Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
38


__ADS_3

Padahal Arya sudah berusaha agar siswa yang lain tak melihatnya dengan Sisil kemarin, tapi ternyata masih saja dia kecolongan.


KemungkinKemungkinan ada yang melihat Arya dan Sisil berpelukan saat di UKS kemarin. Karena hari ini entah sudah berapa siswi yang bertanya perihal benar tidaknya masalah itu.


Bahkan beberapa siswa perempuan di kelas Arya saling beradu mulut, ada yang mengatakan semuanya bohong tapi ada juga yang mencaci Arya. Mengatakan bahwa dia tukang selingkuh dan sebagainya.


Sebenarnya Arya tak perduli dengan semua ucapan dan apa yang mereka pikirkan. Arya hanya memikirkan apa yang sedang dipikirkan Dinda saat ini.


Dinda sama sekali tak menanyakan apapun padanya. Belum lagi dari tadi pagi Arya tak melihat Dinda dimanapun.


Dinda seperti benar-benar menghindar darinya. Apa yang sebenarnya Dinda pikiran tentangnya sekarang.


Apa Dinda sedang juga salah paham dan marah padanya karena hal ini?


Arya juga sudah beberapa kali mengirim chat penjelasan tapi tak kunjung ada jawaban dari Dinda. Bahkan pacarnya itu juga tak mengangkat saat Arya menelepon.


Drrt.. drrt..


Arya langsung mengambil ponselnya saat benda itu bergetar menandakan ada chat masuk.


'Dinda percaya kok sama Kak Arya.'


Begitulah balasan Dinda dari banyaknya chat dari Arya. Arya hanya bersikap jujur.


Bodohnya Arya. Walaupun dia jujur, tapi siapa perempuan yang tak akan marah melihat pacarnya sendiri memeluk wanita lain.


oOo


"Udah. Lo tuh sekali-kali jual mahal kek ke Kak Arya. Nggak usah dikit-dikit lo maafin," jelas Ardi saat Dinda mencoba meminta nasehat kepada teman-temannya.

__ADS_1


"Tapi gue seenggaknya gue mau ngasih kesempatan, Di sama Kak Arya. Gue jugaau belajar buat ngertiin dia."


"Iya. Terus habis itu dianya keseringan, terus jadi kebiasaan. Lagian ya, Din, Sisil tuh dah gede. Mau sampai kapan bergantung terus sama Kak Arya? Apa iya kalau kalian nikah Sisil juga mau ngintil Kak Arya terus. Kalau nggak dibiasain mandiri, Sisil nggak akan pernah bisa lepas dari Kak Arya. Entar lo sendiri yang sakit terus ujung-ujungnya nangis," cerca Ardi dalam sekali tarik nafas.


Dinda hanya bisa diam mendengar wejengan dari Ardi.


"Di, lo nggak capek ngomong segitu cepetnya? Udah kek raper aja lo ngomong cepet sambil marah-marah," ucap Fany takjub.


"Lo juga! Awas lo ikutan bela Kak Arya!"


Fany menggeleng sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Gue golput aja kalau ini. Tergantung Dinda maunya gimana aja."


Dinda menatap layar ponselnya. Lagi-lagi Arya menelponnya entah sudah keberapa kalinya.


Puluhan chat Arya juga belum Dinda balas. Dia belum tahu bagaimana akan bersikap. Bahkan sekarang dia dan teman-temannya harus langsung menghilang pergi untuk menghindari Arya.


Dinda menghela nafasnya berat. Dia akhirnya membulatkan tekad untuk membaca semua chat dari Arya.


...oOo...


Hari itupun sudah berlalu. Dinda sudah bisa ditemui, tak seperti sebelumnya. Tapi hubungan mereka jadi terasa sedikit canggung.


Belum lagi dengan semua desas-desus dari para siswa yang nonstop menjadikan mereka hal yang lumrah sebagai tema obrolan.


Ingin sekali Arya memasukkan roti yang sedang dia makan ke mulut mereka semua. Tapi Arya takkan bisa melakukan hal itu.


"Sorry ya, kejadian ini terulang lagi." Sesal Arya sambil mengusap tangan Dinda perlahan.


Dinda menggeleng pelan. Dia berusaha menjadi dewasa saat ini. Walaupun teman-temannya selalu mengatakan bahwa dia berhak marah kepada Arya, tapi nyatanya Dinda tak bisa melakukan itu.

__ADS_1


"Sorry kamu harus kupaksa mengerti dengan keadaanku. Aku udah terlanjur berjanji untuk menjaga Sisil. Jadi .."


"Dinda ngerti kok, Kak. Lagian Kak Arya dan Sisil kan udah seperti kakak-adik kayak Aku dan Mas Arya. Kalau Kakak aja bisa ngertiin aku sama Mas Arya. Kenapa juga aku nggak bisa ngelakuin hal yang sama," jelas Dinda yang berhasil membuat Arya lega.


Benar. Perasaan Arya pada Sisil tak lebih dari seorang kakak yang menjaga adiknya.


Arya sangat bersyukur Dinda dapat mengerti dirinya dan dapat menerima posisinya sekarang.


Arya menarik perlahan kepala Dinda agar bisa bersandar pada bahunya sekarang.


Arya tahu menjadi Dinda pasti tidaklah mudah. Sebenarnya Arya tak ingin Dinda terluka dan memilih agar Dinda bersikap egois saja padanya. Tapi dalam lubuk hatinya Arya sangat merasa bersyukur Dinda memilih untuk mengerti.


Seharusnya Arya bisa menjadi lebih baik lagi. Dia harus menjadi lebih kuat karena ada dua orang yang ingin dia jaga sekarang.


...oOo...


Ardi tampak mengunyah rotinya kesal. Padahal sudah jelas Ardi masih meminta Dinda untuk jual mahal dengan Arya, tapi lihat sekarang bukannya jual mahal bahkan Dinda sendiri yang datang menghampiri Arya.


"Lo kenapa sih, Di. Nggak ada kok yang mau ambil roti lo," ucap Fany kesal melihat cara makan Ardi yang jorok.


"Gue kesel banget, Fan sama Dinda. Temen kita satu itu bucin banget jadi pacar. Ntar bisa gila tuh orang kalau patah hati."


"Ya udah lah, Di. Kita kasih tahu pelan-pelan. Bukan malah lo marah-marah begini," balas Lola menenangkan.


"Iya gue tau. Tapi lagi pengen marah aja. Awas tuh anak kalau berani curhat galau lagi gara-gara Sisil, gue jejelin mulutnya sama roti," ucap Ardi kesal.


Fany dan Lola menghela nafas panjang. Mereka berdoa semoga saja Dinda tak akan mendapat amukan Ardi.


Jika hal itu terjadi, mereka hanya bisa menjadi tameng Dinda nantinya.

__ADS_1


...oOo...


__ADS_2