya berbaring malas di tempat tidur.


Dinda juga tak tahu kenapa dia tak mendengar suara dering ponsel yang tepat berada di sebelah bantalnya.


“Mas ganggu, ya?” sesal Tama. Dia tidak tahu kalau Dinda sudah tidur. Pasti Dinda benar-benar kelelahan sampai tertidur di jam segini.


Dinda menggeleng. “Enggak kok, tadi cuma ketiduran aja. Takutnya nanti malem ke bangun dan nggak bisa tidur kalau diterusin tidur.”


“Kamu beneran nggak pa-pa tadi?” tanya Tama khawatir.


Walaupun tak dijelaskan, Dinda mengerti apa yang dimaksud Tama. Tentang masalahnya dengan kakak kelas tadi.


“Mas kan udah bilang, kamu jangan deket-deket sama Arya..”


Seharusnya Dinda mendengarkan perkataan Tama yang satu itu, sehingga dia tak akan mengalami hal ini.


Merasa terbuang dan tidak dibutuhkan lagi. Apa yang terjadi dengannya? Dinda sendiri merasa bingung. Seharusnya dia senang jika Arya ingin menyelesaikan sandiwaranya. Jadi Dinda tak akan mendapatkan masalah dari kakak kelasnya lagi. Tapi Dinda merasa ada yang hilang.


Dinda sudah terbiasa dengan Arya yang selalu berada di dekatnya. Dinda tak ingin semuanya berakhir begitu saja.


“Dinda? Dinda..” panggil Tama yang entah sudah keberapa kali. Tapi Dinda masih saja melamun.


“Dinda?” panggil Tama sekali lagi.


“Eh, iya Kak, eh.. Mas,” jawab Dinda kagok.


“Kamu kenapa ngelamun?” tanya Tama khawatir. Kenapa akhir-akhir ini Dinda selalu membuatnya khawatir.


Sifat Dinda yang selalu terbuka padanya sudah hilang. Ingin sekali Tama membuat Dinda untuk menceritakan semua masalah cewek itu padanya, tapi Tama tak tahu bagaimana caranya. Dia sudah terbiasa dengan Dinda yang menceritakan semuanya sendiri. Tama tak memiliki pengalaman untuk memancing orang bercerita.


“Sorry, Mas. Kayaknya nyawa Dinda belum pada ngumpul. Dinda masuk lagi aja ya? Masih ngantuk,” dusta Dinda.


“Selamat malam..” ucap Dinda sambil menutup jendela kamarnya.


Lagi-lagi gagal. Kapan Tama bisa bicara serius dengan Dinda. Tama merindukan Dinda yang boros bicara, boros cerita yang tanpa dipancing pun akan membeberkan semuanya.


Tanpa meminta penjelasan pun Dinda akan menjelaskan semuanya pada Tama. Semenjak Dinda mengenal Arya semuanya berubah. Tapi Tama juga tak bisa membenci temannya sendiri. Apa Tama harus bertanya pada Arya dulu?

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2