Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
47


__ADS_3

"Aghhh!!!!"


Dinda berteriak lemas saat melihat pocong melompat di depan pintu keluar rumah hantu.


Beruntung dengan sigap Arya langsung menangkapnya untuk tidak jatuh.


"Kamu nggak pa-pa?"


Dinda menggeleng lemas. Arya mencoba membantu Sisil berdiri tegap sambil tersenyum kecil.


Padahal Dinda sendiri yang mengajak untuk masuk ke rumah hantu, tapi ternyata dia juga yang terus berteriak ketakutan.


"Sepatu kamu mana?" tanya Arya saat melihat Dinda yang hanya mengenakan sebelah sepatunya.


"Nggak tahu, kayaknya jatuh deh kak di dalem. Gimana dong?" tanya Dinda bingung. Dia tidak mau masuk ke sana lagi, tapi dia juga tidak ingin pulang tanpa alas kaki.


"Ya udah kamu tunggu disini dulu nggak pa-pa? Aku ambilin sendalnya."


Dinda mengangguk setuju yang kemudian Arya masuk lagi melalui pintu belakang.


Dinda hanya bisa meratapi kebodohannya mengide masuk ke rumah hantu. Dia tak mengira para kakak kelasnya ini sangat totalitas dalam membuat rumah hantu.


Tak berselang lama Arya sudah kembali dengan membawa sepatu Dinda di tangannya. Dinda terkejut saat tiba-tiba saja Arya bersimpuh di depannya untuk memasangkan sepatu pada kakinya.


"Ini tuan putri sepatunya. Jangan sampai lepas lagi, ya. Nyarinya susah loh ini tadi," ucapnya setelah menali sepatu itu pada kaki Dinda.


"Iya, terima kasih pangeranku," balas Dinda yang kemudian malu dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Arya jadi terkikik geli dengan kelakuan mereka sendiri. "Iya ya, seharusnya kamu yang jadi Cinderellanya."


"Jangan deh, kamu jadi Cinderella-ku aja," ralat Arya diikuti teriakan dari anak lain yang keluar dari rumah hantu.


Beberapa dari mereka menatap Arya aneh karena bersimpuh di depan Dinda yang duduk di kursi kelas tak terpakai.


"Kak, udah malu. Ayo pergi," ucap Dinda yang disetujui oleh Arya.


oOo


Sisil masih duduk canggung bersama Tama dan Putri saat ditinggal Arya dan Dinda.


Ingin rasanya Sisil melempar kepala Arya dengan sepatunya. Bisa-bisanya Arya tega meninggalkannya disituasi seperti ini.


"Kak, Sisil pamit ganti baju dulu ya? Udah gerah," pamit Sisil akhirnya yang tak mau berada bersama mereka lebih lama lagi.


"Tapi Sisil udah selesai ya shift-nya, udah nggak bisa foto?" tanya Putri merasa kecewa.


"Boleh, kok. Malah nggak usah bayar."


Putri tersenyum senang sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Ayo, Kak. Ikutan foto juga," ucap Putri manarik tangan Tama dan Sisil ke tempat foto yang sudah disediakan.


"Kak, mending ganti posisi deh. Seharusnya Sisil yang di tengah," ucap Putri mengganti posisi mereka. Tama hanya menurut dan bertukar posisi saling mengapit Sisil.


Sisil hanya bisa tersenyum pahit melihat bagaimana keduanya berinteraksi.

__ADS_1


Setelah Putri mengambil beberapa jepretan, Sisil pamit untuk ganti baju dengan alasan yang sama yaitu gerah, tanpa siapapun tahu bahwa dia memilih pergi ke ruang seni dan menangis sendirian disana.


...oOo...


Sisil memeluk erat mamanya yang sedang berada di dapur. Awalnya beliau tersenyum saat dipeluk putri tercintanya itu.


Tapi Mama Sisil langsung berbalik khawatir saat melihat Sisil menangis dengan wajah yang sudah berantakan.


"Sayang, kenapa nangis? Cerita sama Mama, kamu kenapa?" ucap sang mama khawatir sambil terus mengusap punggung Sisil lembut.


"Ma, Sisil mau pindah sekolah, hiks... Kita balik aja ke Kalimantan, hiks..."


"Kamu cerita dulu sama mama kamu kenapa?"


"Kak Tama, Ma... Kak Tama udah punya pacar, hiks..." ucap Sisil dengan wajah penuh dengan air mata.


Mendengar hal itupun Mama Sisil langsung paham dan kembali mendekap putrinya, mencoba menenangkan.


"Kenapa semua ini selalu terjadi sama Sisil, Ma? Apa Sisil nggak boleh bahagia, hiks..."


Sisil terus terisak dalam dekapan Mamanya. Sisil merasa kasihan pada dirinya sendiri. Kenapa cintanya tak ada satupun yang berhasil. Kenapa dia selalu menyukai orang yang tak bisa membalas cintanya.


"Bukan gitu sayang. Semua kesedihan yang kamu alami ini bukan karena kamu nggak boleh bahagia, tapi karena Tuhan sayang sama kamu. Jadi jangan pernah ngomong gitu lagi ya?" jelas sang Mama yang berhasil membuat isak tangis Sisil mulai mereda.


Sisil mengangguk kecil dalam dekapan Mamanya. Sisil meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya berhak bahagia. Karena Kak Tama bahagia dengan orang yang dicintai sekarang. Maka dia juga harus bahagia karenanya, kan?


...oOo...

__ADS_1


__ADS_2