Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
28


__ADS_3

Dinda masih menatap Arya bingung setelah dibawa ke gedung belakang sekolah.


"Gue mau ngomong sebentar."


Dinda hanya mengangguk mengerti. Kemudian kebingungannya berakhir. Dia jadi teringat kembali kejadian kemarin malam.


Dinda merutuki dirinya sendiri. Sial. Air matanya kembali menggenang.


"Hey," ucap Arya lembut sembari menghapus air mata Dinda dengan ujung jarinya.


Melihat Dinda menangis membuat Arya tak lagi punya kekuatan untuk menjelaskan. Dia hanya ingin memeluk Dinda.


Dia ingin Dinda membagi rasa sakitnya dan Dinda tak harus menderita sendiri.


"Tenang, semua bakal baik-baik saja. Tenang, gue nggak akan pernah tunangan ataupun nikah sama Sisil," ucap Arya sembari memeluk dan mengusap kepala Dinda. Mencoba menenangkan.


Dinda masih membekap dirinya dalam pelukan Arya. Dia tak ingin wajah jeleknya saat menangis dilihat oleh Arya.


"Tapi kan orang tua kalian udah setuju. Lo mau jadi anak durhaka, uh?" tanyanya masih dalam pelukan Arya.


"Gue nggak bakal jadi anak durhaka. Lagian gue sama Sisil kan nggak saling suka. Gue tuh sukanya sama elo. Jadi nggak mungkin mereka akan nerusin perjodohan ini."


"Tapi... Tapi, gimana kalau orang tua lo tetep maksa."

__ADS_1


"Kalaupun penolakan gue gagal, masih ada cara lain. Lo tahu kan gimana orang tua gue sesayang apa sama Sisil. Mereka akan nuruti semua keinginan Sisil, termasuk batalin perjodohan."


"Makanya gue udah kayak kacungnya Sisil aja sekarang. Hidup gue juga bergantung sama dia."


Akhirnya Dinda meredakan isakannya. Dia mengelap kasar air matanya. Melihat itu Arya membuat Dinda menatap wajahnya. Perlahan dia membantu Dinda mengusap air matanya.


Bodohnya Arya yang lupa bawa tisu tadi. Dia jadi merasa ingin lari ke warung belakang untuk membeli tisu, tapi dia juga tak mungkin meninggalkan Dinda sendirian disini.


Arya hanya bisa mengusap kepala Dinda sayang. Menunggu sampai isakan itu benar-benar berhenti dan mereka duduk di bangku-bangku tak terpakai yang sengaja di tempatkan di sana.


"Gue nelponin lo terus kemarin, tapi nggak lo angkat atau lo bales sama sekali. Gue kira lo marah sama gue."


Mendengar itu Dinda langsung merasa gelagapan. Tapi mau bohong gimana, orang Arya juga sudah melihatnya menangis.


"Nggak mungkin kan lo nangis semaleman?"


Dinda hanya diam. Arya membuang nafasnya panjang lalu kembali memeluk Dinda.


"Sorry, setelah ini gue nggak akan pernah buat lo nangis lagi."


"Tapi ini bukan salah lo juga."


"Tetep aja, harusnya gue nggak buat lo denger kata-kata yang buat lo sedih kayak gini."

__ADS_1


Dinda hanya terus menggeleng dalam pelukan Arya. Dinda merasa semua ini bukan salah Arya. Kejadian ini diluar tanggung jawabnya. Jadi dia sedih bukan karena Arya, hanya keadaan yang membuatnya menjadi sulit.


Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Dinda yang pertama melepaskan pelukan keduanya. Belum lama menjauh Arya sudah memeluknya kembali.


Dinda sedikit terkejut. Kalau tadi karena dia sedang menangis dia jadi tak terlalu kepikiran. Tapi sekarang setelah pikirannya sudah jelas, kenapa jantungnya tidak baik-baik saja saat dipeluk Arya seperti ini.


"Din, apa kita bolos aja ya?"


Dinda melepaskan pelukan keduanya dengan sedikit mendorong Arya menjauh. Tak lupa dia mencubit Arya gemas. Sampai Arya meringis kesakitan dibuatnya.


"Nggak usah aneh-aneh. Tadi lo narik gue aja nggak tahu deh temen-temen ngomong apa. Gimana kalau ditambah bolos. Lagian lo kan anak osis, anak basket juga. Malah ngasih contoh yang nggak bener... bla... bla..."


Arya tersenyum mendengar semua kalimat Dinda. Kalau Dinda sudah ngomong tanpa rem seperti ini tandanya dia sudah baik-baik saja. Dia tak perlu khawatir lagi.


Bug. Dinda memukul tangan Arya keras.


"Apa? Kenapa?"


"Kok lo senyum-senyum sih, gue lagi nasehatin lo ini. Didengerin nggak?"


"Iya ini sambil dengerin. Ya udah ayo balik ke kelas kalau nggak mau bolos."


Kemudian dengan wajah masih kesal Dinda berjalan di sebelah Arya. Sesekali dia masih mengomel dan Arya akan membalas iya disetiap kalimat Dinda.

__ADS_1


oOo


__ADS_2