
Tama sudah tak dapat menahannya lagi. Hari ini Dinda terus saja berdiam diri. Saat ditanya pun Dinda hanya menjawab seadanya.
Tama merasa sudah kehilangan adik kecilnya yang manis dan periang. Dia harus mengembalikan senyum Dinda. Tama tak tahan melihat Dinda seperti mayat hidup seperti sekarang.
Arya menatap punggung rapuh Sisil. Seusai pemakaman tadi Sisil tak menangis sedikit pun.
Awalnya Arya sangat membenci saat Sisil menangis sambil memeluknya, tapi saat ini Arya sangat ingin melihat hal itu sekarang.
Arya yang hampir satu jam lebih berdiri di belakang Sisil, kini mulai mendekat ke arah cewek itu.
Pandangan Sisil terlihat kosong. Sebenarnya Sisil bisa merasakan keberadaan Arya, tapi dia memilih menghiraukan cowok itu dan masih sibuk dengan lamunannya. Arya meraih tangan kanan Sisil kemudian menggenggamnya erat.
“Sebenarnya gue ada niatan buat minjemen bahu gue, tapi kayaknya lo nggak pengen nangis."
Mendengar hal itu seketika Sisil langsung berhambur memeluk Arya. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Arya.
Bohong jika dia tak ingin menangis. Awalnya Sisil telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menangis, tapi Arya berhasil meruntuhkan pertahanannya.
Arya mengusap punggung Sisil pelan. “Jangan pernah takut nangis. Karena gue selalu ada di sini buat lo.”
“Hiks.. Ayah.. hiks.. ayah udah nggak ada. Nggak ada yang akan ngejagain Sisil lagi,” ucap Sisil di tengah isak tangisnya.
“Masih ada gue. Gue bakalan gantiin Om Surya buat jagain lo.”
Mendengar itu Sisil melepaskan pelukannya pada Arya. Dia menatap Arya sebentar kemudian kembali bersandar pada dada bidang Arya. Isakan tangisnya sudah berhenti.
“Bohong.” Itulah kata yang dilirihkan Sisil.
“Kenapa gue harus bohong sama lo?”
“Bahkan Arya nggak nepati janji yang Arya ucapin waktu kecil dulu. Arya bilang akan menikahi Sisil, tapi sekarang Arya malah pacaran sama Dinda,” jelas Sisil.
Arya tampak terkejut mendengar penuturan Sisil. Jujur Arya memang melupakan tentang janji masa kecilnya. Tapi Arya tak benar-benar mengingkari janji tersebut. Bahkan dia belum terikat dengan siapa pun.
Hubungannya dengan Dinda hanyalah sebuah sandiwara. Ah, kenapa rasanya Arya tak rela dengan kenyataan itu.
“Gue udah putus sama Dinda,” jelas Arya yang tak ikhlas saat kalimat itu terucap. Inilah yang terbaik. Arya akan berhenti menjadi pribadi yang egois.
Tidak hanya menjaga janjinya pada Sisil, tapi dia juga bisa menjauhkan Dinda dari daftar sasaran bully kakak kelasnya.
Pasti Dinda senang mendengar berita ini. Ya, Arya yakin Dinda tak akan keberatan dengan keputusan yang diambilnya sekarang.
“Beneran? Arya nggak bohong, kan?” tanya Sisil berusaha memastikan.
Arya menggeleng pelan. “Jadi lo nggak usah khawatir. Gue bakalan jagain lo.”
__ADS_1
Sisil mengangguk senang mendengar ucapan Arya. Dia kembali memeluk Arya, tapi kali ini dengan senyuman yang tergambar di bibirnya.
~oOo~
Bahkan mungkin Dinda dapat berperan menjadi zombi dengan sangat baik tanpa make-up sekalipun.
Dinda turun dari montor Tama. Dia berjalan begitu saja menuju gerbang tanpa berpamitan kepada Tama terlebih dahulu.
“Dinda tunggu!” Dinda berbalik menatap Tama yang baru turun dari montornya.
“Udah lama nih nggak main, Mas masuk, ya?” Tama berjalan mendekat ke arah Dinda. “nggak pa-pa, kan?”
Dinda mengangguk setuju. “Iya juga ya, montornya masukin sekalian aja, Mas.”
Dinda membuka gerbang rumahnya lebih lebar saat Tama akan memasukan montornya.
Tama merasa lega karena Dinda mengizinkannya masuk. Mungkin sudah sekitar 2 tahun Tama tak pernah berkunjung ke rumah Dinda lagi.
Bukannya tak mau, dia tak memiliki waktu lagi semenjak Ujian Nasional SMP dan masuk ke SMA. Waktu Tama banyak dihabiskan dalam klub basketnya.
