Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
11


__ADS_3

Untuk hari ini akhirnya Dinda bisa masuk ke sekolah bersama Tama. Bolehkah Dinda ber-hiperbola sebentar. Karena hari ini sangat indah baginya.


Bahkan malaikat sekalipun tak akan Dinda izinkan menghancurkan hari indahnya. Dengan menatap wajah Tama dari samping berhasil membuat hati beku Dinda meleleh dengan paras tampan cowok itu.


Salahkan Arya yang akhir-akhir ini membuat hatinya beku. Oh, kenapa harus membawa nama cowok menyebalkan itu dalam lamunannya.


Set


Siapa orang lancang yang berani mengganggu khayalan indahnya. Sial. Kenapa Dinda harus bertemu dengan Arya sepagi ini.


Catat! Yang tadi bukan hanya sebatas syair. Karena yang berada di depan Dinda ini bukanlah malaikat, melainkan SETAN yang menjelma menjadi manusia. Dinda lupa menambahkan makhluk satu ini.


Lihat senyum komersialnya itu. Jika saja Dinda tak mengecap dirinya sebagai hater Arya, mungkin Dinda akan bertekuk lutut di depan Arya.


“Sorry, adiknya gue pinjem bentar,” ujar Arya sambil menarik tangan Dinda menjauh dari Tama.


“Mau lo bawa kemana?” tanya Arya yang menghentikan langkah mereka dengan meraih bahu Dinda.


“Ada urusan bentar.”


Tama pun melepaskan pegangannya. Dia masih berdiri di sana. Melihat Dinda yang ditarik entah kemana oleh Arya.


Bukannya Tama tak tahu, bahkan dia sangat tahu tentang berita yang tengah hangat di sekolahnya. Hanya dia belum ingin mempercayai berita itu sebelum mendengar dari orang yang bersangkutan secara langsung.


~oOo~


“Apaan sih?” tanya Dinda kesal sambil menghempaskan tangan Arya.


Bukannya lepas, tapi kedua tangan yang saling bertautan itu malah membentur pohon yang berada di dekat mereka.


Dinda meringis kesakitan karena ulahnya sendiri, tapi hal itu berhasil membuat Arya melepaskan genggamannya.


“Elo itu pacar gue. Ingat?”


“Gue kan jadi pacar bohongan lo cuma di depan Sisil.”


Bagus. Bahkan Dinda sudah tahu nama dari cewek aneh maniak Arya itu.


“That’s right.”


“Sisil kan nggak sekolah di sini, terus kenapa kita harus akting juga.”


“Emang, tapi liat tu.”


Arya menunjuk arah dengan dagunya. Seketika Dinda ikut terhipnotis untuk menatap ke arah yang dimaksud.

__ADS_1


Ya Tuhan, bagaimana bisa ada makhluk macam Sisil. Lihat! Bahkan sekarang dia melambaikan tangannya ke arah mereka sambil tersenyum di depan pagar sekolah.


“Ngapain lo ngajak Sisil ke sekolah?”


“Siapa yang ngajak. Orang dia buntuti gue pake taksi.”


“Gila tu cewek,” ujar Dinda tak percaya.


“Banget gilanya,” tambah Arya.


“Jadi gue anter lo sampe depan kelas dan gue juga yang nganter lo pulang nanti.”


“Nggak mau, gue pulang sama Mas Arya. Titik.”


“Oke kalau lo mau Tama tau perasaan lo.” Arya sudah hampir melangkah, tapi buru-buru Dinda menarik tangannya lagi.


“Iya, iya.. terserah lo.”


Hampir Dinda kena serangan jantung tadi. Bisa mati Dinda kalau sampai Tama tahu bagaimana perasaannya.


Dinda belum siap dijauhi Tama. Dia masih ingin menghabiskan waktunya dengan Tama walaupun sebagai adik.


“Tangan,” ucap Arya sambil menengadahkan tangannya.


Benarkan? Jika Dinda berada di dekat Arya pasti harinya tak ada yang beres. Arya itu petaka bagi Dinda.


“Ekhem, masih pagi, ekhem...” ribut siswa yang berada di luar kelas.


Demi kerang yang dipuja spongebob, ingin sekali Dinda menceburkan dirinya ke Bikini Bottom agar terhindar dari mata dan mulut iseng temannya.


Terus saja Dinda menggerakan tangannya tak nyaman dalam genggaman Arya. Ingin lepas sebenarnya, tapi bukannya melepaskan genggaman tangannya, Arya malah lebih mengeratkan genggaman itu.


