
Sisil menghentikan sebuah taksi yang tak jauh dari area sekolah. Sambil menangis tersedu-sedu cewek bertubuh mungil itu memasuki sebuah taksi berwarna hijau.
Hancur sudah perasaannya. Dia tak tahu bagaimana bisa Arya setega itu padanya.
Bukankah dulu Arya pernah mengatakan akan menikahi Sisil saat besar nanti? Apakah Arya melupakan janjinya? Apakah hanya Sisil yang mengingat janji itu? Bagaimana bisa Arya memiliki pacar selain dirinya.
“Mau kemana, Mbak?” tanya si sopir taksi menanyakan alamat yang dituju penumpangnya.
Tak ada jawaban. Si sopir masih setia menunggu Sisil meredakan isakannya dulu. Merasa iba pada penumpang cantiknya ini.
Bukan sekali dua kali dirinya menerima penumpang yang naik taksinya sambil menangis.
Banyak alasan, dari uang tahu suaminya berselingkuh. Mendapat kabar buruk tentang keluarga atau bahkan bertengkar dengan orangtua.
"Kalau boleh tahu kenapa menangis, Mbak?" ucap si sopir mencoba membantu.
Di luar dugaan, bukannya diam Sisil malah mengeraskan tangisnya. Si sopir dibuat kalang kabut dengan suara tangisan yang terdengar dari seberang jalan itu.
Dia panik, tentu saja, bagaimana jika orang berpikir kalau sopir taksi itu berniat macam-macam pada penumpangnya.
Susah payah si sopir mencoba menenangkan gadis cantik yang duduk dikursi belakangnya itu.
Susah payah sopir taksi itu mencoba bersabar, tapi jawaban yang dia dapat membuat si sopir ingin menendang penumpang itu dari dalam taksinya.
“Huaaaa... Sisil lupa alamat rumah Aryaaaaa....” begitulah jawabannya.
Sisil terus saja mengatakan rumah itu bercat oranye dengan taman luas, gerbang tinggi dan memiliki dua lantai.
Demi Tuhan, berapa banyak rumah seperti itu di Jakarta. Apa si sopir taksi harus mengelilingi Jakarta untuk melihat rumah mana yang Sisil maksud?
Akhirnya si sopir menyerah. Dia menurunkan Sisil dan meninggalkan cewek itu yang masih tersedu.
Sisil tak punya pilihan selain kembali ke sekolah dan bertanya langsung ke Arya alamat rumahnya. Bodohnya Sisil yang meninggalkan ponselnya di rumah.
~oOo~
Arya hanya bisa menghela nafas berat saat Dinda tak menghiraukan aba-abanya sewaktu materi lapangan.
Arya jelas tahu bahwa Dinda tengah marah padanya. Dia sadar jika yang diperbuatnya tadi pagi pada Dinda sudah sangat keterlaluan. Ingin sekali Arya menenggelamkan dirinya di Samudra Pasifik.
Arya tak tahu setan apa yang merasukinya hingga menarik Dinda ke dalam masalahnya dan Sisil.
__ADS_1
Ingatkan Arya untuk meminta maaf nanti. Toh, Arya juga sudah membantu Dinda terbebas dari hukuman karena terlambat.
“Kita perlu bicara,” ucap Arya menghentikan Dinda yang berjalan bersama temannya menuju kantin.
Dinda menatap Arya garang. Sebenarnya dia tak ingin pergi. Tentu saja Dinda memiliki alasan yang layak untuk menolak permintaan Arya.
Dinda merasa selalu sial jika berada di dekat Arya. Ada saja masalah yang menimpanya. Semakin hari semakin bertambah. Dinda hanya ingin kehidupan SMA-nya damai tanpa kurang satu apapun.
Dinda merasa terlalu lelah untuk menghadapi satu masalah lagi. Ingin sekali dia menolak mentah-mentah ajakan Arya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia butuh penjelasan dan permintaan maaf dari Arya.
Dengan berat hati Dinda melangkahkan kaki ke tempat Arya membawanya. Dinda menatap jengkel Arya yang seenaknya menarik tangannya kesana dan kemari.
Dinda menarik tangannya paksa dari genggaman tangan Arya. Arya menatap Dinda sejenak. Tak ambil pusing kemudian berjalan lagi mendahului cewek itu.
