Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
9


__ADS_3

Aryaaaaaaa...” teriak Sisil berhambur memeluk Arya sambil terus tersedu.


Arya hanya bisa berusaha menenangkan Sisil yang terus meraung sambil memeluknya.


“Lo kenapa?” tanya Arya sambil melirik teman-temannya malu.


Mau ditaruh di mana wajahnya setelah ini. Apa urat malu Sisil sudah putus? Bagaimana bisa dia meraung di depan banyak orang seperti ini.


“Sisil lupa alamat pulang.. hiks..” jawab Sisil polos.


Arya hanya bisa tepuk jidat dibuatnya. Jadi Sisil menangis seperti bocah umur 5 tahun minta dibelikan permen hanya gara-gara lupa alamat rumah?


Sebaiknya Arya menyarankan kedua orang tua Sisil agar Sisil didampingi seorang baby siter.


Arya melepaskan pelukan Sisil. Bukannya lepas, Sisil memindahkan perekatnya pada lengan Arya. Arya hanya membuang nafasnya pasrah.


Selalu Arya merasa seperti boneka saat bersama Sisil. Ya, dia memang terlihat seperti boneka beruang lucu milik seorang bocah berumur 5 tahun.


Arya menuliskan alamat rumahnya pada secarik kertas dan menyerahkannya ke Sisil. Bukannya menerima kertas itu, Sisil malah meminta Arya yang mengantarnya pulang.


Demi kepala Spongebob yang lebih besar dari badannya, Arya ini masih ada kegiatan di sekolah. Kapan Sisil belajar menerima kesibukannya.


Wajah Arya tampak lebih pucat saat teman-temannya menyetujui permintaan Sisil. Apa teman-temannya ini sudah gila? Ini sekolah, bukannya warung pinggir jalan yang bisa didatangi dan ditinggal begitu saja.


Tentu saja Arya menolak ide itu. Selain Arya yang merupakan ketua panitia yang harus selalu ada, dia juga tak ingin mengambil resiko jika Sisil ingin mampir ke tempat lain saat perjalanan pulang.


“Lo jangan gini,” ujar Arya sambil berusaha melepaskan kaitan tangan Sisil.


Tak enak juga ditonton teman-temannya. Walaupun alasan sebenarnya karena Arya risih dengan keberadaan tangan Sisil.


“Biarin!” ngotot Sisil.


“Lo bisa buat Dinda salah paham!” ucap Arya akhirnya.


Sedangkan Dinda yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia drama roman picisan Arya melongo tak mengerti.


‘Dia? Salah paham? Kenapa?’ tanya Dinda pada dirinya sendiri.


“Kalian semua salah paham. Gue nggak selingkuh sama Dinda. Pacar asli gue tu Dinda,” ucap Arya sambil berjalan menghampiri Dinda yang memasang wajah ‘hal gila macam apa lagi yang lo lakuin ke gue’.


“Lo nurut aja. Daripada lo dikira selingkuhan gue,” bisik Arya pada telinga Dinda yang dimata teman-temannya terlihat seperti mencium rambut Dinda.


Raungan Sisil kembali terdengar. Dia berlari menjauh dari sekolah dan untuk kali ini tak kembali lagi seperti sebelumnya.


“Wah.. akhirnya lo notice Dinda, nih?” tanya seorang panitia cowok.


“Selamat ya, Din. Sorry tadi gue salah paham sama lo,” ujar si cewek Hulk.


Dinda hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan dari para kakak kelasnya. Tanpa menunggu ba-bi-bu Dinda segera menarik tangan Arya menjauh dari sorakan mereka.


“Lo gila!” bentak Dinda setelah mereka meninggalkan kerumunan itu.

__ADS_1


“Iya gue emang udah gila. Please buat kali ini aja.”


Arya menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada Dinda. Dia buang semua rasa malunya demi terbebas dari lem perekat bernama Sisil.


Cuma Dinda-lah dewa penyelamatnya. Dan lagi di sini juga tidak ada orang yang akan melihat Arya memohon, jadi tak masalah.


“Please lo mau jadi pacar bohongan gue seminggu aja. Kalau lo beruntung mungkin gue bisa kencan sama lo,” ucap Arya memberi penawaran.


“Siapa yang mau kencan sama lo? Dan please, kurangi sifat PD lo itu.”


Dinda masih berkacak pinggang kesal. Sampai kapan cowok di depannya ini memelihara penyakit PD tingkat akutnya.


Kenapa Arya masih percaya kalau Dinda tergila-gila padanya. Tidakah Arya bisa bahasa manusia dengan baik.


Sudah berulang kali Dinda menjelaskan bahwa semua ini hanyalah salah paham.


Haruskah dia menyuarakan kesalahpahaman ini di toa masjid agar bisa menembus gendang telinga berbeton Arya?


