
Hari kedua latihan drama. Tidak banyak yang berubah dari hari pertama. Yang lain hanya fokus menghafalkan dialog pendek mereka. Sedangkan kini tambah Oci yang dilatih mandiri bersama Sisil dan Bagas.
"Ci, penjedaan lo kurang pas. Coba lo tandain pada kalimat-kalimat panjang dan lo buat penjedaan sendiri. Jangan lupa kasih tanda pas jedanya."
"Siap, Kak "
"Sisil sama Bagas masih kurang ada kemistri nih. Kalian jarang ngobrol ya di kelas?"
Mendengar hal itu membuat Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana Brian bisa tahu kalau mereka memang jarang mengobrol bersama.
"Gas, lo ada pensil nggak? Gue lupa bawa kotak pensil nih," panggil Oci.
Bagas pun dengan sedikit kesal berjalan menuju tasnya.
"Gimana kalau Sisil nanti main ke rumah Bagas aja? Jadi nanti bisa lebih banyak ngobrol sekalian kita latihan bareng?" tanya Brian kemudian saat Bagas sudah menjauh.
Sisil terdiam sejenak. Dia sebenarnya keberatan dengan usulan Brian. Jelas dia tak ingin pergi ke rumah teman cowok yang bahkan tidak begitu dekat dengannya. Apalagi dia perempuan sendiri.
"Kayaknya enggak dulu deh, Kak. Kita latihan di sekolah seperti biasa aja. Kalau masalah ngobrolnya kita juga bisa ngobrol di sekolah juga kan."
"Tapi ini beda, Sil." Brian meletakkan tangannya pada bahu Sisil. Dia mendekatkan wajahnya pada Sisil seolah sedang merundingkan hal yang penting.
"Kalian kan tokoh utamanya. Jelas kalian harus lebih sering banyak latihan dari yang lain. Lo nggak mau kan buat yang lain sedih? Mereka juga sudah berusaha," ucap Brian yang menunjuk beberapa siswa lain yang menyiapkan dekorasi panggung.
Sisil memajukan tubuhnya selangkah agar rangkulan tangan Brian terlepas dari bahunya.
"Kalau gitu Sisil pikirkan dulu, Kak. Soalnya Sisil juga belum izin sama Mama dan Arya."
Alis Brian sedikit terangkat saat sebuah nama dipanggil oleh Sisil. "Arya? Kenapa harus izin Arya? Bukannya Arya pacarnya Dinda?"
"Iya. Tapi Arya juga seperti Kakak bagi Sisil."
Brian mengangguk mengerti. "Ya udah kalau gitu, atau gimana kalau kita latihan lebih lama dari yang lain di sekolah. Nggak harus di rumah juga nggak pa-pa. Dialog kalian itu banyak loh Sil,"
"Sisil pikirkan dulu, Kak."
"Ya udah, dipikir baik-baik dulu. Demi lancarnya pentas juga," ucap Brian menepuk bahu Sisil lembut sebelum kembali menghampiri Oci yang masih berlatih memberi jeda pada kalimatnya.
oOo
Bagi pemeran pendamping latihan ini tak seperti latihan drama yang mereka pikirkan. Bahkan mereka lebih banyak membantu membuat dekorasi dengan anak kelas yang lain.
__ADS_1
Tak terkecuali Ardi, Fany, Lola dan Dinda. Bukannya kesal, bahkan mereka merasa mendekor ternyata seru juga. Bahkan mereka sampai tak sadar waktu berlalu begitu cepat.
Kali ini bukan hanya Arya, tapi Tama juga ikut datang ke aula tempat mereka berlatih. Menandakan bahwa mereka sudah waktunya untuk pulang.
"Pangeran berkuda putih udah muncul aja. Kayaknya kita udah nggak butuh jam deh di sini. Pokoknya mereka datang udah jelas waktunya pulang," ceplos Ardi yang langsung ditoyor oleh Arya.
"Mulut lo dibiarin makin lama makin nggak ada akhlaknya."
"Hehehe. Gimana lagi, Kak. Kan Ardi punya mulut buat ngomong," balas Ardi membela diri.
