
Setelah acara sekolah berakhir, beberapa hari kemudian merupakan pengumuman hasil kelulusan siswa kelas dua belas.
Tentu saja seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa sekolah Arya dinyatakan lulus 100%.
Untuk merayakan kelulusan anaknya Mama Arya mengadakan acara makan malam di rumah.
Tentu saja dengan senang hati Dinda diundang ke sana, untuk menepati janji yang sebelumnya tak bisa dilakukan.
Tidak hanya Dinda, bahkan Tama juga diundang karena Mama Arya penasaran dengan sosok Tama yang diceritakan putranya beberapa hari yang lalu.
Arya memang jarang membawa teman-temannya ke rumah, tapi Mama Arya ingat bahwa nama Tama sempat Arya sebut beberapa kali.
"Oh, ini pasti Tama, kan?" ucap Mama Arya sembari memeluk Tama dan bergantian memeluk Dinda. "Akhirnya bisa makan malam bareng Dinda juga."
Tama menatap Dinda bingung melihat Mama Arya seperti mengenal Dinda.
"Ini Tante ada sedikit oleh-oleh dari Mama, kebetulan kemarin Papa baru pulang dari Singapur," ucap Dinda sambil memberikan oleh-oleh coklat ke Mama Arya.
"Aduh... Jadi ngrepotin, bilang sama Mama makasih ya."
"Enggak ngrepotin kok, Tante. Iya pasti nanti Dinda sampein."
"Ayo masuk kalau gitu, kebetulan Sisil juga baru dateng."
"Kamu udah pernah ketemu Mamanya Arya?" bisik Tama pada Dinda. Dinda menjawab dengan anggukan kecil.
__ADS_1
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah yang ternyata keluarga Arya dan Sisil sudah kumpul di depan ruang TV.
Mereka semua saling menyapa ramah dan bersalaman pada Dinda dan Tama yang ikut bergabung.
"Aduh, ngapain jadi pada duduk di sini? Ayo langsung ke meja makan aja," ucap Nyonya Mahendra menginterupsi mereka yang mau melanjutkan berbincang di ruang TV.
"Iya juga, ya. Jadi ke asyikan disini," tambah Tuan Mahendra akhirnya mempersilahkan tamunya ke meja makan.
...oOo...
"Tama mau lanjutin kuliah di mana?" tanya Mama Arya di tengah makan malam mereka.
"Disini aja, Tante. Ambil bisnis"
"Mama kan tahu sendiri alasannya," tambah Papa Arya sambil tersenyum ke arah Dinda.
Dinda yang melihat itu langsung kikuk dan pura-pura menyendok makanan yang sepertinya tak sabar untuk segera masuk ke dalam mulutnya.
Arya hanya mengangguk mengiyakan. Tentu saja sekarang Arya tak perlu lagi keluar negeri karena alasannya untuk pergi kesana sudah tidak ada.
Lagipula dia mengatakan itu hanya untuk menghindari Sisil, tapi keluarganya sedikit gila dengan hampir mengikat mereka sebelum Arya berangkat ke sana.
"Emm.. ada yang Sisil mau omongin juga."
"Iya, gimana sayang?" tanya Mama Arya dan yang lain pun ikut memusatkan perhatiannya pada Sisil.
__ADS_1
"Sisil mutusin buat lanjutin kelas 3 di Kalimantan lagi, Tante."
Semua orang disana terkejut tanpa terkecuali. "Kok gitu? Kenapa Sisil? Kamu nggak suka sama sekolahnya disini?"
Sisil menggeleng kecil. "Enggak, kok Tante. Sisil cuma ngerasa kangen sekolah lama aja."
"Terus nanti, tante sama siapa disini? Kamu kan janji mau jadi anak perempuan tante. Lagipula rumah di Jakarta juga baru selesai surat-suratnya kan?"
"Tenang aja Tante. Kalau liburan semester Sisil akan main ke Jakarta kok."
"Tapi kan..."
"Ma, Sisil udah gede. Dia punya pilihannya sendiri. Mama nggak bisa maksa kehendak Mama ke Sisil," ucap Arya menenangkan Mamanya.
Mendengar alasan Sisil mengingatkan Arya pada kejadian buruk saat latihan drama yang dialami cewek itu. Apa Sisil trauma akibat kejadian itu?
"Pokoknya jangan buru-buru ambil keputusan. Dipikirin lagi baik-baik ya sayang."
Sisil mengangguk mengerti.
Sedangkan Tama yang duduk di sebelah Sisil menatap Sisil beberapa saat. Entah apa yang dia pikirkan tidak ada yang tahu.
Dia kembali menyendok makanannya saat Sisil berbalik menatapnya yang langsung membuat Tama mengalihkan perhatian pada piring makannya lagi.
...oOo...
__ADS_1