Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
20


__ADS_3

Dinda duduk di barisan terdepan bersama teman-teman sekolahnya. Hati Dinda terasa berdebar untuk saat ini.


Hari ini adalah hari yang paling dinanti Dinda. Karena dia akan menyemangati dua orang sekaligus.


Hari dimana Dinda tak perlu perlu repot-repot menatap Arya diam-diam.


Dinda tertawa sejenak merasakan dirinya yang sekarang. Kejadian salah paham saat MOS telah menjadi kenyataan.


Sekarang dia benar-benar menyukai Arya dan juga menjadi stalkernya. Dinda sudah benar-benar tergila-gila dengan Arya.


Bahkan sekarang Dinda tengah menyiapkan kamera untuk memotret pertandingan anak basket. Tentu saja wajah Arya akan memenuhi memorinya nanti.


Tak akan ada yang menyadari sikap lancangnya ini karena Dinda merupakan salah satu anggota klub jurnalistik.


Semua orang pasti mengira Dinda sedang meliput momen untuk bahan berita di majalah sekolahnya.


Bisakah Dinda berteriak sekarang. Ya tentu saja bisa. Jika yang lain berteriak karena sekolahnya mencetak angka, Dinda akan berteriak karena mendapatkan foto Arya yang menurutnya sangat W.O.W.


Ingatkan Dinda untuk memindahkan foto Arya yang berhasil dia jepret sebelum menyerahkannya kepada ketua tim jurnalistik. Dia tak ingin orang lain menikmati gambar Arya dalam jepretannya.


Mendengar Arya yang memiliki status jomblo membuat fans Arya di angkatan Dinda semakin banyak.


Banyak dari mereka yang ingin bernasib sama dengan Dinda. Mereka juga ingin berpacaran dengan kakak kelasnya itu.


Padahal dulu Dinda dan Arya merupakan couple goals diantara angkatan Dinda. Banyak yang mengatakan bahwa mereka cocok.


Apalagi cerita cinta mereka yang menurut sebagian orang seperti cerita novel.


Semua warga sekolah tahu tentang hubungan keduanya. Bahkan disudut bagian sekolah sekalipun. Tak hanya siswa, beberapa guru juga tahu kalau mereka berpacaran.


Tak ada guru yang mempermasalahkan tentang hubungan mereka, karena keduanya merupakan siswa berprestasi.


Bahkan keduanya didaulat sebagai pasangan yang patut dicontoh karena walaupun berpacaran keduanya tetap bisa berprestasi.


Tapi semuanya sudah berakhir. Banyak yang menyayangkan hubungan keduanya berakhir.


Kabar terakhir yang tengah beradar adalah bagaimana mereka bisa putus. Entah siapa yang memulai, tapi mereka mengatakan alasan keduanya putus adalah Arya memilih fokus pada kegiatan osisnya dan Dinda ingin fokus pada tim jurnalistik yang memang akhir-akhir ini banyak kegiatan diluar sekolah.


Dinda tak tahu semua itu karangan dari siapa. Dia hanya tersenyum saat mereka menanyakan perihal putusnya hubungan keduanya.

__ADS_1


~oOo~


Empat puluh menit berlalu begitu cepat. Sekolah Dinda berhasil memenangkan pertandingan, tapi ini belum berakhir karena baru melewati babak penyisihan. Setidaknya mereka sudah masuk di babak semi final.


Dinda berlari turun dari kursi penonton. Dia bergegas memeluk Tama dan memberi ucapan selamat.


Dinda berusaha mencari sosok orang dari kerumunan tersebut. Tama yang mengerti siapa orang yang Dinda cari mengarahkan adiknya itu untuk menatap pintu keluar di mana bayangan Arya terakhir terlihat.


Dinda tersenyum kepada Tama kemudian menyusul bayangan yang sudah menghilang itu.


Benar sekali. Arya memang sedang berada di luar gedung. Dia terlihat tengah melakukan panggilan dengan seseorang.


Dinda tersenyum riang sambil menghampiri Arya. Dinda memiliki tekat kuat untuk mengakhiri segalanya. Dia ingin menghancurkan aura canggungnya dengan Arya. Dinda tak bisa menahannya lebih lama lagi.


