
Mereka sudah sampai di toko peralatan tulis. Arya dan Sisil berjalan di depan, sedangkan Dinda berjalan dibelakang keduanya.
Mereka seperti sedang melakukan kencan ganda. Sedari tadi Sisil terus saja berceloteh tak ada hentinya. Sedangkan Arya menanggapi dengan deheman atau tersenyum tipis.
Sisil juga sesekali menengok kebelakang untuk mengajak Tama dan Dinda mengobrol.
Mereka tak ada yang benar-benar mengobrol kecuali Sisil. Rasanya sangat canggung.
"Dinda... Kira-kira kita butuh penggaris yang mana aja ya?"
"Gue ada yang 30 cm. Tinggal beli yang panjang aja."
"Oke sip."
Dinda menatap sekeliling toko, beberapa pelanggan pria di sini seperti tertarik pada Sisil.
Beberapa dari mereka berbisik satu sama lain sambil menatap kagum pada Sisil.
Dinda hanya bisa membuang nafas berat. Mungkin Sisil sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi tidak dengan dirinya.
Setidaknya mereka tak ada yang berani mendekat untuk berkenalan. Karena Dinda pasti akan merasa kikuk.
Belum lagi Arya dan Tama sedang tak berada bersama mereka. Tama tadi katanya sedang mencari peralatan tulis. Sedangkan Arya izin pergi ke toilet.
"Maaf, boleh kenalan nggak?"
Lagi-lagi Dinda membuang nafas berat, ternyata dugaannya salah.
Sisil menatap Dinda gusar, sepertinya dia merasa tak nyaman dengan kedatangan dua pria di depan mereka.
"Maaf, dia udah punya pacar," balas Dinda.
"Kita kan cuma mau kenalan aja, apa nggak boleh? Atau kenalan sama kamu juga nggak pa-pa?"
'Iya, minta kenalan sama gue biar bisa deket sama Sisil', ujar Dinda dalam hati.
"Maaf, siapa ya?"
Belum Dinda sempat membalas keduanya lagi, Tama sudah datang mendekat ke arah mereka.
Melihat Sisil yang bersembunyi di belakang tubuh tinggi Tama membuat kedua pria itu melangkah mundur tanpa mengucapkan satu katapun.
"Kalian nggak pa-pa?"
Sisil menggeleng kecil, masih sembunyi di belakang Tama.
"Arya mana?"
"Tadi, katanya mau ke toilet," balas Sisil lirih.
"Iya udah nggak pa-pa, kalian jangan jauh-jauh dari aku."
Mendengar kalimat Tama, Sisil tak lagi sembunyi dan tersenyum cerah seperti biasanya.
"Ayo Kak, kita ke sana." Sisil menarik Tama pergi sambil berlari kecil.
Dinda hanya berjalan pelan di belakang mereka. Lagipula bukan dia juga yang ingin diajak kenalan pria-pria di sini.
Bahkan Dinda sempat berbelok ke salah satu rak buku. Dia baru tahu bahwa penulis favoritnya sudah mengeluarkan karya baru.
"Suka baca novel Ilana Tan juga?"
Dinda terperanjat kaget mendengar suara rendah Arya dibelakangnya. Sejak kapan cowok itu berdiri di belakangnya?
"I-iya, sempet koleksi juga," jawab Dinda canggung.
Pasalnya, baru kali ini sejak kenaikan kelas mereka benar-benar mengobrol. Biasanya mereka hanya sekedar saling menyapa saat berpapasan.
__ADS_1
"Kak Arya suka juga?"
"Pernah baca sih yang series musim-musim itu, walaupun dipinjemin temen. Lumayan seru juga."
"Woahh, nggak nyangka. Jarang-jarang lo cowok suka baca novel. Apalagi yang genre romance."
"Iya, yah? Emang aneh?"
"Enggak kok, cuma jarang aja. Tapi beberapa temen cowok dikelasku juga lumayan banyak yang suka baca novel."
"Siapa? Ardi?"
Seketika Dinda tertawa saat nama Ardi disebut. Bagaimana bisa Dinda lupa bahwa Ardi juga cowok.
"Ardi juga, tapi yang lain juga ada yang suka."
Arya manggut-manggut mengerti.
"Temen cowok lo banyak?"
"Ya lumayan, kan jumlah cowok dikelas lebih banyak dari ceweknya. Beda 1 doang sih."
"Kalau temen diluar teman sekelas?"
"Emmm, kayaknya nggak ada sih, oh ada."
"Siapa?"
