
"Oci nih, kostumnya udah dikecilin."
"Udah kamu coba belum?"
Sisil menggeleng polos, membuat Oci menepuk jidatnya tak habis pikir dengan sikap polos temannya ini.
Setidaknya Oci bersyukur untuk masalah lain Sisil tidak sepolos itu. Ya, kemarin Sisil sempat menceritakan tentang perlakuan Brian padanya. Walaupun sebenarnya Oci tidak terlalu terkejut mendengarnya.
Dari awal bertemu dengan Brian, Oci sudah merasa ada yang tidak beres dengan cowok itu.
"Ya udah kamu coba dulu sana."
Sisil pun menurut sambil membawa kostum itu ke ruang ganti yang ada di belakang aula.
Di sana juga sudah ada beberapa siswa yang memang dapat bagian mengurus make up dan kostum para pemain.
Sisil memeriksa ruang ganti yang kosong. Karena sepertinya beberapa ruang ganti sudah terpakai.
Sisil menempelkan baju biru muda itu di depan tubuhnya. Membayangkan dia di dalam baju Cinderella itu membuatnya bahagia.
Sudah lama Sisil tak memakai hal berbau disney. Padahal sejak kecil dia sangat suka princess disney, apalagi Cinderella.
Tanpa menunggu lebih lama dia segera mencoba gaun itu hingga dia merasa ada orang lain di belakangnya.
...oOo...
"Bro, mau kemana?" sapa Tama pada Arya yang terlihat berjalan sendirian sambil tergesa-gesa.
Sebelum Arya menjawab Tama sudah berpamitan kepada teman-teman yang sebelumnya bersama dengannya.
"Mau ke aula. Nunggu Sisil latihan," jawab Arya setelah teman-teman Tama sudah menjauh.
__ADS_1
"Tumben. Bukannya osis masih sibuk ya?" tanya Tama yang akhirnya membuat keduanya berjalan beriringan.
"Nggak pa-pa bolos sekali aja. Biar mereka juga terbiasa kalau nggak ada gue."
"Yakin? Bukannya mau lihat Dinda latihan?" goda Tama sambil melirik Arya jahil.
"Itu juga sih," jawab Arya jujur sambil tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Sisil terus yang dibuat alasan. Kasihan tuh anak jadi banyak yang salah paham."
"Eh, beneran mau lihat Sisil juga. Gue udah janji soalnya kemarin."
"Emang Sisil kenapa? Minta ditemenin latihan?"
"Enggak sih. Gue aja yang mau. Soalnya gue nggak terlalu suka sama Brian."
"Lo juga nggak suka sama Brian?"
"Gue ngerasa tuh cowok kayak nggak beres."
"Ya udah, ikut aja sekalian ke aula bareng gue. Lo juga lagi gabut nggak ngapa-ngapain, kan?" ejek Arya. Ya, berbeda dengan Arya yang sudah kelas dua belas tapi masih dimintai tolong untuk kesana kemari. Berbeda dengan Tama yang memiliki waktu lebih longgar dibandingkan saat kelas sebelasnya.
"Boleh. Ayo deh." Putus Tama tanpa merasa tersinggung sama sekali. Akhirnya mereka berdua pergi ke aula bersama.
Sesampainya di aula, keduanya sedikit membuat keributan. Pasalnya ini masih sangat pagi untuk melihat kedua orang itu berada di aula.
Padahal keduanya sudah dipatenkan oleh teman sekelas Dinda sebagai pertanda jam pulang. Kalau tiba-tiba mereka muncul pagi hari seperti ini, anak-anak jadi mempertanyakan kebenaran jam dipergelangan tangan mereka.
"Ya ampun, Kak. Bikin kaget aja. Gue kira udah jam pulang." Celetuk Ardi dramatis.
"Iya nih. Gue kira apa perasaan gue aja apa gimana. Baru juga dateng ke sekolah tapi udah mau pulang aja," tambah Fany membela kalimat Ardi.
__ADS_1
"Nggak usah lebay deh lo semua."
"Tapi Lola juga kaget."
"Tuh, Kak. Lola aja juga kaget. Soalnya kalian tuh udah kayak apa ya? Oh iya, pangeran aja deh ya.. yang mau jemput Cinderella pulang." tambah Fany.
Arya hanya menggeleng kepala menanggapi ucapan aneh teman-teman Dinda ini. "Sisil mana?"
"Tumben Dindanya nggak dicariin, Kak?" Goda Ardi sambil menyenggol Dinda di sebelahnya.
"Kan yang nggak ada disini Sisil. Kalau Dinda nggak usah dicari. Di hati terus soalnya," balas Arya yang tiba-tiba saja malu dengan ucapannya sendiri.
"Woahhhhh, apa nih apa?! Ngapain ngegombal di depan Ardi!!!" ucap Ardi heboh tidak terima.
"Kasianilah kami para kaum jomblo ini, Kak." Tambah Fany tak kalah mendramatisir.
"Udah ah, gue nanya serius ini. Sisil mana?"
"Ke ruang ganti, Kak tadi." Itu Oci yang menjawab.
"Aggggghhhh... Tolong!!!"
Kehebohan mereka pun terhenti saat mendengar seseorang berteriak.
Arya dan Tama langsung berlari ke arah suara jeritan yang mereka yakini adalah Sisil.
Keduanya melihat Sisil tersungkur di lantai dengan tangan yang menyilang di depan dadanya jelas sudah menjelaskan segalanya.
Arya yang merasa geram langsung mencengkeram kerah Brian yang berada di depan Sisil dan langsung memukul wajahnya keras. Membuat beberapa orang disana berteriak terkejut.
...oOo...
__ADS_1