Dinda menatap Arya horor. Dasar genit, cari-cari kesempatan dalam kesempitan.


Bukankah mereka sudah jauh dari gerbang, tapi kenapa Arya terus menggenggam tangannya.


“Nanggung bentar lagi sampai,” ucapnya tenang.


Untuk kali ini Dinda tak ingin menuruti Arya, karena tugasnya hanya menjadi pacar bohongan Arya di depan Sisil. Jadi Dinda tak memiliki kewajiban untuk mengumbar kemesraan di depan siswa yang lain.


Setelah terus berjuang, akhirnya tautan tangan mereka terlepas. Walaupun sebenarnya tinggal beberapa langkah lagi untuk menuju kelasnya.


Dinda berjalan mendahului Arya untuk masuk ke dalam kelas. Tanpa Arya sadari dia juga ikut masuk ke kelas tersebut.


“Mau ngapain lo masuk?” tanya Dinda bingung saat Arya ikut masuk.

__ADS_1


Arya sendiri tak tahu harus menjawab bagaimana. Dia tak sadar jika dirinya sudah masuk ke dalam kelas Dinda, bahkan beberapa teman Dinda menatap Arya penuh minat.


“Hanya..” Arya mengacak rambut Dinda pelan. “mau pamit balik ke kelas,” kemudian Arya bergegas keluar kelas.


Ada apa dengan Arya. Kenapa dia jadi seperti ini. Bahkan tadi Arya sempat berpikir kalau itu bukan dirinya. Kerasukan setan apa Arya sampai berbuat manis pada Dinda.


“Cie Dinda, dianterin sampe kelas, cie..”


“Apaan sih!” ucap Dinda kesal. Baiklah, selamat Arya karena kamu berhasil membuat Dinda bad mood maksimal.


Fany dan Ardi yang kini menjadi teman sekelas Dinda bergegas duduk di depan bangku cewek itu untuk meminta penjelasan. Jangan tanyakan Lola karena dia berbeda di kelas lain.


Lola ikut dekat dengan Dinda karena merupakan sepupu Ardi yang rumahnya bersebelahan. Bahkan mereka berangkat sekolah bersama. Dan eits.. cewek yang dibicarakan baru saja muncul dari pintu kelas.


“Jangan bilang ini salah paham lagi?” tanya Fany setelah Lola berhasil duduk di sebelah mereka.


“Ceritanya panjang,” jawab Dinda lemas. Ya, Dinda rasa dia memang butuh seseorang untuk bercerita.


“Oke, kita punya waktu panjang pas istirahat nanti,” jawab Lola santai.


Walaupun sejujurnya penjelasan dari Dinda yang membuat Lola bergegas berlari ke kelas X IPA 1. Tapi tak enak juga jika mendengar cerita sepotong-sepotong. Akhirnya mereka sepakat untuk membahas hal itu waktu istirahat.


Karena tak ingin kedatangan Lola sia-sia, mereka memilih untuk bertukar alamat rumah agar lebih mudah jika mereka ingin berkunjung ke rumah satu sama lain.


Temannya juga memuji Dinda yang telah menggunakan WhatsApp.


Awalnya Dinda tak tertarik dengan aplikasi WhatsApp. Masa bodoh dengan orang-orang yang mengatainya jadul.


Tapi lain cerita jika yang mengoloknya adalah Arya. Dinda menjadi mudah tersulut emosi dan ingin menunjukkan detik itu juga kalau dia bisa.


Memang dasar manusia satu itu. Di sekolah dan di chat sama saja. Sama-sama menyebalkannya.


"Ah, Kak Arya ganteng banget," celetuk beberapa teman sekelas Dinda di pojok sana.


Bahkan hanya mendengar namanya disebut saja membuat Dinda marah.


Kehidupan masa SMA yang aman dan tenang yang Dinda idamkan sepertinya hanya tinggal angan-angan saja.


Dinda telah dipaksa untuk berhenti bermimpi menjadi siswa biasa. Karena hari-hari sekolahnya tidak akan baik-baik saja selama Arya belum lulus dari sekolah ini.


Harapan tinggalah menjadi harapan. Dinda menatap beberapa siswa diluar yang melewati kelasnya sesekali berbisik sambil menatapnya.


Pasti tak ada siswa di sekolah ini yang tak mengenalnya lagi. Dia sudah sangat dikenal dengan cara yang berbeda.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2