Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
37


__ADS_3

Berita balikannya Dinda dengan Arya menyebar begitu cepat keseluruh sekolah.


Banyak yang mendukung keduanya, tapi tak sedikit juga yang benci hubungan mereka kembali terjalin.


Mereka beranggapan bahwa Sisil jauh lebih pantas bersama Arya.


Mendengar namanya dengan Arya terus diperbincangkan membuat Sisil membulatkan tekad untuk menyatakan cintanya juga pada Tama.


Tidak hanya Arya, Sisil pun juga ingin merasakan kisah kasih di sekolah. Sisil tak ingin kalah dari Arya. Pasti seru nanti jika mereka berempat melakukan double date berasama.


Sisil langsung mengeluarkan ponselnya. Menanyakan apakah Tama akan berada di perpustakaan sekolah seperti biasa.


Tanpa menunggu lama, Tama membalas dengan 'ya' pada pesan Sisil.


Banyak yang tak tahu bahwa keduanya sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan saat jam istirahat.


Walaupun tidak banyak yang bisa mereka perbincangkan karena mereka tak boleh banyak bersuara di perpustakaan. Setidaknya Sisil sangat senang dan merasa lebih dekat dengan Tama.


"Ciee.. yang CLBK. Nempel terus kek perangko." Ledek beberapa siswa saat Dinda masuk ke dalam kelas.


Sisil hanya bisa tersenyum melihat Dinda yang begitu bahagia. Dia jadi semakin tak sabar merasakan rasa itu juga dalam hidupnya.


...oOo...


Sisil tersenyum melihat Tama duduk di meja yang selalu mereka tempati.


Lagipula tidak banyak siswa yang mau repot-repot menghabiskan waktu istirahat mereka di tempat membosankan seperti perpustakaan.


Jika Tama tidak di sini, pasti Sisil juga lebih memilih menghabiskan uang jajannya di kantin.


"Hai, Kak." Sapa Sisil sedikit berbisik pada Tama.


Seperti biasa juga Tama akan menanggapi Sisil sambil tersenyum dan membiarkannya untuk duduk disebelahnya.


Sisil membuka sebuah buku yang telah dipinjamnya berminggu-minggu lamanya, tapi belum juga dia selesaikan.


Bukan karena buku itu tidak menarik, masalahnya Sisil hanya mengambil buku yang sama dan duduk disebelah Tama seperti ini.


Sisil bahkan tak pernah tahu isi dalam buku itu. Dia hanya perduli pada cowok di sebelahnya. Menatap wajah Tama yang sedang serius membaca menjadi kebiasaan yang entah sejak kapan membuatnya candu

__ADS_1


"Kak."


"Hem?" balas Tama lembut tanpa mengalihkan pandangannya pada buku.


"Kak Tama udah tahu belum kalau Dinda sama Arya jadian?"


Tama mengangguk pertanda dia sudah tahu.


"Enak ya mereka, bisa pacaran satu sekolah."


Tama mengangguk lagi tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku di depannya.


"Kak Tama nggak pengen kayak gitu?"


Kini Tama menatap Sisil, menimbang sebentar kemudian kembali membaca bukunya.


"Pengen sih, tapi sudah terlanjur beda sekolah," ucap Tama kemudian.


Sisil yang mendengar ucapan Tama langsung menegakkan badannya.


"Maksud Kak Tama apa?"


"Heh?"


"Oh itu. Gue sama pacar gue udah terlanjur beda sekolah. Lagian seru juga tahu pacaran beda sekolah."


Srek!


Sisil langsung mendorong kursi tempatnya duduk dan berdiri mendengar kalimat dari Tama.


"Kak Tama udah punya pacar?" tanya Sisil tak percaya.


Tama mengangguk lagi. Tiba-tiba dia jadi tak tertarik dengan bukunya. Perhatian Tama kini tertuju pada Sisil yang tiba-tiba saja berubah sikap.


"Lo kenapa?" tanya Tama merasa khawatir.


"Enggak kok, Sisil nggak pa-pa. Sisil permisi pergi dulu ya, Kak." Kemudian Sisil berlari pergi keluar dari perpustakaan.


Bahkan Sisil juga meninggalkan bukunya begitu saja di atas meja.

__ADS_1


Tama jadi merasa sedikit khawatir. Dia langsung mengirim pesan pada Dinda untuk mengecek Sisil, takut jika anak itu sakit.


Pasalnya Tama merasa Sisil itu sangat rapuh. Apalagi cuaca sedang berubah-ubah seperti sekarang. Tama takut jika Sisil sakit tanpa diketahui siapapun.


oOo


"Aryaaaaa..." Arya yang masih menyalin PR temannya tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran Sisil yang berlari memeluknya.


Untung siswa perempuan dikelas itu sedang tak ada di kelas. Bisa jadi bahan omongan seantero sekolah kalau mereka tahu kejadian ini.


"Lo kenapa?" tanya Arya bingung. Tapi yang ditanya bukannya menjawab hanya terus menggeleng dalam pelukannya.


"Sil, lepas dulu. Ayo cerita sama gue, lo kenapa?"


Lagi-lagi Sisil hanya terus menggeleng sambil menangis.


Arya mengembuskan nafasnya panjang. "Kita ke UKS dulu gimana? Mau ya ke UKS?"


Kemudian Sisil baru mengangguk dan menegakan kepalanya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Salah seorang teman Arya yang membawa tisu memberikannya kepada Sisil. Setelah dirasa wajah Sisil sudah tidak terlalu lembab, Arya membantu Sisil berdiri untuk membawanya ke UKS.


...oOo...


Setelah di UKS, Arya mendudukkan Sisil di tepi ranjang. Dia mencari air mineral gelas untuk diberikan kepada Sisil.


Sepertinyanya petugas piket UKS sedang tak ada di sini. Mungkin karena jam istirahat, jadi mereka istirahat juga.


Arya melihat Sisil meneguk air yang dia berikan tadi . Setelah itu Arya hanya bisa duduk di sana sampai Sisil mau cerita sendiri padanya.


Sudah lebih dari 10 tahun Arya selalu berada dalam situasi seperti ini, jelas Arya sudah tahu bagaimana cara menanganinya.


"Arya.. hiks.. Tama, Kak Tama udah punya pacar, hiks.."


Arya menatap Sisil tak percaya. Darimana dia mendengar cerita itu? Karena Arya sendiri bahkan tak pernah mendengar berita itu.


"Lo tahu darimana?"


"Dari Kak Tama.. dia bilang sendiri ke Sisil," seketika Sisil kembali berlinang air mata.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Arya kembali memeluk Sisil. Sepertinya setelah ini Arya harus menanyakan hal ini secara langsung pada Tama.


...oOo...


__ADS_2