Tapi bukannya menjemput Dinda, Arya kesini melainkan untuk menjemput Sisil. Karena untuk sekarang Dinda sudah kembali ke tukang ojek lamanya, yaitu Tama.
"Gimana latihannya?" tanya Arya ke Dinda yang masih membereskan peralatan cat.
"Lancar kok, Kak. Karena nggak terlalu banyak dapat dialog, jadi kita bantu-bantu buat dekor."
"Kita sih udah kayak main-main terus. Beda cerita kalau mereka bertiga." Tunjuk Fany pada Brian dan yang lain yang berada di seberang aula.
"Aryaaa!"
Sisil melambai senang saat baru sadar bahwa ternyata Arya sudah datang menjemputnya.
"Kak Tama juga di sini?" tanya Sisil sedikit terengah saat sampai di seberang.
Arya menjitak jidat Sisil sayang. "Ngapain pakai lari-larian. Gue nggak kemana-mana juga."
"Hehehe, ya udah ayo pulang."
"Arya udah datang jemput ya?" tanya Brian sok akrab yang kini juga sudah ikut bergabung bersama yang lain.
Arya hanya membalas Brian dengan senyuman tipis. Arya melirik Sisil aneh saat tiba-tiba saja Sisil meggandeng lengannya erat.
"Yang ini?" tanya Brian menunjuk ke arah Tama.
"Tama, Kakaknya Dinda."
Brian menyambut uluran tangan Tama dengan ramah.
"Ya udah kalau gitu. Karena udah waktunya pulang, kita beresin semuanya terus langsung pulang ya."
"Siap, Kak."
__ADS_1
...oOo...
Arya memasukkan montornya ke dalam garasi bersama Sisil yang masih ada di jok belakang.
Karena kemarin Sisil tak ikut makan malam, jadi hari ini Mama Arya memaksa Sisil untuk ikut makan siang di rumahnya.
Arya meletakkan helm yang diberikan Sisil kepadanya. "Gimana latihannya tadi? Lancar?"
"Lancar."
"Nggak ada masalah, kan? Gimana sama Brian? Dia baik nggak sama lo dan yang lain?"
Sisil jadi terdiam sejenak. Dia seperti sedikit menimang entah akan bercerita kepada Arya atau tidak. Sebenarnya dia ingin bercerita ke mamanya terlebih dahulu.
"Sebenarnya Sisil nggak terlalu suka sama Kak Brian."
"Nggak sukanya kenapa?" Selidik Arya. Sebenarnya Arya pun juga tidak terlalu suka sama cowok itu. Tapi sepertinya alasan mereka sedikit berbeda.
"Nggak tahu cuma perasaan Sisil aja atau gimana. Rasanya Brian itu suka megang-megang Sisil."
"Megang-megang gimana?"
"Cuma ngerangkul sih, tapi Sisil ngerasanya risih. Sisil ngerasa nggak nyaman aja di rangkul sama Kak Brian. Tadi juga dia nyaranin buat tambah jam latihan Sisil dan Bagas. Katanya kita kurang kemistri. Sisil disuruh main ke rumah Bagas, tapi Sisil tolak. Terus dia nyaranin lagi buat tambah jam sepulang sekolah, tapi Sisil tetep nggak mau. Tapi kata Kak Brian nanti dramanya bisa jadi jelek kalau kita nggak latihan bener-bener." Jelas Sisil yang wajahnya sudah hampir menangis.
Arya mendekap Sisil sayang. "Udah nggak usah sedih, lo udah ngelakuin hal yang bener kok."
Sisil mengangguk dalam pelukan Arya.
"Besok gue temenin latihan dramanya, ya?"
Sisil melepaskan pelukannya dan menatap Arya bingung. "Emangnya Arya nggak ada lomba?"
"Udah selesai. Udah menang juga. Gue bosen ngurusin osis terus, mau bolos aja."
"Yee, dasar. Bilang aja mau ketemu Dinda."
"Iya juga, sama itu juga," tambah Arya yang kini mulai tersenyum lebar.
"Dasar Arya bucin!" ucap Sisil kemudian berlari masuk ke dalam rumah
...oOo...
__ADS_1