Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
49


__ADS_3

Pengumuman kelulusan sudah dekat. Tama dan Putri semakin sulit untuk bertemu karena Putri sudah akan naik ke kelas tiga. Apalagi mengingat sekolah Putri yang benar-benar ketat dengan nilai.


Merasa ingin fokus pada sekolahnya, akhirnya Putri memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya.


Lagipula Putri berpikir ini keputusan yang terbaik mengingat Tama juga akan masuk ke perguruan tinggi.


Walaupun Tama mengaku belum menentukan pasti dimana dia akan melanjutkan sekolahnya, Putri hanya tak ingin menjadi beban untuk Tama.


Dan juga Putri merasa hubungan keduanya tidak ada perkembangan sama sekali.


Putri sempat merasa bahwa Tama menerima perasaannya hanya karena tak bisa menolaknya.


Benar. Bukan Tama yang memulai hubungan keduanya, melainkan dirinya.


Sudah lama Putri menyukai Tama. Dia juga selalu berusaha berbagai cara agar mereka bisa saling berkomunikasi. Tak perduli bagaimana ketat keluarganya dalam hal percintaan anaknya.


Putri tahu semua larangan dan kekolotan kedua orang tuanya tak lebih untuk kebaikannya. Tapi setidaknya sekali saja dia ingin merasakan rasanya seperti anak SMA lain.


Sudah cukup untuk menentukan sekolah, tempat les, jam tidur dan belajar serta makanan yang harus masuk ke mulutnya. Pertahanannya hanya cukup untuk melakukan semua itu. Selebihnya akan Putri tangani dengan caranya sendiri.


"Putri! Apa benar kamu pacaran?! Papa nggak suka ya kamu ngelakuin hal nggak penting seperti itu! Nilaimu bisa turun!"


"Papa tenang aja. Sisil udah putus kok. Dan juga nilai Sisil nggak pernah turun, Pa. Jadi Papa nggak perlu khawatir," ucap Sisil sambil masuk ke kamarnya. Menghiraukan amarah papanya diluar sana.


Putri merasa sangat lelah dengan semua ini. Sampai kapan dia bisa bertahan agar tidak gila?


Setidaknya waktu singkatnya bersama Tama dapat mengobati dan membantunya bertahan untuk lebih lama lagi.


...oOo...


Setelah acara sekolah selesai, nilai semester juga sudah keluar. Bagi siswa yang mendapat nilai dibawah KKM harus mengulang untuk membantu nilai raport mereka.


Beruntung Sisil tak harus melakukan remidi karena nilainya tak ada yang di bawah KKM. Walaupun banyak dari nilainya yang rata-rata. Setidaknya dia tidak harus repot mengulang.


Lagipula Sisil juga tak sepintar itu untuk bisa mendapatkan nilai tinggi disetiap ujiannya.


"Sisil remidi berapa?" tanya Oci penasaran sambil berusaha mengintip lembar jawab Sisil.


Sisil menggeleng pelan, "Sisil lulus semua kok nilainya, Ci."


"Woahhhh, Sisil nggak ada remidi sama sekali guys. Keren pol!" teriak Oci yang berhasil membuat seisi kelas heboh.


"Ternyata Sisil diem-diem pinter," ucap Tomy yang hanya membuat Sisil tersenyum tipis.

__ADS_1


'Ya, tapi masih nggak sepintar Putri,' ucap Sisil pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja guru masuk untuk melakukan remidi. Bagi siswa yang nilainya lolos bisa keluar kelas dan melakukan apapun sesuka mereka.


Tentu saja kebanyakan dari mereka memenuhi kantin dan beberapa juga bermain basket di lapangan.


Sedangkan Sisil hanya memilih duduk di bawah pohon taman sekolah. Matahari hari ini cukup terik, membuat beberapa siswa lain enggan untuk duduk dan menikmati suasana taman.


Tapi setidaknya Sisil tak harus membakar kulitnya dibawah sinar matahari karena pohon dibelakangnya cukup rindang untuknya berteduh.


Sisil bertanya pada dirinya sendiri. Akankah dia merindukan sekolah ini? Padahal dia baru saja dekat dengan Oci, tapi sayangnya dia harus mengucapkan perpisahan pada teman-teman kelasnya secepat ini.


...oOo...


'Dinda ke rumah ya, Kak. Penting.'


Baru Tama membaca chat Dinda tapi adiknya itu sudah berada di rumahnya dengan mengetuk tak sopan pada pintu kamarnya.


Tama membuka pintu itu sebelum Dinda semakin membuat keributan yang bisa membuat kucing tetangga beranak.


"Selamat atas kelulusannya," ucap Dinda sambil memberikan kotak dengan hiasan pita mirah di atasnya.


Tama menerima kotak itu dan membuka isinya yang ternyata topi rajut dengan warna coklat.


Tama menggeleng kecil. "Kalau Arya tahu kamu masuk sembarangan ke kamar cowok gini, bisa ngamuk dia."


"Biarin, lagian udah lama Dinda nggak tidur di sini."


Benar. Semenjak Dinda tahu bagaimana perasaannya pada Tama, dia sama sekali tak berani datang ke rumah ini. Apalagi masuk ke dalam kamar Tama.


Padahal mereka dulu sangat dekat, bahkan Dinda kecil selalu suka menginap disini. Mengenang masa lalu benar-benar menyenangkan.


Dinda mengamati sekeliling kamar. Seperti dugaannya, tak ada yang berubah di sini.


Hingga Dinda menatap wajah Tama yang tampak tak bahagia.


"Mas, nggak suka sama kadonya?"


"Suka, kok."


"Mas dapat kado kelulusan apa dari Putri?" tanya Dinda antusias.


Tama menggeleng pelan. "Nggak dapat, lagian kita udah putus."

__ADS_1


"Hah?! Kok bisa?"


"Ya bisa."


"Pantesan wajah Mas minta dikasihani gitu, ternyata patah hati toh."


Tama menjitak dahi Dindabkeras, membuat Dinda merintih kesakitan karenanya.


"Sakit, Mas." Dinda mengusap dahi bekas jitakan Tama tadi.


"Bukan gara-gara Putri, kok. Lagian kita juga putus baik-baik. Nggak ada yang perlu disesali."


"Terus gara-gara siapa? Sisil?"


Tama menatap Dinda takjub karena bisa tahu secepat itu alasan sebenarnya dia galau.


"Mas nggak mau Sisil balik ke Kalimantan?"


"Tapi itu udah jadi pilihan dia kan."


"Yakin nanti nggak kangen? Jangan sampe nyesel ya kalau orangnya udah nggak disini."


Tama menatap Dinda tak mengerti.


"Kalau suka bilang aja suka. Kalau nggak mau Sisil pergi bilang aja jangan pergi. Kan Mas juga yang ajarin Dinda gitu. Nggak boleh ditahan-tahan. Nggak baik."


Tama tersenyum sambil mengacak rambut Dinda gemas. Dia lupa adiknya ini sudah menjadi lebih dewasa.


"Jadi?" goda Dinda menanyakan keputusan Tama yang sepertinya sudah tahu apa yang ingin dilakukannya.


"Pulang."


"Hah?" jawab Dinda bingung.


"Kamu pulang, udah malem. Dan makasih buat kadonya. Udah sana, Mas mau tidur."


"Ya ampun, ini baru jam 8 udah mau tidur."


"Ya udah main di kamarmu sendiri sana."


Dengan wajah kesal Dinda keluar dari kamar Tama sambil menggerutu kesal.


...oOo...

__ADS_1


__ADS_2