
Sudah setahun lamanya. Waktu berlalu begitu cepat. Sayangnya hubungan Dinda dan Tama tak ada kemajuan sama sekali.
Kemajuan yang ada hanyalah Dinda, Lola, Fany dan Ardi kini berada di kelas yang sama. Tidak ketinggalan Sisil.
Tahun kedua SMA Dinda benar-benar nano-nano. Bagaimana tidak? Dia yang merasa lebih unggul dari Sisil karena lebih sering bertemu dengan Arya, kini sudah tidak ada harapan lagi.
Bisa apa dia kalau bidadarinya Arya juga ada di sekolah ini.
Jangankan Arya, bahkan siswa cowok lain banyak yang suka dengan Sisil. Mereka belum tahu saja kalau usaha mereka akan sia-sia.
Jangankan cowok. Bahkan ekskul tari, pemandu sorak, teater dan masih banyak yang silih berganti keluar-masuk kelas ini hanya untuk membujuk Sisil menjadi anggota mereka.
Masalahnya adalah...
"Dinda, kan?" tanya Sisil pada Dinda.
Pertanyaan itu berhasil membuat perbincangan keempat orang itu seketika berhenti.
"Masih inget aku nggak?"
Dinda menjabat canggung tangan Sisil yang terulur padanya sambil mengangguk kecil.
Singkat cerita Sisil memperkenalkan diri kepada teman-teman Dinda. Bahkan dia juga ikut mendaftar ke ekskul jurnalistik sama seperti Dinda.
Rasanya Dinda ingin marah, tapi apa yang bisa dia perbuat. Dia tak memiliki hak apapun untuk melarang Sisil masuk ke ekskul yang sama dengannya.
Kini hidup Dinda tak akan pernah sama seperti dulu. Belum lagi jika harus melihat Arya dua kali sehari berada di depan kelasnya hanya untuk mengantar dan menjemput Sisil ke kelas.
Tuhan. Kenapa cobaan ini begitu sulit.
Dinda sudah mencoba untuk pindah kelas. Tapi malangnya wali kelas tidak berpihak padanya. Sialan.
"Dinda kelompok kamu kurang satu orang, kan? Aku ikut ya?"
"Enggak, jumlah murid dikelas kita kan ada 29 orang, jadi kita pas berempat aja," jawab Ardi ketus.
Sahabat Dinda yang satu ini memang selalu menjadi garda terdepan jika Dinda tak bisa menolak ajakan dan rayuan mematikan Sisil.
Mendengar penolakan Ardi yang lantang membuat Sisil terdiam cukup lama. Wakil ketua kelas yang juga suka dengan Sisil menghampiri Ardi.
"Kalian kenapa sih? Gitu banget. Ya udah, Sisil ikut kelompok gue aja ya?"
Sisil menggeleng pelan. Wajahnya sedikit menunduk seperti sudah akan menangis.
"Maunya satu kelompok sama mereka?" tanya Lukas si wakil ketua kelas.
__ADS_1
Sisil mengangguk masih dengan kepala yang menunduk.
"Ya udah, Sisil ikut kelompok Dinda aja."
"Eh, apa nih? Orang kita aja nggak setuju."
"Masukin ajalah. Kan tambah 1 orang juga nggak ada salahnya. Biar kelompok gue aja yang 4 orang."
Tidak hanya Lukas, bahkan siswa yang lain juga ikut menyetujui usulan tersebut.
Dinda yang merasa Ardi mulai dikeroyok orang satu kelas akhirnya setuju Sisil masuk dalam kelompoknya. Tak perduli mata Ardi yang melotot menuntut penolakan kepadanya.
Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang mau mengalah. Sisil sendiri juga bersikeras tak mau ikut kelompok lain. Padahal banyak yang mau bertukar anggota jika dia ingin masuk.
~oOo~
"Aryaaa..."
Sial. Padahal Dinda sudah siap untuk menutup telinganya. Dia tidak mau harus mendengar suara manja Sisil memanggil nama Arya di depan wajahnya.
Tapi malangnya manusia tampan ciptaan Tuhan itu sudah ada di depan pintu kelas bahkan sebelum Dinda selesai memasukan semua bukunya ke dalam tas.
Sabar Dinda, Sabar. Kamu kuat, kamu bisa. Rapal Dinda pada dirinya sendiri.
