
Dinda mengaduk-aduk baksonya. Dia merasa tak napsu makan padahal perutnya sudah merintih minta diisi.
Fany menyenggol bahu Ardi yang duduk disebelahnya. Dia menunjuk Dinda dengan dagunya, menunjukkan pada Ardi bahwa temennya itu sudah kembali menjadi zombie.
"Oi.. oi.." Ardi menjentikkan jari di depan wajah Dinda. "Makan oi, kalau lo nggak mau, sini aja baksonya biar gue yang makan. Kebetulan gue masih laper."
Tanpa diduga Dinda mendorong bakso itu pada Ardi menandakan kalau Ardi boleh memakannya.
Ardi jadi semakin kesal. Kenapa lagi sebenarnya teman satunya ini. Kenapa hari-hari selalu saja galau.
"Lo kenapa lagi sih, Din? Heran gue. Ditolak lo sama Kak Arya?" tanya Ardi kesal.
Padahal baru kemarin Dinda senyum-senyum seperti orang gila, tapi beda hari sudah mendung lagi saja wajahnya.
"Boro-boro ditolak, nembak aja belum."
"Terus lo kenapa ngelamun terus kayak gitu?" tanya Fany heran.
"Dinda ada masalah apa?" tanya Lola khawatir.
"Noh, liat noh. Lola aja sampe khawatir sama lo. Diem, diem, kesambet entar lo lama-lama," ucap Ardi yang lasung diamit-amitin oleh Dinda.
"Jangan kesambet dong, ngeri tahu. Gue kan takut setan." Dinda jadi bergidik ngeri mendengarnya.
"Ya makanya cerita lo kenapa?" desak Fany kemudian.
"Gue cuma lagi bingung aja, lagi pening ini dari kemarin."
__ADS_1
"Dinda sakit? Udah minum obat belum?" tanya Lola tambah khawatir.
"Enggak, gue nggak sakit. Cuma lagi banyak pikiran."
"Mikirin apa sih? Masih bingung cara ngomong ke Kak Arya?" tebak Ardi jengkel karena Dinda terus saja berbelit-belit.
"Gue cerita ya, tapi jangan sampai ember lo semua. Jangan sampe teriak-teriak disini. Anteng aja pokoknya." Ulti Dinda yang dibalas anggukan kepala oleh yang lain.
Apalagi Ardi. Tiba-tiba dia jadi antusias. Entah kenapa dia merasa akan mendengar sesuatu yang seru dari Dinda.
"Jadi, kemarin gue baru tahu. Ternyata selama ini Mas Arya udah punya pacar."
"Hah?! Gimana?!" tanya Ardi terkejut.
Fany membekap mulut Ardi sebelum mesin motor yang berada di mulutnya terus digas.
"Serius?" tanya Fany memastikan.
"Tapi bukannya lo udah nggak suka sama Mas Arya?" selidik Ardi. Karena hal itu seharusnya tak membuat Dinda sedih.
Yang seharusnya sedih mendengar Tama punya pacar itu Ardi, bukannya Dinda.
"Iya. Tapi Sisil gimana?"
"Bisa-bisanya lo peduli sama ulet bulu ketimbang temen lo sendiri. Gue juga sedih tahu denger ini. Peka dong, Din," ucap Ardi sedih sambil mengelap air mata yang sebenarnya tak keluar sama sekali.
Mau tak mau Dinda harus mengusap lembut bahu Ardi. Mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Bener juga. Nanti kalau Sisil balik suka ke Kak Arya lagi gimana? Mereka jadi nikah dong?" ucap Fany syok.
"Tunangan ogeb," ucap Ardi sambil menoyor kepala Fany, "kita masih kecil. KTP aja belum punya."
Fany meringis sakit sambil mengusap kepalanya yang baru ditoyor Ardi.
"Iya juga ya. Kok gue nggak kepikiran ke sana. Gue cuma ngerasa kasihan aja sama Sisil."
"Kak Arya udah tahu belum kalau Mas Arya punya pacar?" tanya Lola penasaran.
"Kayaknya belum deh. Soalnya Mas Arya tuh bukan tipe yang suka cerita kalau nggak ditanya. Ngeselin banget memang itu orang."
"Kalau saran gue sih lo buru-buru buat kejelasan sama Kak Arya. Sebelum yah... lo nyesel," usul Fany yang disetujui oleh yang lain.
"Terus Sisil?"
"Ngapain lo mikirin Sisil. Lagian Kak Arya kan nggak pernah suka sama Sisil. Jadi lo nggak perlu ngerasa bersalah gitu."
Drrt... Drrt...
Dinda membuka chat diponselnya. Ternyata itu pesan dari Arya. Isinya Arya mengajak Dinda untuk pulang bersamanya. Dia juga sudah izin pada Tama dan tinggal info ke Sisil.
"Siapa?" tanya Ardi ingin tahu. Karena setelah melihat ponsel, wajah Dinda berubah menjadi lebih suram.
"Kak Arya. Dia ngajak gue pulang bareng nanti."
"Sip. Kesempatan bagus nih. Jangan sampe lo lewatin ini. Sore nanti pokoknya kalian harus jadian," ucap Fany menegaskan.
__ADS_1
"Bener banget. Cepet-cepet deh lo ubah status sana," tambah Ardi yang membuat kepala Dinda semakin pusing.
oOo