"Cieee, lagi marahan ya? so sweet banget sih," ucap beberapa siswa yang mereka lewati.
Dinda menghiraukan mereka. Dia hanya fokus untuk tak menatap wajah Arya.
Bukannya dia merasa malu atau sebagainya. Hanya saja saat Dinda menatap Arya, tangannya jadi merasa gatal ingin menampar, mencakar atau melakukan hal buruk lainnya pada wajah tampan itu sanking kesalnya.
“Gue minta maaf soal tadi pagi.”
“Gue nggak maksa lo buat ngerti kondisi gue.”
‘Kenapa juga gue harus repot-repot tau.’
“Cuma itu jalan satu-satunya supaya gue bisa lepas dari Sisil. Jadi karena lo udah gampar gue dan gue udah lolosin lo dari hukuman. Jadi gue harap lo bisa maafin gue.”
Sebenarnya Dinda masih enggan untuk memaafkan Arya. “Ya, gue maafin,” tapi kata itu muncul begitu saja dari mulutnya.
Arya tersenyum senang, walaupun dia tahu Dinda nampak terpaksa saat mengatakan hal itu. Setidaknya ucapan maaf Dinda membuat Arya merasa lega.
“Arya!” teriak seorang cewek dari balik gedung tempat Arya dan Dinda berdiri.
Wajahnya terlihat geram menahan marah. Cewek itu bahkan terlihat seperti Hulk di mata Dinda.
Bukan karena cewek itu berwarna hijau. Hanya saja badannya yang bulat dan tinggi serta wajah marah membuatnya terlihat seperti Hulk yang bertransformasi.
“Kenapa?” tanya Arya.
“Jadi beneran lo selingkuh?”
__ADS_1
Oke hal gila macam apa lagi ini. Bagaimana bisa cowok setampan Arya memiliki pacar seperti Hulk ini? Tunggu dulu, bukannya pacar Arya cewek di depan gerbang tadi pagi?
Seharusnya Dinda mengikuti kata hatinya untuk tak dekat-dekat dengan Arya. Seharusnya dia mendengarkan ucapan Tama tempo hari.
“Maksud lo?”
“Cewek lo nangis tuh di pos. Cepetan gih ke sana tenangin dia. Jangan malah enak-enakan selingkuh di sini, ” ucap si cewek Hulk pergi dan menatap marah ke arah Arya dan Dinda.
Ini salah paham, LAGI. Bagaimana bisa cewek Hulk itu menyimpulkan hal seenaknya sendiri.
“Ikut gue ke pos,” titah Arya.
Ada apa dengan cowok di samping Dinda ini. Kenapa dia selalu suka menyuruh dan menarik orang untuk mengikutinya.
“Kenapa gue harus ikut sama lo?”
“Buat jelasin semuanya. Lo juga ikut terlibat.”
“Nggak mau. Elo aja yang urus masalah lo sendiri. Jangan bawa-bawa gue.”
“Lo nggak mau gue bawa-bawa nama lo demi nyelesaiin masalah gue, kan?”
"Gue nggak tau ya bakal ngomong apa aja nanti di pos, semoga aja nggak bawa-bawa nama lo lebih jauh. "
“Lo..” Dinda dibuat tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Arya barusan.
Sungguh, ingin sekali Dinda mengutuk Arya sekarang juga.
“Kalau nggak mau, ayo ikut gue!”
Dinda menghentakan kakinya kesal ke paving semen. Lagi-lagi Dinda menurut. Sial, sial, sial, kenapa semuanya selalu berakhir seperti ini.
Di sepanjang jalan Dinda terus menatap nyalang orang-orang yang ingin menggodanya.
Dia menyalurkan semua energi marahnya pada orang-orang tak bersalah ini. Masa bodoh. Suasana hatinya sedang buruk. Semoga tidak bertambah buruk lagi.
Dan sekarang marahnya hilang seketika saat melihat gerombolan kakak kelasnya dari kejauhan. Ingin sekali Dinda kabur pada detik-detik mereka sampai ke pos panitia.
Bahkan bukan hanya insting dan otaknya saja yang menyuarakan sistem bahaya, tubuhnya juga. Tapi hatinya masih sulit tergerak untuk memberanikan diri kabur dari mata nyalang kakak kelasnya itu.
Tuhan, tolong selamatkan Dinda dari kemalangan yang terus menimpanya. Tolong.
__ADS_1