
Arya menumpukan kepalanya pada meja, pusing. Padahal bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tapi Arya masih setia berada di tempatnya.
Bagaimana tidak pusing. Sejak dari kemarin sampai pagi ini kalimat Sisil terus terulang di kepalanya seperti mantra.
"Jangan lupa ya Arya, ajak Tama ke rumah," ulang Sisil sebelum turun dari montor dan menyusul Dinda yang sedang berjalan di tengah lapangan menuju kelasnya tadi pagi.
Hampir setiap jam Sisil selalu mengingatkannya. Entah bagaimana nasibnya jika Arya tak berhasil mengajak Tama ke rumah hari ini.
Arya tidak akan terkejut jika cewek itu menceritakan semua kejelekannya kepada Dinda. Mau ditaruh dimana wajahnya nanti jika sampai hal itu terjadi.
"Kenapa lo, Bro? Ayo ke kantin," ajak Tama dan teman Arya yang lain.
Sebenarnya Tama sudah curiga kalau temannya ini ada masalah. Pasalnya sejak pagi tadi Arya terlihat uring-uringan.
Tama tak berani bertanya jika Arya seperti tak ingin bercerita kesiapan pun.
Arya berdiri sambil mengangguk lesu menerima ajakan teman-temannya untuk ke kantin.
Bahkan setelah sampai di kantin ketiga temannya hanya bisa saling melirik karena Arya terus-menerus menghela nafas panjang. Terlihat seperti memiliki beban yang begitu berat.
Bagaimana tidak berat. Walaupun mereka bertiga berteman cukup lama, tapi anehnya mereka hanya pernah sekali atau dua kali berkunjung ke rumah masing-masing. Itupun saat mereka sakit.
Mereka lebih sering kumpul ditempat lain untuk nongkrong bareng anak kelas ataupun anak basket yang lain.
__ADS_1
Jadi akan terasa aneh jika tiba-tiba Arya mengajak Tama untuk main ke rumahnya. Belum lagi kalau teman-temannya yang lain juga mau ikut.
"Gue udah nih, mau main basket bentar kayaknya. Lo berdua ikut nggak?" tanya Kio dan Bagas yang sudah selesai makan.
Arya membalas mereka dengan gelengan lesu.
"Enggak, kalian aja. Kebanyakan makan gue," tolak Tama yang membuat keduanya pergi lebih dulu.
"Bro lo kenapa? Diem aja dari tadi pagi," tanya Tama akhirnya.
"Jangan bilang gara-gara nilai MTK lo tadi dibawah KKM?"
Arya menatap Tama bingung. Perasaan dari dulu nilai matematikanya tak pernah ada peningkatan. Tidak pernah naik ataupun turun. Segitu-gitu saja dan Arya selalu masa bodoh dan tak pernah ambil pusing.
"Santai aja. Kan nilai Bahasa Inggris lo tinggi. Nggak mungkin lo nggak lulus cuma gara-gara nilan MTK."
"Iya. Gue mingkem terus dari tadi gara-gara nilai MTK," jawab Arya pasrah.
"Hah? Seriusan? Ya udah sih nggak usah pusing. Ntar gue ajarin, gue kan lumayan bisa kalau MTK."
Masa bodoh dengan nilai matematika. Arya hanya perlu membawa Tama ke rumahnya hari ini.
Tunggu dulu. Bukannya ini bisa jadi alasan untuk mengajak Tama ke rumahnya?
__ADS_1
"Serius? Hari ini ya."
"Harus banget ya hari ini?"
"Iya harus. Sebelum nanti kita mager terus berubah pikiran. Jadi harus disegerakan."
"Tapi gue belum ngabarin Dinda."
"Ajak aja Dinda sekalian. Kan ada Sisil juga di rumah. Biar sekalian nemenin Sisil."
"Oke deh,"
"Yes!"
"Lo seseneng itu?"
"Eh enggak, maksud gue thanks. Kepala gue udah nggak pening lagi."
"Iya, santai aja. Lo kayak sama siapa aja."
Akhirnya Arya bisa bernafas lega. Nyawanya terselamatkan. Dia tak harus menjadi tumbal Sisil.
oOo
__ADS_1