Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
35


__ADS_3

Sudah jelas bahwa kisah cinta Dinda memang seperti sinetron Indonesia yang sebenarnya terlihat di depan mata, tapi entah kenapa berlarut-larut.


Ardi hanya bisa tertawa sampai saat ini saat Dinda menangis meratapi nasibnya.


"Hahaha.. aduh duh, perut gue sakit banget. Bisa-bisanya lo ya, Din. Bisa nggak sih sehari aja hidup lo lancar lurus kek jalan tol gitu. Perasaan hidup kok ribet banget."


"Jahat banget sih lo, Di. Temen susah malah diketawain gitu." Fany menoyor kepala Ardi.


Ardi hanya berdumel sambil memanyunkan bibirnya kesal akibat toyoran Fany yang sakitnya luar biasa.


"Terus hubungan kalian gimana? Beneran nggak ada harapan dong, Din?"


Fany dan Ardi tak percaya mendengar kalimat jahat itu keluar dari mulut Lola.


Sedangkan wajah Dinda semakin mendung mendengarnya.


"Adalah. Lo ngomong apaan sih, Lol. Kak Arya juga paling sekarang udah lupa sama masalah kemarin. Biasa kali orang punya salah. Kayak yang lain nggak pernah punya salah aja." Buru-buru Ardi menenangkan Dinda.


Mendengar kalimat jahat dari orang lain membuat Ardi jadi berubah perihatin kepada Dinda.


Apalagi Dinda sakit hati setelah mendengar perkataan dari Lola, lebih berkali lipat tak terima dia.


Sedangkan Fany menjadi semakin bingung sebenarnya Ardi itu mau menghibur atau mencela Dinda. Kenapa dari pagi moodnya selalu saja berubah-ubah.


Kenapa teman-temannya tidak ada yang benar akhir-akhir ini. Bikin pusing semua.


"Tapi Kak Arya kek jauhin gue gitu nggak sih?" ucap Dinda sedih.


"Siapa yang ngomong?" tanya Fany tidak setuju.


"Buktinya tadi dia nggak nganter Sisil ke kelas terus sekarang Kak Arya juga nggak ada di kantin."

__ADS_1


"Mana bisa kayak gitu jadi bukti. Mungkin Kak Arya lagi repot aja. Udah, lo tenang aja. Nggak usah mikirin hal-hal nggak penting."


"Iya, Din. Udah lo santai aja. Lagian pengorbanan gue buat ngerelain Kak Arya buat lo jadi sia-sia dong kalau kalian berdua nggak jadi pacaran."


Ucapan Ardi langsung disetujui Fany dan Lola. Dinda hanya bisa kembali memeluk Fany.


Dinda merasa kepalanya mau meledak karena banyak pikiran. Dia hanya bisa memeluk Fany erat-erat agar tidak menangis.


...oOo...


Arya merasa berat untuk makan malam hari ini. Bagaimana tidak, hari ini keluarganya tengah berkumpul di meja makan. Pertanda buruk, pasti mereka akan mengungkit lagi soal pertunangan.


Arya tak habis pikir bagaimana bisa keluarganya begitu kekeh untuk melanjutkan pertunangan ini.


Walaupun memang sebagian besar keluarga dari Kakek Arya menikah karena perjodohan, tapi bukan berarti hal ini akan bekerja juga untuknya.


"Arya, ayo duduk sini sayang," ucap Mama Arya memundurkan kursi disebelahnya.


Arya menarik nafas kecil sebelum tersenyum ke arah sang mama.


"Enak ya kalau kita bisa kumpul bersama seperti ini. Iya kan, Pah?" ucap Mama Arya yang disetujui oleh suaminya.


"Nggak sabar sebentar lagi kita bisa jadi keluarga besar," tambah nyonya rumah Mahendra itu.


Trak!


"Maaf. Sendoknya hampir jatuh," ucap Arya membenarkan letak sendok dimejanya.


Seketika suasana berubah menjadi hening. Sisil melirik mamanya sebentar, kemudian mamanya mengangguk mengizinkan Sisil untuk berbicara.


"Tante.. sebenarnya Sisil dan Arya sudah sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan ini. Kemarin mama juga sudah ngobrol juga sama tante."

__ADS_1


"Tapi, Sil..."


Sisil menggeleng pelan. "Ini semua tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Ini keputusan Sisil sendiri. Karena Sisil sendiri sudah tidak bisa melanjutkan pertunangan ini."


Arya menatap Sisil sendu, kemudian tersenyum tipis. Orang yang bisa meyakinkan mamanya memang hanyalah Sisil. Dan pasti keberanian Sisil ini tidaklah mudah.


"Sisil, kamu tenang saja. Soal perasaan semuanya akan berjalan seiring waktu. Nanti juga lama kelamaan Arya bisa menerima pertunangan ini. Om dan Tante dulunya juga begitu."


"Tapi Tante, Sisil sudah suka sama orang lain. Sisil sudah nggak suka lagi sama Arya."


Mama Arya terkejut bukan main. Awalnya dia merasa ini semua pasti paksaan dari Arya. Tapi setelah melihat keyakinan dari mata Sisil, akhirnya beliau menyerah dan memilih untuk percaya.


"Gimana nih, Pah?"


"Tapi Sisil, Arya sudah berjanji pada mendiang papamu untuk selalu menjagamu di masa depan. Sepertinya kamu harus memikirkannya lagi."


Sisil menggeleng sambil tersenyum. "Tanpa ikatan pernikahan pun, Arya selalu jaga Sisil kok, Om. Benerkan, Arya?"


Arya mengangguk yakin. "Papah sama Mamah nggak usah khawatir. Arya akan tetap jaga Sisil dengan cara Arya sendiri."


"Sepertinya Mamah harus menyerah," ucap Tuan Mahendra kepada istrinya.


Nyonya Mahendra beranjak dari kursinya berhambur memeluk Sisil.


"Gimana dong, Pah. Mamah sedih banget. Mamah nggak jadi punya mantu secantik Sisil. Papah sih punya anak keras kepala banget kayak Arya, kan Sisil jadi nggak suka sama Arya, hiks.."


Sisil mengusap punggung Nyonya Mahendra sayang. "Tante tenang aja. Bagaimana pun Sisil tetap selalu jadi anak perempuan Tante."


"Boleh?" tanya Nyonya Mahendra menghentikan tangisnya.


Sisil mengangguk semangat. Kemudian Nyonya Mahendra kembali memeluk Sisil erat.

__ADS_1


Arya tersenyum senang ke arah Sisil karena akhirnya semua ini terselesaikan juga. Rasanya beban dipundak Arya sedikit berkurang. Rasanya benar-benar melegakan.


...oOo...


__ADS_2