“Iya, thanks. Gimana sekolahnya?”


“....”


“Gue juga baik. Iya nanti kalau liburan gue main ke Manado.”


“....”


Langkah Dinda berhenti sejenak. Dia menyembunyikan kotak kecil yang awalnya akan diberikan kepada Arya di balik punggungnya.


Karena merasakan kehadiran orang lain, Arya berbalik menghadap Dinda. “Sudah ya, nanti gue telepon lagi.” Arya memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


Arya menatap Dinda sebentar. Dia tak mengerti dirinya yang tiba-tiba saja membuang muka saat mata mereka bertemu.


Kenapa Dinda harus menemuinya sekarang. Arya sedang tak ingin bertemu dengan Dinda untuk saat ini.


“Hai..” sapa Dinda canggung sambil melambaikan tangan kanannya pelan.


“Hai..” balas Arya sama canggungnya yang kini sudah menghadap Dinda, tapi tak berani menatap ke arah matanya.


Dinda mengulurkan tangannya di depan Arya. “Selamat ya.”


Arya membalas uluran tangan Dinda. “Thanks.”


Setelah itu tak ada yang bersuara. Arya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sungguh dia merasa tak nyaman dengan suasana canggung ini.

__ADS_1


“Sorry ya nggak bisa ikut jelasin semuanya ke Tama.” Akhirnya Arya memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Dinda mengangguk mengerti. “Gue denger lo kena pukul Mas Arya, nggak pa-pa?” tanya Dinda khawatir sambil berusaha memeriksa wajah Arya.


Tama memang sempat memukul Arya setelah pulang dari Manado. Tapi mereka tak sampai bermusuhan. Buktinya tim basket menang juga tak luput dari kerja sama keduanya.


“Gue nggak pa-pa. Tama mukulnya pelan kok.. ah, bisa nggak lo manggil Tama, Mas Tama aja. Gue bingung dengernya kalau lo manggil Tama, Mas Arya. Berasa lo manggil gue pake panggilan Mas,” pinta Arya.


Dinda tersenyum senang. Dia senang mendengar Arya berbicara sepanjang itu padaya.


“Nggak bisa, gue udah terbiasa manggilnya Mas Arya, rasanya aneh kalau diganti jadi Mas Tama.”


Wajah Arya sudah tak setegang awal mereka bertemu tadi.”Tapi gue yang ngerasa aneh,” balas Arya.


“Bodo amat. Kan yang penting kenyamanan gue.” Dinda masih tak mau mengalah.


“Terserah lo deh, dasar keras kepala.”


Arya mendorong pelan dahi Dinda dengan jari telunjuknya.


Dinda membalas dengan tepukan dilengan Arya. “Enak aja. Ini tu namanya bukan keras kepala, tapi konsisten.”


“Iya nona Alien, saya mengalah,” ujar Arya sambil mengejek Dinda membuatnya dihadiahi pukulan bertubi-tubi dari Dinda.


Dinda tak ingin jauh dari Arya lagi. Menjadi teman bukanlah ide yang buruk. Bohong jika Dinda tak menginginkan lebih dari sekedar teman. Tapi dia cukup bersyukur dengan hal itu.


Asalkan Arya masih berada di dekat Dinda maka status hubungan tak akan menjadi masalah baginya.


Dinda merasa cinta itu aneh, kita bisa merasa bahagia saat terluka hanya dengan melihat orang yang kita cintai bahagia.


Cinta itu gila, terkadang kita merasa ingin mati dan juga ingin lebih lama hidup dalam waktu yang bersamaan.


Cinta itu sesuatu yang berada di depan kita, tapi sangat sulit untuk diraih.


Cinta itu rumit, tak akan ada rumus yang mampu menjelaskan dan memecahkannya.


Maka dari itu berbahagialah kalian yang pernah merasakannya. Lebih baik merasa disakiti oleh cinta daripada tidak sama sekali dan menjadi kosong.


~END~

__ADS_1


Season 1 selesai. Nggak berasa udah 20 bab aja :)


Terimakasih banyak buat yang udah baca cerita sederhana ini sampai akhir. Bye bye :)


__ADS_2