Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
26


__ADS_3

Mengingat pertengkaran Arya dan kedua orang tuanya tadi membuat Dinda melamun lagi di kamarnya.


Tama dan Dinda yang merasa bukan bagian dari keluarga Mahendra memilih untuk pamit pulang.


Saat perjalanan pulang Dinda hanya bisa melamun. Dia bahkan tak mendengar apa yang Tama bicarakan di sepanjang jalan.


Saat di rumah pun juga sama. Dinda hanya menjawab sapaan mamanya dengan seadanya. Hal itu cukup membuat mama Dinda khawatir. Tapi Dinda hanya berdalih dia capek dan ingin beristirahat.


Saat ini Dinda tengah meringkuk di tempat tidur. Masih dengan seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya.


Genangan air mata mulai membuat pandangannya kabur. Isakan kecil yang berusaha dia tahan mati-matian akhirnya terdengar.


Sebenarnya Dinda tak ingin menangis. Lagipula dia juga bukan siapa-siapa dihidup Arya. Tapi entah kenapa rasanya masih saja sakit.


Padahal Dinda sempat berpikir ada harapan baginya saat tahu Sisil dan Arya tak ada hubungan apapun.


Dan lagi, Sisil juga sudah tak lagi menyukai Arya. Tapi kini harapannya pupus. Dinda lupa kalau keduanya sudah dijodohkan dari kecil.


Kedua orang tua mereka sudah saling mempercayakan anak masing-masing. Dinda tak akan bisa melampaui itu.


Belum lagi fakta bahwa Arya akan melanjutkan sekolahnya di London. Semakin membuatnya tak ada harapan.


Mengingat semua hal itu semakin membuat mata Dinda terus digenangi air mata. Padahal beberapa saat tadi tangisnya sudah mulai mereda.


Ponsel Dinda yang masih di dalam tas pun tak berhenti berdering. Dinda tak tahu siapa yang menelepon, tapi dia sedang tak bisa berbicara sekarang.

__ADS_1


Dia tidak akan membiarkan seseorang mengetahuinya menangis.


oOo


Tama terus mengetuk jendelanya dan memanggil Dinda dari seberang. Biasanya jika dia melakukan hal itu Dinda akan langsung keluar dengan menjawab, 'ada apa, Mas?'


Sudah satu jam lamanya Tama menunggu, tapi Dinda tak muncul juga. Bahkan disepanjang jalan tadi Dinda hanya melamun.


Hal itu jauh lebih membuat Tama khawatir ketimbang melihatnya menangis.


Saat akan memanggil nama Dinda lagi, Tama mendapati pesan masuk pada ponselnya.


'Aku ngantuk banget, Mas. Ada apa?'


'Bisa buka jendelanya bentar nggak? Mas mau ngomong,' send.


Tama menghela nafas panjang. Jelas adiknya itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi mau bagaimana lagi. Tama hanya akan berbicara besok.


'Ya udah besok aja. Kamu istirahat aja.' send.


'Iya.'


Tama kembali menatap jendela kamar Dinda khawatir. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menutup jendela kamarnya kembali.


oOo

__ADS_1


Arya mengunci dirinya di dalam kamar. Dia uring-uringan mengingat wajah Dinda saat orang tuanya membahas pertunangan tadi.


Dia berusaha terus mengirim pesan, tapi Dinda tak kunjung membalas pesannya. Arya terus berusaha menelepon, tapi Dinda tak menjawabnya juga.


Apa Dinda sudah tidur? Atau Arya yang salah mengira bahwa Dinda akan salah sangka.


Benar. Mungkin dia yang salah mengira bahwa Dinda juga menyukainya. Lagipula tidak mungkin semua wanita menyukainya kan. Mungkin saja Dinda masih suka pada Tama. Dan tak perduli dengan pertunangannya.


Bagaimana bisa Arya sepercaya diri ini. Tapi mengingat wajah Dinda tadi kembali membuat Arya uring-uringan.


Arya melempar ponselnya ke kasur dan menjambak rambutnya frustasi. Kenapa cintanya harus serumit ini. Kenapa Arya tak pernah merasakan kisah cinta seperti anak sekolah pada umumnya.


oOo


"Sisil kan udah bilang sama Mama kemarin kalau Sisil udah nggak suka sama Arya," ucap Sisil sambil memeluk Mamanya di atas tempat tidur.


Usapan lembut pada pucuk kepalanya dari sang Mama membuat Sisil sedikit tenang. Walaupun dia juga sempat kaget tadi. Sisil berpikir bahwa pembahasan itu tidak akan pernah ada lagi.


"Iya, Mama tahu. Tapi semuanya tidak semudah itu sayang. Perjodohan kalian kan sudah direncanakan dari lama. Jadi Mama juga tak bisa semudah itu membatalkannya."


"Lalu gimana dong, Ma? Sisil sama Arya kan udah nggak ada yang suka."


"Iya. Tunggu waktu yang tepat dulu ya. Nanti Mama ngomong sama Om dan Tante."


Sisil mengangguk dalam pangkuan sang Mama. Dia akan percaya pada ucapan Mamanya. Semuanya akan baik-baik aja.

__ADS_1


oOo


__ADS_2