Tama juga merasa berbincang dengan Dinda melalui jendela sudah lebih dari cukup. Toh, mereka bukan anak kecil lagi.
“Ini, Mas, diminum. Seadanya aja ya,” Dinda meletakan nampan yang berisi 2 gelas jus di atas meja.
“Apa yang mau dilihat, Mas. Semuanya masih sama, nggak ada yang berubah.”
“Ada,” balas Tama. Dinda menghentikan gerakan meminumnya.
Benarkah? Ada yang berubah? Apa mamanya merubah letak benda dirumahnya, tapi sepertinya tidak. Apa karena melihatnya setiap hari, jadi Dinda tak menyadarinya.
“Apa? Nggak tau sih kalau ada barang yang mama pindahin.”
“Bukan barang, tapi kamu.”
Kali ini Dinda berhasil dibuat beku oleh Tama. Dinda tak bisa memungkiri kalau dirinya memang benar-benar berubah.
Jujur Dinda sendiri sangat merindukan dirinya yang dulu. Dia tak tahu bagaimana bisa cinta sejahat ini padanya.
“Kamu kenapa? Cerita deh sama Mas. Kamu sekarang jarang banget cerita? Apa sekarang Mas harus nanya dulu baru kamu mau cerita?”
Dinda menghela nafasnya. Dia masih merasa bingung. Dinda ingin bercerita, tapi dia tak tahu bagaimana untuk memulainya. Apalagi kisah rumitnya ada kaitannya dengan Tama.
Apa Dinda harus jujur pada Tama sekarang. Walaupun Dinda sudah tak memiliki rasa lagi pada Tama, tapi dia yakin pasti ada rasa canggung di antara mereka setelah ini.
“Masih nggak mau cerita?” intrupsi Tama tak sabar menunggu Dinda yang terus terdiam.
__ADS_1
“Bukannya nggak mau. Dinda bingung mau mulai cerita dari mana.”
“Cerita yang jadi unek-unek kamu aja. Nggak usah semuanya.”
Bohong kalau Tama tak ingin mendengar semua cerita Dinda, tapi dia tak mau membuat Dinda kesulitan bercerita.
Tama juga tak bisa menunggu lebih lama untuk Dinda merangkai urutan ceritanya.
Dinda menghembuskan nafasnya pelan. Dia mulai bercerita tanpa ada yang dia tutupi, bahkan tentang perasaannya pada Tama.
Tama sempat terkejut dengan hal itu. Tama juga sempat marah saat mendengar Dinda bercerita mengenai sandiwara hubungannya dan Arya. Yang lebih membuat Tama marah yaitu tentang sifat Arya saat ini.
“Mas, sabar. Bukan salah Kak Arya,” ujar Dinda berusaha menenangkan Kakaknya yang tengah kalut saat ini.
“Mas nggak percaya Arya bisa bersikap sebrengsek itu.”
“Kak..” Dinda tak percaya Tama memaki Arya di depannya.
“Nggak usah belain Arya. Itu cowok nggak pantes buat kamu bela!”
“Dinda nggak mau persahabatan Mas sama Kak Arya rusak gara-gara Dinda. Dinda nggak pa-pa kok. Dinda bakal marah sama Mas Arya kalau sampai kalian musuhan.”
Tama hendak akan protes, tapi Dinda ada benarnya. Tama juga tak ingin merusak persahabatannya dengan Arya.
Dinda merasa lega setelah berhasil menceritakan masalahnya pada Tama. Rasanya semua beban di pundaknya ikut terangkat.
Awalnya dia tak yakin dapat menceritakan semua keluh kesahnya, tapi akhirnya keluar juga.
Selesai sudah, akhirnya Tama mengetahui alasan murungnya Dinda dan juga alasan kenapa Dinda tak kunjung menceritakan semua masalah itu padanya.
Adik kecilnya ternyata sudah dewasa sekarang. Sudah saatnya Tama berhenti memperlakukan Dinda layaknya anak kecil. Tama ikut merasa lega mendengar semua keluh kesah Dinda.
“Din, akhir bulan nanti tim basket Mas mau tanding, kamu nonton ya?”
“Pastilah, Mas. Dinda pasti dateng,” ucap Dinda dengan senyum 3 jarinya.
Tama mengacak rambut Dinda sayang. “Akhirnya Mas bisa liat senyum kamu lagi.”
Dinda mengangguk sambil tersenyum. “Ya udah, Mas mau pulang aja. Kamu nggak pa-pa kan ditinggal?”
Dinda mengerucutkan bibirnya kesal. “Mas, Dinda udah gede,” ucap Dinda kesal.
Tama tertawa melihat wajah kesal Dinda. Karena terlalu lama melihat Dinda murung, Tama hampir lupa bagaimana serunya menggoda Dinda.
~oOo~
__ADS_1