
Saat jam istirahat Dinda langsung ditanyai seluruh siswa di kelasnya. Sedangkan Dinda hanya membalas mereka dengan senyuman. Tentu tak ada yang merasa puas dengan jawabannya.
Beruntung Ardi langsung membubarkan mereka dan menarik Dinda pergi ke kantin.
Sebenarnya bukan ingin membantu, Ardi hanya ingin lebih eksklusif mendengar penjelasan dari Dinda.
Ardi ingin Dinda menjawab semua pertanyaannya tanpa ada gangguan dari semua makhluk bumi manapun.
"Jelasin semuanya, SEMUANYA..." ucap Ardi saat mereka sudah sampai di meja kantin.
"Tapi kita kan belum pesen apa-apa," jelas Dinda yang perutnya sudah merintih minta diisi.
Tak perduli dia dengan rengekan Ardi. Dinda harus lebih mementingkan perutnya yang malang.
"Mbak... Pesen seperti biasa ya. Minta tolong dianterin. Kita lagi rapat penting. Makasih..." Teriak Ardi kemudian yang membuat beberapa siswa menengok ke arah Ardi.
Untungnya siswa lain tak ambil pusing. Karena mereka juga sudah tahu bagaimana sifat Ardi. Jadi tidak ada yang terkejut maupun mempermasalahkan kejadian ini.
"Lo harus tahu apa yang si manusia ulet bulu itu ucapin tadi pagi," jepas Ardi. Kenapa jadi Ardi yang bercerita sekarang.
"Sisil? Emang Sisil ngomong apa?"
"Dinda dengerin dulu! Makanya kalau ada orang ngomong itu jangan dipotong!" hardik Ardi kesal.
Dinda mengangguk sambil menjawab tanda OK dengan jarinya.
"Jadi tadi Sisil bilang kalau dia nggak pernah pacaran sama Kak Arya,"
Dinda mengangguk.
"Dia juga bilang katanya Arya sukanya sama lo,"
Dinda mengangguk lagi.
"Terus, dia juga bilang katanya dia sukanya sama Mas Arya."
"Ha?!" Dinda terkejut mendengar yang satu ini
"Huaaaaaa..." Ardi berhambur memeluk Dinda sambil menangis kencang tanpa air mata.
Pandangan Dinda masih kosong. Dia masih tak percaya. Bagaimana bisa Sisil yang bucin dari kecil sama Arya, Sisil yang selalu melihat sosok Arya sebagai suaminya berpindah haluan menyukai Tama.
Apa jangan-jangan selama ini mereka diam-diam saling berhubungan.
Dinda hanya menggeleng membiarkan segala dugaan dalam pikirannya pergi. Dinda tak ingin pusing sendirian. Dia harus mengintrogasi Tama nanti.
Sekarang Dinda hanya bisa mengusap punggung Ardi yang masih berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Memeluk Ardi jadi membuat Dinda mengingat pelukan Arya tadi pagi. Mengingatnya saja berhasil membuat wajah Dinda kembali bersemu merah.
"Eh, kenapa lo Din meluk Ardi sambil senyam-senyum gitu?" selidik Fany yang membuat Ardi langsung melepaskan pelukannya.
"Bener. Gue sampe lupa. Jadi gimana tadi? Lo diapain aja sama Kak Arya sampe senyum terus selama pelajaran."
"Mulut lo, Di." Dinda langsung membekap mulut Ardi sebelum kata-kata hina lain keluar tak terkontrol.
"Sekarang giliran gue yang cerita, lo semua jangan banyak omong, jangan banyak intrupsi. Paham?"
"Paham," jawab Fany dan Lola.
Sedangkan Ardi hanya mengangguk dengan mulut yang masih dibekap Dinda.
Dinda melepaskan bekapannya dan membetulkan tempat duduknya agar lebih nyaman saat bercerita.
"Jadi, sebenarnya kemarin itu gue sama Mas Arya pergi ke rumah Kak Arya..."
