
Hari H pun akhirnya sudah di depan mata. Pagi ini mereka baru saja melakukan gladi bersih di panggung pensi.
Semuanya terasa lancar karena kursi gedung tempat pensi belum terisi penuh oleh penonton.
Ardi yang awalnya santai dan selalu menjadi tim hore teman-temannya, sekarang jadi ikut gugup setelah merasakan berada di atas panggung.
"Di, diem-diem aja lo. Nanti kesambet baru tau rasa," ucap Fany sambil menjentikkan jari di depan wajah Ardi.
Ardi menampik tangan Fany pelan. Tak mau jujur jika dia sedang demam panggung.
"Diem dulu, Fan."
"Lo lagi nggak enak badan ya?"
Ardi menggeleng pelan yang semakin membuat Fany bingung dan terheran kenapa temannya berubah jadi pendiam begini.
"Din, kok Ardi jadi pendiem gini sih. Jangan-jangan kesambet beneran. Padahal tadi sebelum naik ke panggung dia masih cerewet kayak biasanya," tanya Fany menyenggol bahu Dinda pelan.
Dinda menatap Ardi yang duduk diam sambil sambil menunduk menggenggam kedua tangannya.
"Lo demam panggung, Di?" tanya Dinda pada Ardi yang sedang duduk terdiam di dekat tangga panggung.
Bukannya jujur, Ardi hanya menggeleng kepala.
"Ardi sakit ya?" tanya Lola kemudian.
"Enggak, gue nggak pa-pa. Tenang aja guys, gue oke," bantahnya.
"Ada apa nih?" tanya Oci yang melihat perdebatan kecil mereka dari jauh.
"Ini nih Ardi. Kayaknya lagi nggak enak badan," jelas Fany yang membuat Oci jadi panik.
"Serius, Di?"
Ardi menggeleng pagi. "Gue oke, Ci. Jangan percaya sama Fany."
"Kalau nggak enak badan beneran langsung ngomong loh. Kesehatan lo yang utama."
"Sumpah gue nggak pa-pa. Kurang air aja kali. Nanti habis minum juga oke lagi. Udah nggak usah lebay kalian semua."
"Kalau gitu ini minum dulu." Dinda mengulurkan air mineral gelas kepada Ardi.
__ADS_1
"Oke deh kalau gitu, pokoknya kalau ada yang ngerasa nggak enak langsung ngomong," ucap Oci setelah Ardi menghabiskan air yang diberikan Dinda. Kemudian dia bergegas ke arah gerombolan teman-temannya yang lain.
"Guys kalau ada yang nggak enak badan langsung ngomong ya, nggak usah ditahan," ucap Oci dihadapan mereka.
"Oke, Ci. Siap."
...oOo...
Setelah beberapa kelas lainnya tampil kini giliran urutan kelas Dinda yang dipanggil untuk tampil.
Beberapa anak yang sebelumnya merasa gugup jadi tak lagi merasa ketakutan saat melihat akting Sisil dari samping panggung.
Akting Sisil benar-benar mencuri perhatian semua mata termasuk teman sekelasnya sendiri.
Semuanya orang terpesona dengan penampilan Sisil, kecuali Ardi. Ternyata sedari tadi Ardi masih berusaha menenangkan tangannya yang gemetar.
"Di, ayo siap-siap cepet," panggil Tomy yang sedikit menyadarkan Ardi.
Buru-buru Ardi bersiap di belakang panggung untuk menunggu Oci membacakan narasi yang berhubungan dengan ibu peri.
Selesai narasi, Ardi langsung masuk untuk merubah Cinderella menjadi putri.
"Ka-mu, kamu siapa?" ucap Sisil mengucapkan dialognya.
"Benarkah? Apa aku benar-benar bisa datang ke pesta itu dan bertemu dengan pangeran?"
"Tentu saja. Tutup matamu cantik. Simsalabim."
Ardi mengarahkan tongkatnya pada Sisil dan kedua teman kelasnya langsung menarik gaun Sisil dari bawah agar Sisil berganti baju layaknya tersihir.
Penonton bersorak meriah melihat adegan itu. Setelah itu buru-buru Ardi meninggalkan panggung saat lampu kembali padam.
Ardi sedikit bernafas lega saat scene pertamanya berhasil. Kurang satu kali muncul dan semua kegugupan ini akan berakhir.
"Lo bisa, Di. Lo pasti bisa," ucap Ardi menyemangati dirinya sendiri.
...oOo...
Ardi mendengarkan Oci membacakan narasi lagi. Kini dia sudah bersiap di belakang panggung untuk scene terakhirnya.
Bukannya merasa sedikit tenang, yang ada Ardi semakin merasa gugup karena ini scene terakhirnya. Dia terus berusaha fokus sampai mendengar seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
Karena tidak fokus Ardi jadi kurang siap dan langsung gelagapan saat masuk ke atas panggung.
"Ardi belum!!" pekik beberapa anak lain di belakang panggung.
Ardi jadi semakin gugup saat ini. Dia pikir tadi ada yang memanggilnya untuk segera naik ke panggung, ternyata dia salah.
Melihat Ardi yang sudah terlanjur masuk panggung di tengah narasi, Oci jadi merangkum narasinya.
Walaupun narasi Oci sudah selesai, tapi nyatanya Ardi masih membeku disana.
Padahal Dinda dan yang lain sudah berusaha mengkode agar Ardi untuk segera mengucapkan dialognya.
Mau tak mau akhirnya Dinda berinisiatif untuk improvisasi.
"Kamu siapa? Kenapa bisa muncul dari sana?" ucap Dinda berdoa agar Ardi membalas dialog tambahannya.
"Peri, benarkah itu kamu?" tambah Sisil yang juga menambahkan dialognya.
Karena Ardi masih bingung menanggapi dialog tambahan dari Sisil dan Dinda dia hanya menatap keduanya bingung.
Sisil yang ingin membantu akhirnya berinisiatif untuk mendekat ke arah Ardi. Sayangnya saat melangkah dia tak melihat ada properti rumput di dekat tempat Ardi berdiri.
Alhasil dia hampir saja tersandung dan jatuh terjerembab, jika saja Ardi tak sigap menangkapnya.
Adegan peri yang menangkap Cinderella jatuh itupun langsung membuat penonton heboh dan bersorak.
Masalahnya saat Ardi memangkap Cinderella terlihat seperti adegan di drama romantis pada umumnya.
Belum lagi Ardi tidak sedang memakai pakaian perempuan walaupun dia berperan sebagai ibu peri.
Melihat antusias penonton membuat Oci bergegas mengubah alur cerita menjadi Cinderella yang jatuh cinta kepada sang peri.
Tomy yang berperan sebagai pengawal kerajaan pun menjadi bingung di sana, karena sepatu kaca yang dia bawa jadi tak bertuan.
"Jadi, siapa gerangan pemilik sepatu ini," tambahnya bingung yang sebenarnya tak ada didalam dialog.
Tanpa menunggu perintah, tiba-tiba saja Lola maju dan memakai sepatu itu yang ternyata pas di kakinya. Karena memang kakinya dan Sisil memiliki ukuran yang sama.
Cerita berubah menjadi pangeran yang berbahagia dengan kakak tiri Cinderella. Tamat.
Semua penonton bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorakan gembira. Mereka tak ada yang menyangka bahwa drama Cinderella bisa menjadi seseru ini.
__ADS_1
Padahal mereka mengira bahwa drama ini akan membosankan dan berakhir sama seperti kebanyakan drama Cinderella pada umumnya.
...oOo...