Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
36


__ADS_3

Arya sedikit berlari saat melihat Dinda berjalan bersama temannya menuju lorong kelas sebelas.


Beberapa siswa hanya melihat Arya aneh karena cowok itu terus tersenyum sambil berlari. Mereka bertanya-tanya hal bahagia apa yang baru saja terjadi kepadanya sampai Arya bisa tersenyum seperti itu.


"Hah.. hah.. akhirnya, kekejar juga," ucap Arya sambil memegang erat tangan Dinda.


Dinda dan Fany terkejut saat Arya tiba-tiba saja datang menyergap seperti itu. Bahkan Fany sampai mundur beberapa langkah dan hampir saja berteriak.


"Temennya gue pinjem dulu ya," ucap Arya kepada Fany sambil mengedipkan sebelah matanya.


Fany hanya bisa mengangguk sambil terpesona. Bagaimana tidak terpesona, masih pagi tapi dia sudah melihat Arya bercucuran keringat dan mengedip satu mata kepadanya. Jangan sampai Ardi tahu, jangan sampai.


Benar Ardi jangan sampai tahu. Itulah yang ada dalam hati Fany. Tapi pikirannya berkata lain, Fany langsung berlari menuju kelas untuk mencari Ardi. Bagaimana bisa pemandangan indah seperti tadi dia simpan sendiri.


Ardi harus tahu, benar. Ardi harus tahu.


...oOo...


Dinda tak meronta ataupun mencoba untuk kabur. Dia tak memiliki tenaga untuk melakukan itu.


Sepertinya tidak hanya Fany, bahkan Dinda juga dibuat terpesona oleh senyuman Arya. Dinda yerus bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang terjadi sampai Arya terlihat sebahagia ini.


Bahkan Dinda yang melihatnya seakan dipaksa ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan Arya.


Saking terhipnotisnya, Dinda bahkan tak perduli dengan beberapa siswa yang menatap keduanya penuh tanda tanya.


Arya melepas genggamannya ditangan Dinda, membuat Dinda tersadar kalau dirinya sudah dibawa ke atas atap sekolah.


Dinda menatap sebentar Arya yang berada di depannya kemudian dia buru-buru menunduk lagi. Sekarang Arya terlalu tampan untuk ditatap.


Arya menyentuh dagu Dinda, perlahan mengangkat sedikit wajah Dinda agar menatapnya.


Sentuhan kecil itu berhasil membuat perut Dinda tiba-tiba saja dihujani ribuan kupu-kupu. Rasanya Dinda seperti sulit sekali bernafas.

__ADS_1


Belum lagi Dinda kembali diam terhipnotis saat menatap mata Arya yang terpancar cerah manatap lurus ke dalam matanya. Cowok itu benar-benar gambaran indah dari mahakarya Tuhan.


Sebenarnya kerasukan apa Arya hari ini sampai dia bisa tersenyum tanpa henti seperti itu. Padahal hari-hari biasa saja Arya sudah tampan, tapi kenapa hari ini Arya semakin membuat Dinda keracunan.


"Din, boleh nggak gue jadi pacar lo?" tanya Arya tiba-tiba yang semakin membuat Dinda menjadi kaku.


Rasanya seluruh persendiannya terasa kelu. Bahkan Arya sedikit terkejut dan buru-buru menopang tubuh Dinda agar tidak jatuh.


"Lo nggak pa-pa? Lo lagi sakit ya?" tanya Arya khawatir.


Dinda hanya menjawab dengan gelengan pelan.


"Sorry ya gue nembaknya nggak ada romantis-romantisnya. Seharusnya kita makan enak dulu, nonton, terus jalan-jalan naik montor berdua. Seharusnya gue bisa lebih baik lagi," sesal Arya.


Arya menggenggam kedua tangan Dinda erat. "Tapi lo tenang aja, perasaan gue nggak pernah main-main kok sama lo. Jadi plis kasih gue kesempatan buat jadi pacar lo."


Mendengar Arya terus meracau kata-kata manis membuat Dinda menitikkan air mata haru.


"Kak Arya curang banget.. bisa-bisanya ngelakuin hal ini ke Dinda. Kak Arya curang," ucap Dinda sambil memukul pelan dada Arya.


"Kenapa? Kok lo nangis? Gue salah lagi ya? Lo nggak suka sama gue?"


"Gimana Dinda bisa nggak suka coba, hiks.. gimana bisa?"


Arya memeluk Dinda sayang. Mendekap Dinda sampai suara isakan Dinda terbendung dalam pelukannya.


"Jadi, berarti lo nerima gue?" bisik Arya pada telinga Dinda.


Dinda mengangguk dalam pelukan Arya dan semakin mengeraskan tangisannya. Dinda tak habis pikir, bisa-bisanya Arya masih menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu.


Namun tiba-tiba isakan Dinda berhenti saat dia merasakan sesuatu yang terasa asing dipucuk kepalanya. Apa ini hanya perasaannya saja atau memang Arya baru saja mencium pucuk kepalanya?


Demi apapun. Wajah Dinda sudah merah seperti tomat. Untung saja dia sedang berada di dekapan Arya, jadi cowok itu tak harus melihatnya memerah malu.

__ADS_1


...oOo...


"Ardiiiiiiiiiiii...."


Fany langsung heboh mencari Ardi saat sampai di kelas.


"Ardi mana?!" tanya Fany sedikit berteriak pada Bagas yang memang duduk di dekat pintu kelas.


"Belum dateng. Lagian lo ngapain sih lari-larian dilorong kayak gitu?" tanya Bagas melihat Fany aneh.


"Woi gue dibelakang lo. Kenapa lo nyari gue kek dikejar hantu gitu?"


"Ardiiiiii.. lo pasti nggak nyangka banget sama hal yang baru aja gue lihat."


"Lo beneran habis liat setan?"


"Bukannnnnn.. gue barusan habis dihadang Kak Arya. Terus hari ini dia ganteng bangettttt, nget nget nget pokoknya."


"Ya kan Kak Arya emang tiap hari udah ganteng."


"Tapi hari ini beda."


"Oh iya, gue juga denger-denger banyak yang ngomongin Dinda sama Kak Arya tadi di depan."


"Iya. Dinda tadi dibawa pergi sama Kak Arya. Di sandra dia. Nggak tahu gue dibawa kemana. Yang pasti aman kan ya?"


"Atau jangan-jangan Kak Arya mau nembak Dinda?" tanya Lola yang sedari tadi menjadi pengamat, berdiri di sebelah Ardi.


Lagi-lagi ucapan Lola selalu tak terduga dan langsung berhasil membuat Ardi dan Fany saling tatap-tatapan.


"Ingetin gue minta pajak jadian ke Dinda," ucap Ardi ke temen-temennya kemudian masuk ke dalam kelas.


...oOo...

__ADS_1


__ADS_2