
Setelah drama selesai, Ardi berulang kali meminta maaf kepada teman-temannya.
Walaupun drama mereka terbilang berhasil, tapi Ardi sangat menyesal karena kecerobohannya membuat alur drama mereka berubah menjadi berantakan.
"Santai aja, Di. Lagian kapan lagi Cinderella happy ending-nya sama ibu peri," ledek Fany yang berhasil membuat Ardi mengamuk dan mood-nya kembali seperti semula.
Prok prok prok
"Selamat ya, pensinya sukses. Walaupun ending-nya nggak ketebak banget sih," ucap Dewi yang mendatangi mereka.
"Lo nggak usah mulai ya, Wi. Gue malunya udah sampe ubun-ubun. Jangan lo ingetin lagi."
"Yah.. yakin nggak mau diingetin. Padahal gue punya video lengkap pensi kalian," ucap Dewi bangga sambil mengacungkan ponselnya.
"Minta!!!" ucap Fany semangat berhambur ke arah Dewi.
"Jangan coba-coba lo ye. Awas kalau sampe videonya kesebar. Jangan lo bagi-bagi seenaknya, Wi," protes Ardi berusaha merebut ponsel Dewi.
Mereka yang sibuk saling memperebutkan ponsel pun harus berhenti saat Oci menginterupsi mereka.
"Lagi pada repot nggak? Bazar kita lagi kurang orang nih. Tolongin dong," ucapnya mengakhiri pertikaian kecil mereka.
"Tapi shift kita belum mulai, Ci," protes Fany karena merasa masih lelah sehabis pensi.
"Iya, nanti jam shift pagi juga dipanjangin, tenang aja. Cepetan bantuin dulu pokoknya."
"Oke deh. Bye Wi, nanti kabar-kabar lagi."
"Gue mau jadi pelanggan lo padahal. Gue kesini niatnya memang mau liat bazar kalian," balas Dewi memasuki kelas Oci yang ternyata ramainya bukan main.
Dewi melihat puluhan cowok sudah mengantri hanya untuk berfoto dengan Sisil.
Dewi terkikik geli saat membaca tulisan baner yang mengharuskan mereka memesan jika ingin membeli antrian foto bersama Cinderella.
Pantas saja bazar mereka ramai. Marketing-nya saja luar biasa.
"Mau pesen apa, Wi?" tanya Dinda yang membawakan buku menu untuk Dewi.
"Jus alpukat aja deh."
"Siap, ditunggu dulu ya. Nggak mau sekalian beli tiket antrian foto sama pangeran, Wi?"
Dewi melirik ke tempat sebelah Sisil. Ternyata memang ada antrian lain. Tapi tidak seramai tempat Sisil.
"Nggak deh, mahal soalnya. Nggak ada duit gue. Lagian gue nggak nge-fans sama pangeran kelas lo."
"Gue aja juga nggak, ya udah deh. Ditunggu dulu jus nya."
"Oke."
__ADS_1
...oOo...
Arya dan Tama bernafas lega saat jam shiftnya berakhir. Padahal kelas mereka hanya membuat bazar simpel seperti toko seni. Entah kenapa bazar mereka jadi laku keras seperti ini.
"Ke kelas Dinda?" tanya Arya memastikan.
"Iya jelas, tapi gue ada urusan bentar. Lo duluan aja kesananya," balas Tama yang pamit pergi meninggalkan Arya.
Arya hanya menanggapi oke lalu bergegas menuju lorong kelas sebelas. Sesampainya di kelas Dinda, Arya dibuat terkejut saat mendapati kelas itu dua kali lipat lebih ramai dari kelasmya.
"Bukannya mereka cuma buat cafe ya? Kok rame banget?" tanya Arya bingung.
Sampai di depan kelas, dia sempatkan membaca tulisan baner marketing kelas Dinda.
Pantas saja kelas ini jadi ramai bukan main. Arya juga mengintip antrian panjang para orang untuk berfoto.
