Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
30


__ADS_3

Diam-diam Dinda terus melirik ke arah spion saat perjalanan pulang. Wajahnya terlihat cemberut dan sedari tadi dia juga enggan berbicara.


Begitu juga Tama. Dia juga sesekali mengecek ke arah spion. Melirik adik cerewetnya yang entah kenapa berubah menjadi pendiam.


Tapi memang mungkin karena keduanya tak berjodoh. Bahkan waktu mereka saling melirik pun mata mereka tak pernah berpapasan.


Tama membuang nafas panjang. Sepertinya Dinda masih kepikiran dengan masalah kemarin.


Tahu begini, Tama tak akan mengajak adiknya itu pergi ke rumah Arya. Dia merasa ikut bersalah dan bertanggung jawab atas terlukanya Dinda.


Tak ingin hal ini berlarut-larut. Tama memutuskan untuk berbicara empat mata dengan adik kecilnya itu.


Bahkan jika setelah turun dari montor nanti Dinda akan kabur sekalipun, Tama akan kejar sampai dapat.


Tapi bukannya kabur, yang ada Dinda malah menyilangkan tangan berdiri di depannya. Melihat bagaimana Dinda saat ini seperti tak ada sangkut pautnya dengan masalah kemarin.


Apa mungkin Tama yang bersalah? Tapi dia tak merasa melakukan kesalahan apapun pada Dinda, selain membawanya ke tempat Arya kemarin.


"Dinda mau ngomong sama Mas Arya. Ini penting!"


"Oke... Ayok," jawab Tama mengangguk setuju. Memangnya dia bisa menolak kalau Dinda sudah marah begitu.


"Di rumah Mas ada siapa?" tanya Dinda.


"Ada Mbok Inem?" jawab Tama tidak yakin. Lagipula kan dia juga belum masuk ke dalam rumah. Mana dia tahu jika Mbok Inem sedang keluar atau tidak.


"Om? Tante?"


"Lagi dinas keluar kota."


"Bagus. Karena di rumah Dinda ada Mamah, kita ke rumah Mas aja. Lagian aku juga udah lama nggak main kesana."


"Boleh aja. Naik lagi kalau gitu."


Dinda pun akhirnya menurut dan naik untuk pergi ke rumah Tama yang letaknya di samping kanan pas rumahnya.


Dinda menatap rumah yang hampir dua tahun ini tak pernah dia datangi. Terakhir Dinda ke sini saat kelulusan SMP.


Walaupun sudah setahun lebih, tapi nyatanya tak ada yang berubah.


"Mbak Dinda. Udah lama nggak main ke sini."


"Iya, Mbok. Biasa pas kelas 10 masih nyari temen."


"Mau minum apa, Mbak?"


"Apa aja, Mbok. Seadanya."


"Jus semangka ya mbk, kebetulan baru beli semangka "


"Boleh banget."


Mbok Inem pun bergegas menuju dapur untuk membuat jus semangka yang sudah dijanjikan.


"Masih di sini? Nggak naik?" ucap Tama yang baru memasukkan motornya ke garasi.

__ADS_1


"Di sini aja deh. Males naik turun."


"Terserah." Tama mengangguk mengerti kemudian ikut duduk bersama Dinda di ruang tamu.


"Dinda to the point aja nih ya..."


Tama mengangguk lagi.


"Mas Arya jujur deh sama Dinda, Mas punya hubungan apa sama Sisil?"


"Hah? Sisil?"


"Iya... Jangan-jangan Mas diem-diem udah pacaran ya sama Sisil?"


"Ngaco kamu. Mana ada Mas pacaran sama Sisil. Pacar Mas bukan Sisil."


"Hah?! Bukan?! Berarti Mas Arya udah punya pacar?"


Tama mengangguk lagi. Dia menatap aneh Dinda yang menutup mulut tak percaya.


"Kok nggak ngomong?" sungut Dinda kesal.


"Ya kamu nggak nanya."


"Sejak kapan?"


"Tahun kemarin."


"Baru dong?"


Tama mengangguk lagi. Dia menyeruput jus semangka yang disuguhkan Mbok Inem di meja.


"Iya, Mas. Sama-sama."


"Mbok tahu kalau Mas Arya punya pacar?" tanya Dinda random.


"Yang pernah dibawa ke rumah itu to, Mas?"