“Oh, sorry kalau lo udah nggak suka sama gue..”


“Please, gue emang nggak pernah suka sama lo! Demi apa pun nggak bakal suka sama lo. Gue tu sukanya sama Mas Arya, bukan sama elo!” gamblang Dinda akhirnya.


Dinda merasa lega karena bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Dan jika Arya masih juga tak paham dengan kalimat rap dadakannya tadi. Maka dengan senang hati Dinda akan menendang Arya sampai ke bulan.


“Berapa kali gue bilang, panggil gue ‘Kak’ bukan ‘Mas’.”


“Ya karena emang bukan elo orang yang gue maksud!”


Arya menautkan alisnya bingung. Siapa orang lain yang bernama Arya kecuali dirinya. Apa ada Arya lain yang tak dia ketahui?


“Gue sukanya sama Mas Arya, orang yang setiap hari lo panggil Tama itu namanya juga Arya!”


Ah, Arya mengangguk mengerti. Benar juga, bagaimana bisa dia melupakan nama lengkap Tama. Tunggu dulu, jadi selama ini..


“Jadi lo nggak pernah suka sama gue?”


Dinda mengangguk mantap.


“Semuanya hanya salah paham?”


Sekali lagi Dinda menganggukan kepalanya. Oh, betapa senangnya Dinda orang di depannya ini akhirnya mengerti.


Sepertinya Dinda memang harus berteriak untuk bicara kepada Arya agar si cowok PD tingkat dewa itu paham bahasa manusianya.


“Kenapa nggak ngomong dari kemarin?”


“Gue udah ngomong, oncom!” gertak Dinda kesal.


“Lo berani ngatain gue?”


“Sorry, keceplosan. Habisnya gue kesel.”

__ADS_1


“Tama udah tahu?”


Dinda bergegas meraih tangan Arya dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.


“Please, jangan kasih tahu Mas Arya. Biar gue sendiri yang ngasih tahu.”


Bagaimana bisa Dinda lupa kalau Arya itu dekat dengan Tama. Habis sudah Dinda. Kenapa juga dia menceritakan hal sepenting itu pada Arya.


Andai dia punya mesin waktunya Doraemon atau kalung timer turner-nya Hermione, pasti Dinda akan berusaha memperbaiki semuanya.


Bukan hanya kesalahannya hari ini, tapi juga kejadian sejak awal MOS. Tapi semua itu hanya fantasi. Kedua benda itu tidak nyata.


“Kalau gitu lo juga harus bantu gue. Jadi pacar bohongan gue sampai Sisil balik ke Manado.”


“Kenapa harus gue? Kenapa bukan yang lain aja?”


“Karena gue tahu rahasia lo dan karena elo orang yang keseret masuk dalam masalah gue, paham?”


“Kenapa juga gue bisa kenal cowok kayak lo?” lirih Dinda.


“Hey, gue denger tau.”


“Bodoh amat.”


Bel tanda istirahat usai pun berbunyi. Dengan langkah kesal Dinda kembali ke lapangan, tapi sebelum Dinda sempat menjauh dari sana, Arya menahan tangannya.


“Apa lagi?” tanya Dinda kesal.


“Nomer hape, pin BB, WA? Apa aja kasih ke gue.”


“Buat apaan?”


“Buat masang togel. Ya, buat kontakanlah. Nggak lucu kalau pacaran tapi nggak punya nomer pacarnya sendiri.”


“Kita nggak pacaran!”


“Bohongan!”


Dinda meraih ponselnya kesal. Kenapa juga dia harus memberikan nomernya ke orang asing. Ya, Arya memang orang asing bagi Dinda. Kenapa hal buruk ini terus menimpanya.


“Oke. Udah gue simpen. Gue hubungi kalau ada rencana tambahan. Bye..” ujar Arya seraya pergi meninggalkan Dinda yang sudah seperti gunung meletus.


Dinda kembali ke lapangan untuk menyelesaikan MOS terakhirnya. Pasrah, dia tidak berharap kalau ini bukan yang terburuk. Karena hal terburuk selalu saja ada di depannya jika Dinda berdekatan dengan Arya.


Selama Arya masih berada dalam radius dekat dengan Dinda, maka harinya tak ada yang menyenangkan.


Firasat Dinda benar. Mereka belum tahu saja bahwa kabar hubungan sandiwara itu telah menyebar ke seluruh penghuni sekolah.


Bukan hanya siswa yang berada dalam sekolah saat ini, tapi juga siswa yang sekarang tengah menikmati hari terakhir liburan mereka. Banyak yang menyebarkan berita itu melalui sosial media masing-masing.


Bersiap-siaplah Dinda. Hari panjang yang melelahkan sedang menunggumu.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2