"Dindaaa... Ada Kak Arya nih," teriak Fany yang berlari kecil menggantikan Dinda menulis menu untuk meja sebelah.
Dinda mendatangi Arya sambil tersenyum senang. Tak lupa dia memberikan buku menu ditangannya.
"Mau pesen apa, Kak?"
"Yang enak apa?" ucap Arya balik tanya ke Dinda tanpa membuka buku menu yang diberikan Dinda.
"Yang paling banyak laku kuenya Sisil sama jus alpukat."
"Yang lain deh, jangan kue nya Sisil. Bosen. Jus alpukat boleh satu."
"Batagor apa bakso gitu nggak ada ya?" tanya Arya bingung. Karena sedari tadi Dinda terus menyebutkan makanan manis.
"Nggak ada lah, Kak. Kan memang temanya ala cafe gitu."
"Manis semua bisa-bisa diabetes nanti. Yang nerima pesenan juga udah manis," ucap Arya usil.
"Gimana, Kak?" tanya Dinda salah tingkah jadinya.
"Enggak. Jus aja deh kalau gitu," balas Arya tersenyum melihat Dinda tersipu karena ucapannya.
"Siap, ditunggu dulu."
"Iya, sayang."
"Kak Arya apa sih," kesal Dinda malu sambil berlalu pergi. Sedangkan Arya hanya bisa menahan tawa saat Dinda pergi dengan wajah tersipu malu.
"Eh, lo ngapain ketawa-ketawa sendirian?" tanya Tama yang duduk satu meja dengannya bersama dengan seorang wanita.
Arya menatap Tama, menaikkan sebelah alisnya dan sedikit melirik wanita disebelah Tama. Mempertanyakan siapa wanita disebelahnya tersebut.
"Oh iya, kenalin ini Putri. Putri kenalin, ini Arya kita teman sekelas."
__ADS_1
"Putri," sapa Putri mengulurkan tangannya.
"Arya," Arya menyambut uluran tangan Putri.
"Pacarnya Dinda ya, Kak?" tanya Putri memastikan.
"Iya. Lo pacarnya Tama?"
"Iya," balas Putri sambil tersenyum ramah.
"Dinda kok udah ganti ba-ju..." suara Sisil semakin mengecil saat menyadari bahwa wanita di samping Tama bukanlah Dinda.
"Oh halo, ini pasti yang namanya Sisil ya? Gue Putri. Tadi dramanya aku nonton loh, keren banget," ucap Putri riang sambil tersenyum manis.
"I-ya, makasih."
"Sisil udah selesai jaga bazarnya?" tanya Tama kemudian.
"Iya, udah. Ini udah jam Sisil istirahat, Kak."
"Ya udah duduk sekalian di sini."
Sedikit canggung Sisil menarik kursi di sebelah Tama yang lain. Dia masih menatap Putri yang tersenyum ramah ke arahnya.
Walaupun belum tahu ada hubungan apa diantara keduanya, tapi Sisil sudah bisa menebak bahwa Putri adalah pacar Tama.
"Loh, Putri juga di sini?" tanya Dinda yang datang membawakan pesanan Arya.
"Iya, gue tahun kemarin nggak sempet liat bazar sekolah kalian. Jadi tahun ini gue sempetin."
Dinda mengangguk mengerti sambil meletakkan gelas jus di depan Arya.
"Menunya mana? Kok nggak di bawa?" tanya Tama heran.
"Shift Dinda udah selesai, Kak. Nunggu yang lain aja nanti ke sini."
"Shift kamu udah selesai?"
Dinda mengangguk cepat mengiyakan sambil menyedot jus miliknya.
"Ya udah ayo!" ajak Arya yang berdiri dari kursinya sambil menarik tangan Dinda
"Kemana?"
"Ya jalan-jalan. Liat bazar kelas lain. Nggak mau?"
"Mau, mau. Ayo kalau gitu."
Mereka pun pergi meninggalkan ketiganya. Yang tak lama kemudian didatangi siswa lain sambil membawa buku menu.
__ADS_1
...oOo...