"Mas Arya, sama... Kak Arya?" tanya Dinda tak yakin.
Dinda mengembalikan buku itu ke rak semula.
"Loh, nggak jadi dibeli?"
"Nggak dulu deh, masih banyak tugas kelompok. Sayang uangnya."
"Lo masih suka sama Tama?"
"Masih, Mas Arya kan kakak gue. Gimana bisa gue nggak suka."
"Bukan, maksud gue..."
"Udah enggak. Kayaknya gue sama Mas Arya cocok jadi kakak adik aja."
"Lo nggak pa-pa cuma jadi adiknya aja?"
"Dindaaaaaaa..."
Mereka berdua sontak menengok ke arah suara. Sisil tengah berlari kecil ke arah keduanya.
"Lihat, udah semua belum?"
Sisil menunjukkan keranjang belanjanya pada Dinda. Dinda mengecek keranjang milik Sisil yang sebenarnya lebih banyak barang yang tidak diperlukan. Selebihnya lengkap.
"Udah kok."
Sisil bersorak senang.
"Ayo antri di kasir."
"Dinda tau nggak? Tadi Kak Tama keren banget."
Sisil kembali mulai dengan mode rem blongnya saat mengikuti Dinda berjalan menuju kasir.
"Keren kenapa?"
"Tadi semua cowok jadi nggak berani deketin Sisil gara-gara ada Kak Tama di sebelah aku."
__ADS_1
'Trus kerennya dimana?', ucapa Dinda dalam hati.
"Gitu doang, apa bagusnya?" balas Arya kemudian.
"Arya diem. Kamu nggak ngapa-ngapain nggak usah banyak protes."
"Apa maksud lo, gue nggak ngapa-ngapain? Gue kan jagain Dinda."
Dinda membeku beberapa detik mendengar kalimat Arya hingga Sisil tak sengaja menabraknya.
"Dinda maaf... Sisil nggak sengaja."
"Og enggak kok, nggak pa-pa. Gue yang salah."
"Tapi kan Sisil yang nabrak. Dinda beneran nggak pa-pa? Kakinya keinjek? Sakit?"
Arya menarik Sisil menyingkir untuk melihat kaki Dinda.
"Lo ada-ada aja sih. Makanya kalau jalan liat ke depan."
"Kan Sisil udah minta maaf."
"Udah, gue nggak pa-pa kok Kak, udah ayu buruan ke kasir."
Sisil mencibilkan bibirnya kesal ke arah Arya. Hingga dia mendatangi Tama untuk mengadu perbuatan Arya kepadanya. Tama hanya tersenyum mendengar cuitan kesal Sisil.
Sebelum pulang mereka sempatkan untuk mampir ke food court. Sejak keluar dari toko buku tadi Sisil dan Arya tak henti-hentinya berdebat hanya karena masalah sepele.
Dinda jadi sedikit merasa aneh dengan keduanya. Mereka seperti bukan sepasang kekasih.
Dapatkah Dinda sedikit berharap?
Entahlah. Setidaknya hari ini berjalan tidak terlalu buruk. Dinda jadi sedikit bisa berbincang dengan Arya.
Semoga kedepannya mereka juga bisa berbincang santai lagi di sekolah.
~oOo~
"Dindaaa..."
"Apa?!" jawab Ardi sewot.
"Ardi kenapa sih? Sisil kan manggil Dinda."
Ardi komat kamit menirukan gerak bicara Sisil.
Sisil mencibil kesal kemudian memberikan tas kecil cantik berwarna biru kepada Dinda. "Dari Arya."
Dinda melongo menatap tas ditangannya. Apa tadi Sisil bipang? Bahkan belum sempat dia berterima kasih, tapi Sisil sudah kembali ke tempat duduknya.
"Tunggu, telinga gue nggak salah dengerkan?" ucap Fany memastikan.
Ardi menggeleng yakin. "Nggak cuma lo doang, gue juga denger hal yang sama."
"Buka Dinda," seru Lola kegirangan.
"Buku?" tanya Ardi bingung.
Tapi wajah ketiganya tersenyum saling bertatapan melihat Dinda tersenyum gembira menatap novel di tangannya.
"Dinda lo punya utang penjelasan ke kita," ujar Fany penasaran.
Dinda hanya nyengir kepada teman-temannya.
"Ntar pulang sekolah ke rumah gue gimana?" usul Ardi yang disetujui oleh yang lain.
"Bentar, gue bilang nyokap saya Mas Arya dulu."
__ADS_1
~oOo~