
Sisil tetaplah Sisil. Padahal baru tadi malam Arya merasa iba dan ingin mengalah padanya. Tapi pagi ini sudah lain lagi.
Arya dibuntuti lagi sampai sekolah. Tapi dia tak langsung menuju sekolahnya. Arya harus rela menempuh jarak yang lebih jauh demi menjemput pacar gadungannya, Dinda.
Apalagi Arya tak begitu mengingat jalan rumah Dinda. Dia sempat salah jalan sebelum sampai di gang yang seharusnya dia lalui.
Arya tahu kalau rumah Dinda bersebelahan dengan Tama, tapi seumur-umur Arya juga belum pernah main ke rumah Tama.
Arya sampai tepat saat Dinda berada di depan gerbang rumahnya, begitu juga Tama yang telah berada di sana.
Dinda menatap bingung saat Arya berada di depan rumahnya. Tapi Dinda baru sadar dengan kode dari mata Arya. Ada Sisil yang sedang mengikutinya. Wah, benar-benar cewek itu. Dinda berhasil dibuat takjub olehnya.
Sebegitukah Sisil cinta mati dengan Arya. Apa bagusnya cowok kelebihan kalsium ini? Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa Arya memang tampan, tapi Sisil nampak berlebihan jika sampai melakukan hal semacam ini.
“Aduh Mas, sorry.. Dinda lupa ngasih tau ya kalau hari ini Dinda berangkat barena Kak Arya,” bohongnya. Padahal Dinda sendiri terkejut saat Arya tiba-tiba berada di depan rumahnya.
“Nggak pa-pa, kan?” tanya Dinda.
“Nggak pa-pa kok. Kalau gitu Mas berangkat duluan,” Tama melajukan montornya meninggalkan kedua si joli itu.
Lagian Arya sudah jauh-jauh ke rumah Dinda. Tidak mungkin kan Tama menyuruh Arya pergi begitu saja.
Ada perasaan bersalah dari Dinda saat melihat Tama pergi begitu saja. Mau bagaimana lagi. Dinda sudah terlanjur janji akan menjadi pacar bohongan Arya di depan Sisil. Dan Dinda ingin mengutuk tingkah konyol Sisil yang saat ini tengah membuntuti Arya.
“Cepetan naik! Gue nggak mau telat,” ujar Arya mengintrubsi karena Dinda masih saja melamun.
“Iya, iya. Dasar bawel!” gumam Dinda.
“Gue bisa denger tau,” geram Arya tak terima.
Montor Arya mulai melaju, masih dengan taksi yang terus mengikuti keduanya.
~oOo~
Jam istirahat nampak lebih tegang dari biasanya. Ketiga orang cewek tengah mengusir semua penghuni toilet di sana. Setelah toilet itu kosong, ketiga cewek itu mulai menyudutkan seorang cewek di ujung toilet.
Cewek itu Dinda, dia meringis saat merasakan punggungnya terbentur keras dengan dinginnya dinding kamar mandi.
“Dasar cewek gatel. Berani lo ya godain Arya!” bentak si cewek berambut panjang.
Sedangkan cewek yang lain berjaga di pintu kamar mandi.
Dinda hanya bungkam. Dia takut untuk membalas ucapan kakak kelasnya. Dinda tak terima dituduh sebagai penggoda, tapi apa yang bisa dia perbuat.
Tak mungkin jika dia harus melawan tiga kakak kelas sekaligus. Lebih baik hanya diam dan menurut.
“Akkhh..” jerit Dinda saat si kakak kelas menjambak rambutnya.
“Jauhin Arya atau lo dapetin yang lebih parah dari ini."
Cewek kayak lo tu nggak pantes buat Arya. Nggak usah ngimpi ketinggian deh,” tambah si kakak kelas.
Setelah melepaskan jambakan di rambut Dinda mereka bergegas pergi sebelum ada yang melapor ke guru.
Setelah ketiga kakak kelas itu keluar dari toilet cewek kelas sepuluh. Fany dan Lola baru berani masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka berusaha menenangkan Dinda yang tengah terisak di dalam. Mereka membawa Dinda ke UKS agar bisa beristirahat.
Selang beberapa menit Ardi datang bersama Tama di sampingnya. Dinda segera berhambur memeluk Tama saat Tama tepat berada di sebelahnya. “Kamu nggak pa-pa?”
Dinda mengangguk pelan, “Dinda nggak pa-pa kok.”
“Udah dilaporin ke guru?” tanya Tama pada ketiga teman Dinda.
Mereka bertiga serempak menggeleng.
“Gimana sih..”
