Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
40


__ADS_3

Sebagai acara pemula pesta ulang tahun sekolah. Lomba dalam berbagai bidang sudah dimulai.


Beberapa siswa yang tidak ikut berpartisipasi diwajibkan untuk menjadi penonton atau penyemangat para peserta lomba.


Tapi berbeda dengan Dinda dan anak lain yang ditugaskan untuk pensi. Mereka dengan terpaksa harus mengikuti jadwal latihan drama yang sudah ditentukan.


Sebenarnya beberapa anak perempuan di kelas Dinda banyak yang iri pada anak drama, karena ternyata saudara Bagas yang juga guru drama ini sangat tampan.


Bahkan beberapa dari mereka ada yang sengaja menonton jalannya latihan hanya untuk melihat guru drama itu.


Sepertinya memang benar, ketampanan genetik tidaklah salah. Pantas saja Bagas juga bisa dibilang cukup tampan, kakaknya saja setampan itu.


Mereka seperti melihat masa depan Arya dan Tama sekitar 2 - 5 tahun lagi. Karena setelah beberapa tahun itu pasti keduanya menjadi lebih maskulin dan bertambah ketampanannya.


"Kak Brian, semangat ya latihannya!" Teriak beberapa siswi sebelum meninggalkan ruang latihan.


"Dasar cewek-cewek geblek. Seharusnya kan kita yang disemangatin, bukan pelatihnya." Ardi berdumel ria.


Sebenarnya Ardi sudah kesal dari tadi karena melihat naskahnya yang hanya mendapat beberapa baris saja.


Belum lagi tadi Brian sempat ingin mengganti peran Ardi karena ibu peri seharusnya diperankan oleh perempuan, bukannya laki-laki. Tapi Brian menyerah karena melihat Ardi bersikeras mempertahankan perannya tersebut.


Oci juga tiba-tiba saja dimasukkan dalam grup pensi drama karena Brian membutuhkan orang sebagai pembaca narasi.


"Lo sensi banget sih, Di, dari tadi." Cerca Fany yang masa bodoh dengan naskahnya. Lebih pendek lebih baik. Dia tak harus repot-repot menghafalkan banyak kalimat.


"Tapi Kak Brian itu memang ganteng loh," ucap Lola sambil menatap Brian yang masih menjelaskan kepada Bagas dan Sisil yang memiliki berbaris-baris dialog didalamnya.


"Lola naksir sama Kak Brian?" tanya Dinda tak percaya. Karena pemandangan langka melihat Lola menilai rupa seorang lawan jenis.


"Enggak juga. Kak Brian ganteng, tapi Lola nggak suka. Dia bukan orang baik," celetuk Lola begitu saja yang membuat mereka bertiga bingung.

__ADS_1


"Jahat gimana?" tanya Ardi tak mengerti.


"Gimana?" tanya Lola membalas Ardi dengan pertanyaan lain.


"Udah deh nggak jadi. Gue udah hafal sama lo. Yang bego gue kalau sampe nyuruh lo buat jelasin."


Fany dan Dinda tertawa mendengar jawaban Ardi. Dua saudara ini juga tak ada bedanya. Mulutnya suka tak bisa direm.


Dinda memikirkan perkataan Lola tadi dan kemudian melihat Brian lagi. Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan Brian tersenyum ramah kepadanya.


Merasa tertangkap basah sedang menatap Brian, Dinda hanya ikut membalasnya dengan senyuman ramah lain. Kemudian Brian kembali berbincang dengan Sisil dan Bagas.


Waktu berlalu begitu cepat. Untuk hari ini mereka hanya melakukan pembacaan naskah agar lebih masuk kedalam karakter yang diperankan. Dan juga pemilihan kostum.


"Udah selesai latihannya?" tanya Arya yang sudah berada di belakang Dinda.


Dinda terkejut melihat Arya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Arya memang sudah mengabari akan mengantarnya pulang hari ini.


"Cie yang dijemput pacar," celetuk Ardi menggoda keduanya.


Arya hanya menepuk bahu Ardi pelan sambil tersenyum.


"Aryaaaa..." teriak Sisil dari tengah ruangan dan berlari ke arah Arya.


Sisil memberikan sekantong besar keresek hitam yang isinya kostum.


"Arya, Sisil nitip ini boleh? Mau dikecilin. Sisil mau pulang bareng Oci aja nanti. Tapi montor Oci nggak bisa buat bawa barang banyak," jelas Sisil kemudian.


Arya hanya menatap Dinda sebentar. Karena sebenarnya dia ingin mengajak jalan Dinda keluar juga. Akan sedikit repot kalau harus bawa barang sebesar ini.


"Bawa aja, Kak. Nanti biar Dinda pegang di belakang kalau di depan nggak bisa," ucap Dinda akhirnya.

__ADS_1


Anggap saja permintaan maaf Dinda karena membuat Sisil harus pulang dengan orang lain.


"Iya deh gue bawa," ucap Arya terpaksa menerima kantong kresek hitam itu.


"Oh siapa nih?" tanya Brian akhirnya mendekat kearah kerumunan.


"Gue Brian, yang ngajarin mereka drama." Brian mengulurkan tangannya di depan Arya sambil tersenyum ramah.


"Arya." Arya menjabat tangan Brian sambil tersenyum canggung ke arah Brian.


"Mas, tahu? Arya ini manusia paling populer di sekolah ini loh," jelas Bagas bangga. Padahal dia baru saja membanggakan orang lain.


"Oh ya? Sepopuler apa?" tanya Brian ke arah Arya.


"Enggak kok, Kak. Mereka asal ngomong," bantah Arya.


"Asal gimana. Nih ya, Kak. Kak Arya itu tuh udah Ketua Osis, Kapten Basket, terus juga ganteng, nilainya juga lumayan bagus. Nggak populer gimana coba," ucap Ardi menjelaskan sambil menggebu-gebu.


Membuat Arya harus menoyor sayang kepala Ardi. "Ngomong apaan lo, udah sana pulang."


"Arya, entar bilang Tante kalau Sisil nggak makan malam di rumah ya," ucap Sisil sebelum tangannya di tarik Oci pergi dari sana.


"Iya, iya. Ayo kita pulang juga, Din. Kita pulang dulu, Kak. Pulang dulu guys." Tak lupa Arya juga berpamitan pada Brian dan yang lain.


"Iya, Kak. Ati-ati," balas anak-anak lain yang masih ada di sana.


"Mas, ayo pulang juga." Ajak Bagas saat melihat Brian masih menatap Arya yang mulai menjauh.


"Iya, ayo pulang."


...oOo...

__ADS_1


__ADS_2