
Arya berjalan masuk ke rumah mendahului Sisil. Tahun ketiga SMA ternyata cukup berat juga. Banyaknya tugas dan juga latihan-latihan ujian bahkan sudah diberikan diawal semester.
Belum lagi jika anggota OSIS meminta saran padanya. Walaupun Arya sudah bukan anggota OSIS, tapi terkadang dia masih harus ikut rapat beberapa kali karena permintaan angkatan baru.
Belum lagi basket. Karena pemain inti tahun ini tidak begitu bagus. Pelatih dan pembina basket masih manahannya satu semester lagi untuk berada di klub basket.
Sangat melelahkan. Tahu begitu Arya memilih tidak naik kelas saja sekalian. Dia juga bisa satu angkatan dengan Dinda. Jadi waktunya untuk bersama Dinda bisa lebih lama.
Tapi mau ditaruh mana wajahnya jika seorang Arya tidak naik kelas. Bukannya dekat, yang ada Dinda tidak akan mau punya pacar tinggal kelas sepertinya.
Sudahlah. Mikir apasih. Yang ada saja dulu dijalani. Arya masih berpikir positif agar tidak cepat gila.
"Wuahhhh... Lo ngapain disini?" Arya mengelus dadanya kaget melihat Sisil berdiri dibelakangnya.
"Kan dari tadi Sisil di belakang Arya."
Gara-gara terus melamun Arya sampai lupa menutup pintu kamarnya. Iya, ini semua salahnya. Bukan salah Sisil yang selalu seenaknya masuk ke kamar cowok tanpa permisi.
"Jadi mau lo apa?" tanya Arya melihat Sisil dengan senyum girangnya.
"Sisil kan tadi udah bantuin Arya ngasih kado buat Dinda, jadi giliran Arya yang bantu Sisil."
"Kemarin kan udah bantuin juga."
"Kemarin kan 50-50. Arya suka juga kan bisa deket sama Dinda."
Lama-lama Sisil tambah pinter juga, pikir Arya.
"Iya. Apa mau lo?"
"Arya harus ajak Kak Tama main ke rumah."
Arya tak yakin dengan ide Sisil. Apalagi melihat mata Sisil yang berbinar semangat. Entah apa yang akan Sisil lakukan pada Tama nanti.
Bukankah dengan dia mengiyakan permintaan Sisil sama saja dengan memasukkan sahabatnya sendiri ke kandang buaya betina. Arya tak mungkin setega itu.
"Kalau sekalian sama Dinda juga ngga pa-pa."
Ini lagi. Sisil selalu pintar merayunya dengan membawa nama Dinda. Bisa apa dia kalau Susil sudah berkata seperti itu.
"Emangnya lo mau ngapain undang Tama ke rumah tuh?"
"Aku pengen buat kukis buat Tama."
"Kan tinggal dibuat terus dikasih pas di sekolah."
"Nggak boleh. Tama harus makan kukisnya pas masih anget. Nggak boleh kalau udah lama. Nanti rasanya beda. Ya, Arya mau bantu kan? Iya, kan?"
Sisil mengguncang lengan Arya brutal. Bagaimana bisa badan sekecil boneka ini memiliki tenaga begitu besar.
__ADS_1
"Iya, iya "
"Yeay, Sisil sayang Arya." Sisil berhambur memeluk Arya.
Arya menjauhkan dahi Sisil darinya. "Udah sana keluar. Gue mau mandi."
"Oke." Sisil berjalan riang sambil keluar dari kamar Arya.
Tak lupa Arya mengunci kamarnya. Takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Tahu sendiri Sisil tak akan mau mengetuk pintu dulu saat masuk ke kamarnya.
Benar juga. Belum lagi PR Arya yang selalu mengiyakan permintaan aneh Sisil. Arya tak tahu kapan tepatnya dan bagaimana Sisil bisa suka dengan Tama. Yang dia tahu hal itu sangat membantunya.
Arya masih ingat Sisil dengan lantangnya menyatakan sudah tak menyukainya di depan sang bunda. Bahkan dia juga meminta untuk segera dipindahkan ke Jakarta saat kenaikan kelas.
Tahu yang lebih gila? Bahkan bundanya Sisil sudah tahu Tama itu seperti apa sebelum bertemu dengannya.
Arya masih ingat saat bunda meneleponnya, beliau tidak hanya bertanya kabar Sisil tapi juga Tama. Bagaimana bisa? Arya juga tak tahu.
Masalahnya bunda sudah sangat mengidamkan Tama untuk menjadi menantunya. Entah Tama sudah tahu hal ini atau belum. Arya hanya berdoa semoga sahabatnya itu dapat hidup berbahagia setelah ini.
oOo
"Liat nggak sih kalian, Mas Edo tuh ganteng bangetttttt."
