Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
33


__ADS_3

Tama terkikik geli membayangkan bagaimana senangnya Dinda nanti. Bisa-bisanya dia dan Dinda memiliki pacar diwaktu yang hampir bersamaan.


Padahal dulu Arya merupakan teman terakhir yang mungkin akan Tama izinkan untuk mendekati adiknya. Tapi siapa sangka Arya memiliki sisi dewasa juga.


Apalagi Dinda juga sudah suka dengan Arya. Jadi seperti keadaan juga merestui hubungan keduanya. Memaksa Tama mau tidak mau harus merestui hubungan keduanya.


"Mas ngapain? Senyum-senyum kok sama montor?" tanya Mbok Inem bingung.


Tama memang sedang mencuci montor di halaman rumahnya dan Mbok Inem sedang menyiram tanaman.


"Hehehe.. enggak, Mbok. Keinget kejadian lucu aja," balas Tama sambil nyengir.


"Loh, tumben Mbak Dinda pulang naik taksi, Mas."


"Mana?"


Tama langsung keluar untuk mengecek. Ternyata benar, Dinda pulang menggunakan taksi dan bukan bersama Arya. Apa yang terjadi? Bukannya seharusnya mereka pulang bersama.


"Dinda kok udah pulang?" tanya Tama bingung.


"Mas... Arya.." balas Dinda sambil memasang wajah menyedihkan.


"Ini semua gara-gara Mas Arya, hueee..." Kemudian Dinda berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjelaskan apapun.


Tama hanya memasang wajah bingung tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya harusnya Arya yang bersama Dinda, tapi kenapa jadi dia yang salah.


Tak lama kemudian Arya datang dengan motornya yang langsung disandera Tama masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" interogasi Tama pada temannya yang beberapa saat yang lalu sempat dia nilai telah berubah menjadi lebih dewasa.


oOo


"Dinda.. kamu kenapa sayang bajunya kok basah gitu?" tanya Mama Dinda khawatir melihat anaknya begitu berantakan.


"Mamaaaa.. Dinda mau mandi ajaaa.." padahal Dinda mau bilang mati, tapi tidak berani. Bisa kalang kabut dan heboh mamanya nanti.


"Iya.. iya.. kamu mandi dulu. Tapi kamu kenapa bisa seperti ini?" Mama Dinda mengusap pucuk kepala anaknya sayang.


"Tadi Dinda ketumpahan jus, Ma. Dinda malu banget.. hueee.."


"Udah-udah nggak pa-pa. Mau dibuatin susu?"


Dinda menggeleng pelan. "Dinda mau mandi terus istirahat aja."


Dinda kemudian naik ke kamarnya untuk segera mandi dan mencuci seragamnya sekalian. Dia tak mau noda dibaju seragamnya terus mengingatkan pada memori memalukan.


oOo


Tama menggeleng takjub dengan apa yang baru diceritakan Arya. Bisa-bisanya adik perempuannya berbuat hal spektakuler seperti itu di depan orang yang dia suka.


Beberapa kali Tama menahan tertawa geli tapi disamping itu juga dia merasa kasihan pada Dinda. Sudah jelas jika wajahnya takkan pernah tertolong.


Belum lagi hal ini kemungkinan membuat keduanya takkan bisa menjadi sepasang kekasih. Tama sangat yakin Dinda takkan mampu menanggung malu seumur hidup jika memaksakan diri untuk berpacaran dengan Arya.


"Kasih gue solusi dong," tanya Arya sambil menopang kepalanya. Rasanya kepalanya begitu berat. Kalau bisa ingin rasanya Arya taruh saja kepalanya seperti helm.

__ADS_1


"Aduh.. gimana ya. Kayaknya kalian berdua udah nggak tertolong deh."


"Sialan lo, seneng kan lo kalau gue nggak jadi sama adik lo."


"Biasa aja sih gue. Nggak seneng nggak sedih. Tapi demi kebaikan bersama gue saranin lo jangan nemuin Dinda dulu deh. Pasti dia masih malu banget."


"Ntar kalau dia ngiranya gue ngejauhin dia gimana?"


"Ya bagus. Kan Dinda jadi nggak kepikiran malunya pagi. Dia jadi kepikiran hal lain."


"Yakin lo?"


"Seratus persen yakin. Ntar kalau gue rasa lo udah bisa ngomong sama Dinda, ntar gue info."


"Oh iya dan satu lagi. Lo jangan dulu deh anter-anter Sisil ke kelas. Pokoknya lo ngilang aja dulu."


"Gue beneran percaya ya nih sama lo. Gue pegang pokoknya kata-kata lo."


"Iya, gampang. Udah lo mending pulang dulu sana. Dinda gue yang urus."


"Oke deh. Gue balik kalau gitu. Jangan lupa kasih info secepatnya."


"Iya, iya."


Akhirnya Arya memutuskan menerima usulan Tama dan pulang. Semoga saja semuanya segera berakhir. Arya tak ingin hal ini membuat Dinda sedih berlarut-larut.


oOo

__ADS_1


__ADS_2