Karena kelas mereka ada 2 pintu. Pintu pertama adalah pintu yang kini ada Arya di sana, pintu yang berada tepat di sebelah papan tulis. Sedangkan pintu yang kedua berada pada bagian bangku paling belakang.
Ardi menarik Dinda untuk keluar melalui pintu pertama.
"Dindaaa!"
"Mau apalagi sih itu cewek," geram Ardi saat Sisil memanggil nama sahabatnya dengan wajah senyum tanpa dosanya.
Ardi menghentikan Dinda saat sahabat malangnya itu akan pergi menghampiri Sisil.
"Gue dipanggil, Di."
"Iya, tapi lo bukan cihuahua yang lompat kegirangan datengin majikan pas dipanggil, Dinda."
Ardi menarik Dinda untuk berdiri dibelakangnya. "Ada apa, Sil?" tanya Ardi yang dibuat seramah mungkin.
Sisil berlari kecil ke arah mereka, diikuti dengan Arya yang berjalan dibelakangnya sudah seperti pengawal penjaga sang putri.
Ardi memaki dalam hati. Semakin dilihat kenapa keduanya semakin menyebalkan. Padahal kedua manusia itu tak ada yang punya salah dengannya, tapi rasanya Ardi ingin melempar mereka berdua keluar jendela sekarang juga.
Belum selesai Ardi memaki. Dibelakang keduanya sudah berjalan pangeran berkuda putih Dinda yang berhasil membuat Ardi tersenyum senang.
__ADS_1
Siapa lagi orangnya kalau bukan Tama.
Ardi berlari berhambur ke arah Tama dan bergelandutan manja pada lengannya. Tama juga tak ambil pusing dan hanya masa bodoh dengan makhluk besar pada lengannya.
Pasalnya sudah hampir setahun Ardi selalu melakukan hal itu dan hampir setahun pula Tama mencoba melepaskan diri. Nyatanya selalu gagal.
Sisil berjalan ke arah Ardi kemudian manarik Ardi pelan. Sedang yang ditarik hanya menatap bodoh tangan Sisil yang berada pada tangannya.
"Ardi nggak boleh gitu. Kak Tamanya jadi susah jalan, kan."
Ardi menghempaskan tangannya kesal.
"Suka-suka gue lah, orang tangan-tangan gue juga."
"Memangnya Ardi udah izin ke Kak Tama? Belum, kan? Kak Tamanya jadi ikut kerepotan juga."
Hampir Ardi meletus dan menyuarakan rap dadakannya, tapi Tama lebih dahulu angkat bicara.
"Udah-udah. Masalah sepele kenapa harus dibesar-besarkan sih."
Ardi menatap teman-teman Dinda yang lain. "Kalian nggak pulang?"
"Iya, Mas ini mau pulang," ucap Fany.
Lola menarik tangan Ardi untuk menjauh pergi.
"Tumben ke kelas, Mas. Biasanya juga nunggu di parkiran?" tanya Dinda.
"Habis dari kelas anak basket angkatan lo, jadi sekalian ke sini. Ke sininya juga bareng Arya."
"Kalian nggak pulang?" tanya Dinda pada Sisil dan Arya yang masih berdiri di sana.
Sisil tersenyum cerah sambil berlari kecil memegang tangan Dinda.
"Kita kan ada tugas bawa barang-barang buat kelompok minggu depan. Bantuin Sisil cari barangnya ya Dinda. Habisnya Arya nggak bisa diandelin kalau soal belanja."
"Tapi gue kan pulang bareng Mas Arya."
"Kak Tama bisa sekalian ikut, kan? Soalnya Arya juga nggak bawa mobil."
"Gue sih nggak masalah," balas Tama.
Padahal Dinda sudah berusaha segenap tenaga untuk mengirimkan sinyal SOS, tapi ternyata kurang tepat sasaran.
Tama telat sadar sinyal dari Dinda dan terlanjur mengiyakan jadi merasa bersalah. Akhirnya dengan berat hati Dinda mengiyakan ajakan Sisil.
__ADS_1
Mereka berempat berjalan bersama menuju parkiran. Sisil masih berusaha untuk berbincang dengan Dinda, sedangkan cewek itu tak tertarik sama sekali dengan obrolan mereka. Tapi sepertinya Sisil tak akan mengerti sinyal dari Dinda.
~oOo~