Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
34


__ADS_3

"Arya kok lewat situ? Nggak ikut Sisil ke kelas?" tanya Sisil bingung saat melihat Arya tak berjalan disebelahnya.


"Enggak deh, kali ini gue absen nganterin lo ke kelas. Ada PR yang belum selesai," bohong Arya.


Padahal sebenarnya dia sedang dalam misi menghindari Dinda dulu.


"Udah ya, gue duluan. Entar kalau ada yang ngajak ngobrol nggak usah lo tanggapi".


Sisil mengangguk mengerti. Kemudian berjalan ke arah lorong menuju kelasnya.


Beberapa siswa dari kelas lain tak berhenti menyapa Sisil. Bahkan diantaranya ada yang menanyakan kemana Arya.


Walaupun Sisil anak pindahan, tapi dia termasuk siswa yang banyak dikenal diseluruh angkatan di sekolahnya.


Bagaimana tidak? Parasnya yang cantik, polosnya dia dan kedekatannya dengan Arya yang membuat pasangan fenomenal sekolah putus menjadi salah satu alasannya banyak dikenal.


Walaupun sebenarnya Sisil sendiri tak mengenal nama-nama mereka. Dia hanya tersenyum menanggapi sapaan ramah dari yang lain.


"Tumben sendiri, Sil? Kak Arya nggak masuk ya?" tanya seorang cewek yang satu angkatan dengan Sisil tapi beda kelas.


"Masuk kok. Arya udah ke kelas duluan."


"Kalian lagi berantem ya?"


"Enggak kok. Emangnya kenapa?"


"Soalnya tumben banget Kak Arya nggak nganter pacar tersayangnya ke kelas."


"Pacar? Siapa? Dinda?"


"Kok Dinda. Elo dong."


"Sisil bukan pacarnya Arya kok. Kita nggak pacaran."


"Hah? Kalian udah putus?"

__ADS_1


"Enggak putus. Sisil dan Arya nggak pernah pacaran sama sekali. Kita kayak kakak adik aja."


"Serius? Bohong banget. Kalian nggak pernah pacaran?" ucapan cewek itu yang cukup lantang membuat yang lain berbondong mendekat ke arah Sisil.


Sisil menggeleng cepat membalas pertanyaan si cewek.


"Tahu gitu gue tancap gas aja deketin Kak Arya," ucap seorang cewek lain dari kelas itu.


"Tapi kan Arya udah ada Dinda," balas Sisil polos.


"Mereka udah putus lama kan?" timpal cewek itu lagi.


"Eh tapi gue denger-denger Dinda masih ngejar Kak Arya. Jangan-jangan pengen minta balikan," ucap yang lain menimpali.


"Berarti Sisil jomblo dong. Lagi cari pacar nggak nih?" tanya seorang cowok yang lama-lama membuat Sisil risih juga disana.


"Ya udah. Sisil balik ke kelas dulu ya guys."


Sisil kemudian pergi menjauh dari kelas itu. Padahal mereka masih terus memanggil namanya. Tapi Sisil tak ingin lagi menanggapi mereka.


Tapi sekarang dia merasakan apa yang dirasakan Arya selama ini. Ternyata rasanya cukup melelahkan juga.


...oOo...


Ardi sudah lelah dengan segala masalah Dinda. Padahal bukan dia yang merasakan tapi rasanya jadi ikut capek.


Masih pagi-pagi sekali dan wajah Dinda sudah mendung saja. Wajah Dinda dan langit pagi hari ini sudah 11 12 sama gelapnya.


Sebenarnya Dinda belum menceritakan apapun. Tapi Ardi sudah bisa menduga apa inti dari masalahnya. Karena tumben juga Kak Arya tidak mengantar Sisil ke kelas hari ini. Sudah pasti Kak Arya sedang menjauhi Dinda.


"Lo kenapa lagi sih, Nyuk?"


"Siapa 'Nyuk'?" tanya Lola bingung. Karena setahunya tidak ada yang bernama Nyuk dikelasnya.


"Nih. Temen kita satu nih, si Kunyuk. Heran banget belum juga jadian tapi masalahnya udah ngalah-ngalahin prahara rumah tangga aja. Heran gue."

__ADS_1


"Ardi lo jahat banget sih akhir-akhir ini sama gue," ucap Dinda semakin sedih.


"Mau gimana lagi. Rasa kasihan gue juga ada batasnya sama lo. Bisa nggak sih lo suka sama orang lain aja. Heran galau mulu perasaan."


"Ada apa nih? Pagi-pagi udah pada ribut aja," ucap Fany yang baru datang. Memang anak yang satu ini selalu suka berangkat mepet jam masuk.


"Nih, temen lo atuh nih. Hidup tiap hari galau aja kerjaannya. Nggak ada bagus-bagusnya. Update kebahagiaan dikit kek sekali-kali," ucap Ardi sewot.


"Lo kenapa sih, Di? Lagi PMS apa gimana?" tanya Fany pada Ardi.


Sebenarnya mereka juga udah pada tahu bagaimana sifat Ardi, yapi tumben hari ini mulut Ardi level up jauh lebih tajam dalam mengkritik.


"Efek patah hati kali," jawab Lola asal


"Ohh.. lo masih patah hati perkara Kak Tama kemarin? Ya udah sih, terima aja."


"Lo pada jahat banget ya sama gue. Dinda galau aja dihibur terus. Giliran gue kalian lepehin gitu aja. Dasar!" balas Ardi tambah sewot.


"Ya gimana kita mau bantu. Percintaan lo sih udah jelas nggak tertolong. Mending nolong Dinda yang masih ada harapan, iya nggak Din?"


"Tapi, Fan. Gue kali ini kayaknya udah nggak ada harapan deh," ucap Dinda dengan mata berkaca-kaca.


"Lah, kenapa lo nangis. Aduh.. gimana nih anak orang nangis. Cerita Dinda, kenapa lo nangis?"


"Tapi udah mau bel masuk. Entar nggak enak ceritanya kepotong. Ntar pas jam pelajaran gue mewek gimana?"


"Apa kita bolos aja ya? Kita ke UKS deh."


"Kan nggak mungkin ke UKS berempat?" balas Lola ada benarnya.


"Ya udah istirahat nanti deh. Ntar lo kalau nggak tahan langsung izin sakit aja ke UKS ya," ucap Fany menenangkan.


Dinda mengangguk sambil mengusap air mata yang tak jadi keluar.


...oOo...

__ADS_1


__ADS_2