Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
13


__ADS_3

“Aghh..” rintih Arya saat Dinda memukul punggungnya keras.


Bagaimana tidak kesal kalau sedari tadi Arya terus mengambil kesempatan saat memboncengnya, dasar genit.


Arya terus saja berusaha menaruh tangan Dinda untuk melingkar di perut Arya, walaupun Dinda terus menolak tangan itu.


“Lo kenapa sih?” tanya Arya.


“Lo tu yang kenapa. Dasar tukang cari kesempatan!” sekali lagi Dinda memukul punggung Arya tak kalah keras.


“Siapa yang nyari kesempatan? Lo liat taksi di belakang kita, ada Sisil di dalamnya,” ucapan Arya berhasil membuat Dinda menengok ke belakang.


“Jangan dilihat bego!”


Dinda menatap tak percaya saat melihat sosok cewek di dalam taksi. Itu benar-benar Sisil.


“Tu cewek gila ya?”


“Bahkan gue hampir daftarin namanya ke rumah sakit jiwa,” balas Arya.


Dinda menggeleng tak percaya. “Lo punya salah apa sih sama tu cewek? Jangan bilang lo buronan trus tu cewek mata-mata.”


Arya memutar bola matanya jengah mendengar kesimpulan tak masuk akal dari Dinda. “Lo kebanyakan nonton film action.”


Mereka pun akhirnya sampai di rumah Dinda dan taksi itu berlalu begitu saja di depan mereka.


“Selamet..” ujar Arya sambil mengelus dada. Dinda tak mempedulikan Arya dan sibuk sendiri mencari kunci pagarnya.


Rumahnya terkunci karena kedua orang tua Dinda belum pulang dari kantor. Mamanya bukan seorang ibu rumah tangga. Beliau merupakan karyawan di sebuah kantor percetakan di Jakarta.


Dinda sangat bangga dengan mamanya. Karena walaupun memiliki pekerjaan, tapi mamanya bisa membagi waktu dengan sangat baik. Suatu hari Dinda ingin seperti itu.


“Gue balik..” tukas Arya menghiraukan Dinda yang masih sibuk dengan kegiatannya.


“Tunggu!” Dinda menatap Arya sambil memelas. “Kayaknya kunci rumah gue ketinggalan di kelas deh.”


“Hah?” tanya Arya tak percaya. “Kok bisa? Ceroboh banget sih.”


“Nggak tau, namanya juga ketinggalan. Please anterin gue balik ke sekolah.. ya? ya?” mohon Dinda pada Arya.


Mau bagaimana lagi. Tak mungkin kan Arya membiarkan Dinda terus berdiri di depan rumahnya sampai ibunya pulang dan rumah Tama juga terlihat sepi.


“Cepetan naik!” mendengar itu Dinda langsung tersenyum bahagia dan bergegas naik ke montor Arya.


~oOo~


Arya menyerah. Sudah 5 kali mereka menggeledah kelas Dinda, tapi hasilnya nihil.


Kunci itu tak berada di mana pun. Dia menatap Dinda yang kini juga ikut duduk di sebelahnya, menyerah.


Arya berdiri lalu menyalakan kipas angin yang berada di langit-langit kelas. Hawa sejuk membuat lega tubuh mulai berkeringat.


“Kok bisa nggak ada. Apa jatuh di kantin, ya?” gumam Dinda yang kemudian berdiri meninggalkan Arya yang masih berbaring di lantai kelas.


Sebenarnya dia merasa enggan meninggalkan lantai kelas itu, tapi mau bagaimana lagi. Dia lebih memilih mengikuti Dinda dan sekali lagi membantunya untuk segera menemukan kunci sialan itu. Arya


mematikan kipas angin dan bergegas menyusul Dinda.

__ADS_1


“Nggak ketemu, kuncinya jatuh di mana sih..” lagi-lagi Dinda bergumam sendiri.


Arya datang sambil membawa 2 teh botol ditangannya. Beruntung hari ini ada kumpulan ekskul tari, jadi kantin sekolah masih buka.


“Nih, minum dulu.”


Dinda mengambil teh dari tangan Arya dan bergegas meminumnya. Tak sampai 5 detik botol itu sudah kosong.


Arya menatap tak percaya pada botol kosong yang kini sudah berdiri di atas meja. Ternyata bukan hanya dirinya yang mati kehausan karena cuaca panas.


Hampir Dinda berdiri untuk mencari kuncinya lagi, tapi ditahan oleh Arya. “Istirahat aja dulu.” Dinda menurut dan kembali duduk.


“Jatuh di mana, ya?” gumam Dinda lagi.


“Nggak usah khawatir, nanti juga ketemu,” ujar Arya berusaha menenangkan Dinda.


Dinda mengangguk kemudian merogoh saku bajunya. Niatnya mau mengecek jam pada ponselnya, tapi ponselnya tak ada di saku. Kemudian tangannya beralih ke saku roknya dan tara, mak jreng.


“Kak!” ucap Dinda girang sambil menunjukan sebuah kunci.


Rasanya beban Arya seperti terangkat saat melihat benda kecil tersebut. “Lo temuin di mana?” tanya Arya penasaran.


“Hehehe.. di saku rok gue,” ucap Dinda nyengir.


Sebenarnya Dinda merasa sedikit bersalah pada Arya. Karena kecerobohannya Arya jadi ikut susah.


Arya hanya bisa tepok jidat mendengar penjelasan dari Dinda. Jadi, semuanya tadi sia-sia.


