Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
39


__ADS_3

Sebulan lagi SMA 13 tempat Dinda bersekolah akan menyelenggarakan ulang tahun yang ke 63.


Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua kelas akan disibukkan dengan persiapan lomba, pensi serta bazar.


Kini Oci selaku ketua kelas Dinda sudah berada di depan kelas untuk memimpin persiapan kelasnya.


"Oke jadi lomba basket dan voli gue serahin sama Zain ya. Siapa yang ikut lomba vocal sama hias tumpeng?"


"Gue sama Prita aja, Ci." Siswi yang mengangkat tangan pun langsung dicatat oleh Oci di depan kelas.


"Oke. Udah semua ya berarti. Terus rencana kita mau buat pensi sama bazar apa nih?"


"Gimana kalau bazarnya bikin rumah hantu aja?" usul Yoga.


"Tapi kita udah buat itu tahun kemarin. Ganti yang lain kek." Tolak Ardi mentah-mentah.


Masalahnya teman-teman sialannya ini selalu menunjuknya menjadi hantu. Dan Ardi tidak akan mau hal sama terulang lagi.


"Samain tema pensi ajalah. Biar nggak repot," usul Fany yang diiyakan oleh sebagian siswa.


"Gimana kalau pensinya kita buat drama aja. Kakak gue ikut teater di kampusnya. Ntar gue minta tolong buat ngajarin kita deh," ucap Bagas menawarkan.


"Boleh juga tuh. Ide bagus, ide bagus. Sekarang kita mau buat drama apa dulu nih? Ada usul nggak?" tanya Oci lagi.


"Cinderella aja deh. Sisil aja yang jadi Cinderellanya," usul Bagas yang langsung diberi tepuk tangan oleh yang lain.


"Setuju gue. Kalau yang main Sisil drama apa aja kayaknya bakal bagus-bagus aja." Puji Tomy.


Karena melihat Sisil yang hanya diam sambil tersenyum, Oci menganggap Sisil sudah setuju dengan usulan yang lain.


"Oke. Kalau gitu pangerannya sekalian Bagas aja deh."


"Kok nggak gue, Ci?" ucap Tomy keberatan.

__ADS_1


Memang bukan rahasia lagi kalau Bagas dan Tomy menyukai Sisil. Walaupun begitu, keduanya tak ada yang bermusuhan. Mereka selalu bersaing secara sehat.


"Nggak usah gue jawab ya, Tom, gue takutnya lo sakit hati sama jawaban gue."


Tomy hanya manyun kesal. Walaupun di kelas mereka tidak ada wajah-wajah seperti Arya maupun Tama, setidaknya Bagas masih bisa sedikit diperhitungkan. Walaupun sebenarnya Tomy tidak ingin mengakui itu.


"Udah-udah, sekarang siapa yang mau jadi keluarganya Cinderella?"


"Ardi aja tuh cocok jadi ibu tiri."


"****** lu ye! Enak aja gue dibilang ibu tiri! Enggak! Gue mau jadi ibu peri aja."


"Nggak masalah sih. Kalau gitu Fany yang jadi ibu tiri, Lola sama Dinda jadi saudara tirinya ya?" ucap Oci sambil menulis nama mereka di papan tulis.


"Eh, ngarang ni anak. Enggak mau gue," ucap Fany keberatan. Lola dan Dinda juga mengatakan hal yang sama.


"Ada yang nggak setuju sama pemain teater kita?"


"Enggaaaaakkkkk," jawab seluruh siswa serentak. Masalahnya mereka tak ada yang ingin jadi pengganti mereka.


Oci mengetuk spidol pada meja. "Udah ketok palu. Jadi, sorry udah nggak bisa diganti lagi."


Fany melirik Ardi yang santai-santai saja tanpa ada pembelaan. Jelas saja, perannya cukup bagus.


Tapi Fany tak bisa melawan anak dikelas tanpa Ardi. Bahkan dia tak bisa mengharapkan bantuan dari Dinda dan Lola.


Fany akhirnya hanya meredam kesalnya dan memilih kembali duduk.


"Oke. Jadi kita kapan bisa mulai latihannya, Gas?" tanya Oci memastikan dengan jadwal guru teater.


"Gue udah ngabarin kakak gue. Nanti kabar kelanjutannya gue kabarin lewat chat."


"Oke deh. Kalau gitu bazar kita bikin cafe disney aja ya. Biar pas sama pensi, gimana?" jelas Oci mengusulkan.

__ADS_1


"Seru tuh kayaknya. Jadi yang pakai baju princess bukan cuma yang main drama aja, yang lain juga ikut," balas Fany menggebu-gebu.


"Iya, nanti kostumnya kita pinjem anak teater. Gampang gue kenal ketuanya," ucap Oci bangga.


"Tapi kostumnya bikin gerah nggak sih nanti. Apalagi kita bakal banyak gerak," balas Tomy tak setuju.


"Tapi sepertinya seru kok. Nanti Sisil buatin kue untuk menunya. Jadi ada meja kusus buat ngeteh para princess gitu," ucap Sisil yang tiba-tiba saja menjadi semangat. Padahal sedari tadi dia hanya diam.


"Boleh, boleh banget kalau Sisil mau buat kuenya," ralat Tomy akhirnya. Kapan lagi dia bisa makan kue buatan Sisil.


"Yeee.. giliran di Acc Sisil aja langsung mau."


Tomy hanya tersenyum kotak menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Oke. Jadi semua udah beres ya. Tinggal tunggu jadwal latihan drama aja."


"Oh sebentar, gue ada ide lain," tambah Tomy menggebu-gebu.


"Iya gimana-gimana?" tanya Oci antusias ikut tersalur energi semangat Tomy.


Oci paling senang kalau yang lain antusias, karena dia tak harus bergerak sendiri. Jadi pekerjaannya bisa jauh lebih ringan.


"Gimana kalau kita buat sesi foto juga? Pasti kan banyak yang mau foto sama karakter-karakter disney."


"Topcer. Ide bagus itu. Tumben otak lo jalan, Tom," ucap Oci sambil melempar tutup spidol ke arah Tomy dan menulis ide cemerlang Tomy besar-besar di papan tulis.


Beruntung Tomy dengan sigap menghindar sehingga tutup spidol itu menggelinding entah kemana.


"Sip. Pasti tahun ini kelas kita yang jadi paling membagongkan. Semoga kita bisa jadi juara umum. Kan lumayan hadiah sama poinnya. Jadi bagi yang namanya udah tertulis di papan mohon tanggung jawabnya ya guys. Hidup kelas kita ada ditangan kalian. Semangat semua pokoknya."


"Siap bos!" balas beberapa siswa bersamaan.


Maka dengan itu Oci menutup rapat dadakan kelas mereka.

__ADS_1


...oOo...


__ADS_2