“Mas, nggak perlu,” potong Dinda. “Dinda males harus bolak-balik ke kantor guru cuma buat ngurus masalah ini,” jelas Dinda.
__ADS_1
“Tapi..”
“Dinda nggak pa-pa, Mas.”
Tepat setelah itu bel masuk pun berbunyi. Akhirnya Dinda menyuruh keempat orang itu untuk kembali ke kelas. Dinda tak enak jika mereka harus merelakan jam pelajaran untuk menjaganya.
“Harus ada yang nemenin kamu..”
“Dinda nggak pa-pa, Mas. Nanti juga yang piket UKS dateng. Kalian balik ke kelas aja.”
“Tapi Din..”
“Udah nggak usah alesan. Semua balik ke kelas atau gue juga ikut balik ke kelas,” ancam Dinda.
Mereka menurut dan kembali ke kelas masing-masing. Dinda memilih untuk berbaring. Badannya memang tak ada yang terluka, tapi dia masih syok dengan kejadian tadi.
Dinda mendengar sayub-sayub suara langkah kaki melewati UKS. Bukankah jam istirahat sudah selesai, tapi kenapa Dinda masih mendengar langkah kaki. Jangan-jangan sekolahnya berhantu?
Dinda mengusap tangannya yang merinding. Halusinasi hantu dari film horor yang dia tonton pun bermunculan. Kalau tahu begini Dinda lebih memilih ditemani saja tadi.
Ada yang aneh. Langkah itu semakin mendekat. Tapi hanya terdengar sebuah langkah, tidak seperti sebelumnya yang terdengar bergerombol.
Dinda menatap pintu kamar UKS was-was. UKS di sekolahnya memiliki 2 ruang kamar. Satu untuk cewek dan yang satu untuk cowok, tapi biasanya semua dipakai oleh cewek. Jarang ada cowok yang sakit pergi ke UKS.
Mulut Dinda mulai komat-kamit baca doa pengusir setan yang pernah dia pelajari sewaktu TK.
Dinda berharap suara langkah itu milik petugas UKS yang baru datang. Tapi kenapa tak terdengar suara sama sekali. Biasanya kalau cewek tidak mungkin berjalan setenang itu.
Semua petugas piket UKS di sekolahnya memang cewek karena keberadaan anggota PMR cowok terbilang langka. Lagipula, cowok tak diizinkan untuk bagian piket di UKS.
“Aghhh..” teriak kedua orang itu bersamaan.
“Apa? Kenapa?” tanya Arya terkejut. Dia sibuk menengok kebelakang mencari sesuatu yang membuat Dinda terkejut.
“Kak Arya!” kesal Dinda. Ternyata itu suara langkah kaki Arya.
“Lo kenapa? Kenapa teriak?” tanya Arya khawatir.
“Lo tu yang buat kaget! Bisa nggak sih datang kayak manusia biasa.”
“Lah, emang gue datengnya luar biasa? Orang gue dateng lewat pintu, bukan nembus tembok,” jawab Arya asal.
Dinda membenarkan dalam hati. Benar juga, Arya memang datang secara menusiawi. Kenapa juga Dinda menyalahkan Arya? Salahkan Arya yang merupakan satu-satunya manusia di depan Dinda sekarang, disaat Dinda butuh orang untuk disalahkan.
“Ngapain lo di sini? Bolos, ya?” tuduh Dinda.
“Enak aja. Nggak mungkinlah gue bolos.”
“Alah alesan. Kalau gitu gue nggak akan milih lo buat jadi Ketua Osis,” ancam Dinda.
Orang ketua osisnya aja tukang bolos, bagaimana nanti siswanya.
“Alhamdullilah..” balas Arya bersyukur. “berkurang satu suara.”
Dinda mengernyitkan dahi bingung. Apa yang perlu disyukuri? “Kok, alhamdullilah?”
“Emang lo pikir jadi ketua osis gampang? Emang lo pikir jadi ketua osis itu kemauan gue sendiri? Big No. Jadi, gue bersyukur kalau nanti nggak ke pilih,” jelas Arya.
Arya sudah merasa cukup lelah menjadi wakil ketua osis pada semester 2 dan 3. Dia tak ingin waktu pribadinya terbuang sia-sia hanya karena urusan organisasi. Arya bukan orang yang pandai mengatur waktu.
Dinda mengangguk mengerti. “Kalau gitu, gue jadi milih lo aja.”
Arya menatap Dinda kesal. Sebenarnya apa maunya cewek satu ini. “Kayaknya lo benci banget ya sama gue?”