Ardi hanya menggeleng kepala melihat Fany yang sudah tergila-gila dengan mas-mas tetangga sebelahnya.
"Siapa Mas Edo?" tanya Dinda yang belum tahu perihal Fany yang sudah terEdo-Edo.
"Tetangga sebelah gue. Anak kuliahan. Ya.. emang ganteng sih," jawab Ardi.
Dinda manggut-manggut mendengar penjelasan Ardi.
Fany menarik tangan Dinda untuk mendekat ke arah jendela."Lihat deh Din, ganteng kan?"
Dinda hanya manggut-manggut tak yakin.
"Ih kok Dinda reaksinya gitu doang."
"Fany lupa? Kan isi otak Dinda cuma Kak Arya aja sekarang," timpal Lola. Tumben anak itu pinter.
"Bener juga, jadi gimana Kak Arya? Kok bisa dia ngasih kado buku? Lo kan nggak lagi ulang tahun. Dalam rangka dia ngasih lo kado?" tanya Fany merubah inti pembahasan mereka.
"Jadi gini..."
Mereka bertiga sontak merapat ke arah Dinda. Hening. Khidmat mendengarkan cerita Dinda.
"Kemarin kita berempat, gue, Sisil, Mas Arya sama Kak Tama kan belanja di toko buku. Singkatnya sih gue sama Kak Arya kepisah sebentar sama yang lain terus ya gitu, ngobrol-ngobrol sedikit,"
"Kalian tahu nggak ternyata Kak Arya juga suka baca novelnya Ilana Tan. Jadi gue sebenernya pengen beli novelnya tapi lagi nggak ada uang. Tau-tau tara..." Dinda mengangkat bangga novel ditangannya.
__ADS_1
"Siapa yang ngira Kak Arya beliin novel ini buat gue. Ada ucapannya juga lagi. Ya ampun..."
Dinda melompat ke arah kasur Ardi dan berguling-guling disana sambil sesekali mencium novel ditangannya yang masih terbungkus plastik.
"Sumpah! Gue nggak bakal buka plastiknya."
"Terus novelnya nggak bisa lo baca dong?" tanya Fany kemudian.
"Enggak. Gue akan beli yang baru. Yang ini bakal gue bingkai terus gue pajang di kamar gue. Ini hadiah pertama Kak Arya buat gue nggak boleh rusak."
"Dinda udah gila," ucap Lola tak percaya.
"Banget gilanya," tambah Ardi tak habis pikir.
"Eh bentar-bentar. Lo bilang tadi lo kepisah sama Sisil dan Mas Arya, kok bisa?" tanya Fany penasaran.
"Iya... Gue juga mau tanya gitu. Bukannya Sisil suka nempel terus sama Kak Arya?" tambah Ardi.
"Oh itu, jadi Kak Arya pamit ke toilet terus ada 2 cowok yang ganggu Sisil, Mas Arya ngusir mereka dan jadi Mas Arya deh yang jagain Sisil karena Kak Arya nggak ada disana."
"Kok bisa?" tanya Ardi yang masih tak percaya.
"Ya bisa, nggak tahu juga. Akhirnya pas Kak Arya balik dari toilet dia barengan sama gue buat cari buku. Gitu deh."
"Udah jodoh guys, mau gimana lagi," tambah Dinda yang langsung dihujani bantal dari teman-temannya.
"Jadi sebenarnya mereka pacaran nggak sih?" tanya Lola penasaran.
"Iya, kan? Kalau pacaran kan pasti Kak Arya habis dari toilet nyariin pacarnya. Bukan datengin Dinda," jelas Ardi.
"Iya juga. Jangan-jangan Kak Arya mau mendua lagi," tambah Fany.
"Gue jadi selingkuhan? Nggak. Kak Arya nggak mungkin gitu," bantah Dinda. Dinda tak percaya Kak Arya seperti itu. Lagipula mana ada orang mau selingkuh terang-terangan.
"Nggak mungkin Kak Arya gitu. Lagian Sisil juga biasa aja. Nggak keliatan sedih pas gue sama Kak Arya barengan."
"Atau jangan-jangan selema ini kita salah sangka. Mereka nggak pernah pacaran," tebak Lola.
"Mana ada orang nggak pacaran tapi nganterin tiap hari ke kelas," ujar Ardi.
"Mungkin Kak Arya pengen liat Dinda," balas Fany.
Mendengar jawaban Fany berhasil membuat wajah Dinda seperti kepiting rebus. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu.
Tadi Dinda sudah hampir mau menangis saat Fany bilang selingkuhan sekarang berganti dibuat melayang karena ucapan asalnya. Sebenarnya mau temannya ini apa sih?
Apapun itu. Yang Dinda tahu hari ini dia sangat bahagia.
oOo
__ADS_1