Tama mengangguk lagi. Lama-lama seru juga melihat reaksi Dinda.


"Kok aku nggak tahu? Aku dimana? Berarti cuma aku yang nggak tahu?"


"Nggak usah lebay. Baru juga beberapa orang yang tahu. Palingan itu, pas kamu main di rumah temen. Nggak tahu juga kamu pas ngapain."


"Sama siapa pacarannya?"


"Putri. Kamu kenal kok."


"Putri temenku SMP? Yang rumahnya di kompleks sebelah?"


Tama mengangguk lagi. Dinda jadi lemes mendengarnya. Bagaimana bisa Tama tega membuatnya tak tahu apa-apa.


"Harusnya Mas cerita dong sama aku. Tahu gini aku nggak minta anterin ke sekolah. Jadi, Mas bisa anterin Putri."


"Kan sekolah Putri nggak searah sama sekolah kita. Dia juga udah ada sopir yang anterin kok. Lagian Putri kan udah tahu kalau Mas sering jadi ojekmu."

__ADS_1


Benar. Dinda baru ingat kalau dulu memang Dinda selalu diantar kemanapun oleh Tama. Bahkan kerja kelompok pun selalu Tama yang mengantar Dinda.


Dulu Dinda juga sering main ke rumah Putri, karena mereka teman sekelas selama tiga tahun saat SMP.


Sayangnya mereka harus berbeda sekolah karena memang otak putri jauh lebih encer dari Dinda. Sudah pasti dia diterima di sekolah unggulan.


"Kalau ajak Putri ke rumah, Dinda di ajak ya. Udah lama Dinda nggak main sama Putri."


"Iya. Lagian kamu, udah dapat temen baru yang lama dilupain."


"Ya Awal-awal kan Putri katanya banyak tugas. Kan Mas tahu sendiri sekolah Putri kayak apa. Oh iya, kok Mas bisa pacaran sama Putri? Dia kan sukanya belajar terus, kayak yang nggak butuh pacaran gitu? Mana Putri cantik lagi. Mau-maunya dia sama Mas Arya."


Dinda menggeleng tak percaya. Dia jadi punya pikiran buruk. Jangan-jangan kakaknya ini ngepelet Putri.


"Ya bisa. Dulu kan kita sering chatan bareng. Emangnya kamu pikir Mas SMS ke siapa kalau kamu mau pulang. Kan kamu belum dikasih HP."


"Oh.. jadi karena itu."


Akhirnya Dinda menyeruput jus semangka yang sebelumnya diabaikan karena Dinda masih syok.


"Ya udah deh kalau gitu. Dinda mau pulang aja."


"Loh, udah mau pulang?"


Dinda mengangguk. Buru-buru dia habiskan jus semangka miliknya. Sayang kalau disisakan, soalnya enak.


"Kamu udah nggak galau soal kemarin?"


"Kemarin?" Dinda mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Memangnya ada hal penting apa sampai dia harus galau.


"Oh itu. Udah enggak. Tadi pagi Kak Arya udah ngejelasin semuanya."


Tama mengangguk mengerti. Pantas saja Arya pagi-pagi sudah hilang. Ternyata nyasar di kelas adiknya.


"Ya udah Dinda pulang dulu ya, Mas."


"Iya "


"Mbok makasih jusnya enak."


"Mbak Dinda udah mau pulang? Nggak sekalian makan malem di sini?"


"Enggak deh, Dinda mau tidur aja bentar. Ngantuk banget ini."


"Iya, Mbak."


Dinda akhirnya berjalan menuju rumahnya. Walaupun rumah mereka bersebelahan tapi karena halaman rumah Tama cukup luas, jadi membuat Dinda kewalahan juga.


Entah kenapa selama perjalanan pulang Dinda merasa ada yang tertinggal. Apa dia melupakan sesuatu di rumah Tama?


Baru saat Dinda membuka pintu rumah dia baru ingat akan satu hal.


"Benar juga. Kalau Mas Arya punya pacar. Terus Sisil gimana?"


Dinda menepuk jidatnya sendiri. Kenapa sifat pelupanya ini selalu saja kambuh disaat yang tidak tepat.

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi. Cinta tak bisa dipaksa. Dinda jadi merasa kasihan pada Sisil. Kenapa Sisil selalu mencintai orang di saat yang tidak tepat. Padahal dia cantik.


oOo


__ADS_2