Dinda menggerakan ibu jari dan jari telunjuknya hampir berhimpitan. “Sedikit,” ucapnya sambil menyipitkan sebelah mata.
“Serius, sebenarnya kenapa lo di sini?” tanya Dinda mengulang pertanyaannya.
Arya duduk di ranjang yang berhadapan dengan tempat Dinda. “Sebenarnya tadi gue habis rapat osis. Katanya lo habis digangguin kakak kelas, ya?”
__ADS_1
Dinda menjawab dengan senyuman.
Arya berpikir itu sebagai jawaban ‘ya’. Dia jadi merasa bersalah karena Dinda tak berhak mengalami hal ini. “Sorry..” sesal Arya.
“Kenapa lo yang minta maaf? Emang kakak kelasnya saudara lo?”
Arya menggeleng. “Bukan, tapi lo nggak bakal diganggu kakak kelas kalau bukan jadi pacar gadungan gue.”
Buk.
“Auw..” lirih Arya memegangi kaki kirinya. Dinda baru saja menendangnya tanpa belas kasihan. Dinda mengamati sekeliling, tidak ada orang. Petugas UKS juga belum datang.
“Jangan keras-keras, nanti ada yang denger gimana?” tanyanya khawatir.
Arya hanya tertawa pilu. Bahkan Dinda masih mengkhawatirkan dirinya. “Seharusnya gue bisa jagain elo,” sesalnya.
Dinda dibuat terkejut mendengar jawaban Arya. Apa hak Dinda sampai Arya punya kewajiban untuk menjaganya.
“Kenapa? Toh gue bukan pacar lo beneran.”
“Karena itu, seharusnya gue bisa jagain lo.” Dinda jadi tak tega melihat wajah bersalah Arya.
Dinda merasa ini bukan salah Arya, bahkan tak ada niatan sedikit pun untuk menyalahkan Arya dalam kasusnya ini.
“Bukan salah lo,” ujar Dinda berharap dapat mengurangi rasa bersalah Arya.
“Kalau kakak kelas itu ngelakuin lebih dari ini, bilang aja lo bukan pacar gue.”
Aneh. Kenapa Dinda tak suka dengan ide Arya. Bukankah bagus jika dia mengatakan yang sebenarnya.
“Terus lo bebas bilang ke Mas Arya tentang perasaan gue?”
Arya menggeleng sambil tersenyum ringan. “Rahasia lo aman sama gue.”
“Lo sendirian di sini?” tanya Arya dengan wajah cerah seperti biasa.
Bahkan Dinda dibuat terkejut melihat perubahan wajah Arya yang begitu cepat. Arya mirip dengan cuaca Indonesia saat ini. Kadang cerah, kadang mendung.
“Seperti yang lo liat,” balas Dinda sambil menggedikan bahu.
“Berani? Katanya UKS sekolah kita ada penunggunya lo.”
Buk.
Sebuah bantal mendarat indah di wajah Arya. Si korban pun masih syok saat bantal itu mulai turun dari wajahnya. Padahal tadi Dinda masih anteng. Bagaimana bisa tangannya bergerak begitu cepat.
“Jangan nakutin gue!” cicitnya ngeri.
Arya tertawa senang melihat usilannya berhasil. Ternyata benar dugaan Arya bahwa Dinda itu penakut.
“Nggak usah ketawa!” satu buah bantal melayang lagi ke tubuh Arya, tapi si empunya masih sibuk berusaha meredakan tawanya.
“Nggak, gue cuma bercanda.”
Arya beranjak dari duduknya. ”Dispen gue nggak lama, gue harus balik ke kelas.”
Dinda menatap Arya horor. Baru saja Arya menakutinya dan sekarang cowok itu mau meninggalkannya sendirian? Arya benar-benar hebat.
“Ekhem.. UKS bukan tempat buat pacaran lho..” goda 2 orang dari luar ruang kamar. Sepertinya petugas piket UKS sudah datang.
“Udah ada temennya, gua balik ke kelas dulu.”
Dinda masih menatap punggung lebar Arya. Ada rasa tak rela saat punggung itu mulai menjauh. Tapi tanpa Dinda sangka Arya kembali berbalik ke arahnya.
“Ati-ati di belakang lo.” Arya pun bergegas kabur setelah mengucapkan itu.
“Kak Arya!” cicit Dinda kesal, tapi dia tak merasa takut, hanya kesal. Toh sudah ada keberadaan manusia lai selain dirinya di dalam UKS. Dinda kembali berbaring untuk beristirahat yang tadi sempat terganggu oleh Arya.
~oOo~
__ADS_1