Keringat dan tenaganya terbuang sia-sia karena ternyata kunci itu tak pernah jatuh. Kalau begitu dicari sampai Luffy menemukan One Piece juga tidak akan ketemu.


Dinda memandang wajah frustrasi Arya. Jujur saja dia benar-benar merasa tak enak. Bodohnya Dinda yang tak mengecek sakunya dulu dan cepat berspekulasi kalau kuncinya tertinggal di kelas.


“Ya, ya.. sekarang kita pulang.”


Mereka berdua pun beranjak dari kantin.


~oOo~


Sudah jam 4 sore, tapi entah kenapa matahari masih bersemangat untuk terbit.


Tidakah benda bersinar itu cukup menyiksa pada siang hari? Kenapa dia tak beristirahat saja dan membiarkan orang yang masih di jalan seperti Dinda dan Arya merasa lebih sejuk.


Mata Dinda berbinar layaknya Tuan Krab yang menemukan uang di tepi jalan. Tapi, yah Dinda memang tengah menemukan harta karunnya.


Buru-buru Dinda menepuk punggung Arya asal agar cowok itu segera menghentikan laju montornya sebelum jauh.


“Apa lagi?”


“Ayo beli es krim,” ucap Dinda meringis memperlihatkan deretan giginya.


Dan di sinilah mereka. Berhenti di kedai es krim dan di depan mereka sudah tersedia 3 mangkuk es krim dengan rasa yang sama, yaitu cokelat.


Jangan tanyakan siapa yang memiliki 2 mangkuk karena 3 mangkuk itu milik Dinda semua. Karena Arya tak begitu suka es krim jadi dia lebih memilih latte.


Padahal niatnya Dinda ingin mentraktir Arya es krim sebagai tanda balas budinya. Siapa sangka jika cowok itu tak suka es krim.


Berbeda dengan Dinda yang merupakan pecinta es krim nomer satu, apalagi rasa cokelat.

__ADS_1


Mulai sekarang Dinda akan mencoba merubah cara pandangnya pada Arya. Ternyata cowok yang awalnya Dinda cap menyebalkan ini sangat baik.


Buktinya Arya mau membantu Dinda mencari kunci pagarnya dan yang lebih menyebalkan ternyata tidak hilang.


Jika saja Dinda berada di posisi Arya, mungkin dia sudah meninggalkan temannya saat menunjukan kunci yang ternyata berada di saku.


Set


Dinda di kejutkan dengan tisu yang tiba-tiba berada di depan wajahnya. “Berapa sih umur lo? Makan aja masih belepotan gini?” ucap Arya sambil menyodorkan sebuah tisu.


Dinda meraih tisu itu kemudian mengelap mulutnya yang penuh dengan warna cokelat. Malu, tentu saja.


Beruntung kejadian ini tak berlanjut seperti drama korea. Sungguh Dinda masih berharap drama cinta koreanya bersama Tama.


Arya menatap Dinda yang kembali menyendok es krim ketiganya. Latte milik Arya sudah habis dari tadi.


Biasanya Arya tak suka menunggu orang lain selesai makan, tapi bagaimana bisa Arya mengacuhkan cara makan Dinda yang kelewat lucu itu. Dinda masih seperti anak kecil yang baru belajar cara makan.


Hari ini banyak sekali yang baru Arya ketahui tentang Dinda. Pelupa, ceroboh, seperti anak kecil dan pantang menyerah. Dasar cewek Alien. Eh, sudah lama Arya tak memanggil Dinda dengan nama itu.


Dinda menatap keadaan luar yang mulai teduh melalui jendela kedai. Jam berapa sekarang? Dia merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Jam 5 sore? Kenapa waktu cepat sekali berlalu.


Dinda membuka ponselnya. Dia terkejut saat baru sadar notice bahwa pesan yang dia kirim ke Tama tidak terkirim. Astaga, bagaimana bisa?


“Kenapa?” tanya Arya yang melihat wajah Dinda yang tampak panik..


Dinda menjambak rambutnya kesal. Ternyata pulsanya habis. “Gimana nih?”


“Apa? Kenapa?” tanya Arya khawatir.


Bagaimana tidak jika beberapa menit yang lalu Dinda masih terlihat tersenyum sendiri sambil menatap jendela. Apa yang terjadi sampai cewek itu berteriak histeris.


Dinda tak benar-benar gila, kan? Karena Arya berpikir Dinda gila saat tersenyum sendiri tadi, dan hebatnya sekarang Dinda berteriak.


“Pesannya nggak ke kirim.”


Alis Arya bertaut, bingung. Pesan apa? Apa Dinda ingin pesan es krim tapi takut mencair sampai rumah?


“Pesan apaan?”


“SMS yang gue kirim ke Mas Arya, pulsa gue habis.”


Arya bernafas lega. Ternyata hanya karena sebuah pesan. Buat kaget saja.


“Nih..” Arya menyodorkan ponselnya ke Dinda. Sedang cewek di depannya masih menatap ponsel itu tak paham.


“SMS pake hape gue aja.”


Mata sayu Dinda berubah berbinar. “Serius?”


Arya mengangguk.


Dinda meraih ponsel Arya dan mengetik kembali pesannya. Arya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dinda yang layaknya bocah.


“Nih.. thanks,” Dinda mengembalikan ponsel itu kepada si pemilik.


Arya meraih ponselnya dan bergegas bangkit. “Ayo balik! Udah mau maghrib ni.”

__ADS_1


Dinda ikut bangkit dari kursinya. “Ayo,”


~oOo~


__ADS_2