"Hah?! Lo udah sambang aja ke rumah camer."
"Ssssssttt."
Ardi langsung membekap mulut dengan tangan kirinya. Setelah digertak ketiga teman ceweknya.
Dia membuat tanda seolah-olah mengunci rapat mulutnya. Kemudian mengangguk sambil memberikan tanda OK dengan tangannya.
"Singkatnya kita, gue sama Mas Arya, diajak makan malem sama keluarganya dan tanpa sengaja mereka bilang kalau Kak Arya sama Sisil bakal tunangan,"
Ardi hampir membuka mulutnya lagi ingin menginterupsi, tapi Dinda buru-buru melotot pada Ardi. Membuat cowok itu langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Juga katanya setelah lulus Kak Arya akan melanjutkan sekolah ke London."
Mendengar itu Ardi semakin ingin berkomentar tapi dia tahan terus dengan kedua tangannya.
"Terus tadi Kak Arya itu ngejelasin semuanya ke gue, kalau dia nggak akan tunangan sama Sisil. Oh iya..."
Dinda memukul jidatnya keras.
"Gue lupa nanya yang soal ke London."
"Mmmhhh.. mhhhmm.." Ardi menunjuk mulutnya yang masih dia bungkam.
"Iya, iya lo boleh ngomong."
"Hah.. hah.. akhirnya. Ternyata tangan gue asin juga ya. Eh tapi emang lo kan suka gitu. Kebiasaan suka pelupa. Mana yang dilupain hal-hal penting lagi."
"Tapi tadi emang waktunya singkat banget. Tiba-tiba udah bel masuk aja," bela Dinda pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Pembelaan. Jadi lo udah tahu Kak Arya suka juga sama lo?"
Dinda mengangguk semangat sambil tersenyum bahagia.
"Jadi kalian udah jadian?"
Seketika wajah Dinda berubah murung. "Belum."
"Gimana sih? Katanya udah bilang saling suka?" tanya Lola bingung.
"Iya, tapi Kak Arya nggak ngomong soal jadian."
"Ya ditanyain dong, Din," desak Fany gemas.
"Ya masak gue duluan yang ngajak jadian?"
"Daripada Kak Tama ilang duluan? Nyesel entar nangis," tambah Ardi.
"Bener tuh. Kata lo Kak Tama mau kuliah di London juga. Lo nggak takut nyesel?" tambah Fany semakin mengompori.
"Tapi gimana ngomongnya? Gue kan nggak pernah nembak cowok. Boro-boro nembak, ditembak cowok aja juga nggak pernah."
"Lo kan pernah nyatain perasaan lo ke Mas Arya," ucap Fany mengingatkan.
"Iya sih, tapi ini beda. Kalau sama Mas Arya kemarin gue udah nggak ngarep bakal diterima. Beda kalau sekarang."
"Kalau sekarang ngarep?" tanya Lola.
"Iyalah."
"Tapi kan udah jelas kalian saling suka. Sudah jelas lo bakal diterima dong? Ya kali saling suka tapi nggak jadian?" ucap Ardi lelah dengan drama percintaan sahabatnya ini.
"Kalau Kak Arya emang nggak.."
"Udah ya, nggak ada kalau, kalau. Pokoknya sepulang sekolah nanti lo harus dapet kepastian dari Kak Arya. Kita nggak mau tahu," ucap Fany mutlak.
"Bener. Lo yang digantungin tapi kita yang kena imbasnya. Berasa ikut digantungin juga," jelas Ardi.
"Semuanya nggak semudah itu, okey."
"Iya, kita tahu. Nanti kita bantuin. Tenang aja."
Dinda hanya mengakhiri perdebatan ini dengan bernafas panjang. Dia tidak yakin dengan campur tangan mereka semua akan baik-baik saja.
Dinda hanya bisa berdoa untuk dirinya sendiri. Semoga semuanya akan baik-baik saja.
oOo
__ADS_1