Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
32


__ADS_3

Dinda dan Arya sempat berpapasan dengan Tama saat keluar dari parkiran tadi. Sedangkan Sisil sudah ada jemputan yang menunggunya di depan sekolah.


Seharusnya hari ini merupakan hari yang paling ditunggu Dinda. Jika dugaannya benar, seharusnya alasan Arya mengajaknya keluar adalah untuk memperjelas hubungan keduanya.


Jika Dinda belum tahu kalau Tama punya pacar pasti dengan mudahnya dia akan menerima Arya tanpa syarat.


Tapi untuk sekarang, rasanya banyak yang ingin Dinda perhitungkan. Semuanya hanya buat sakit kepala. Apa dia ikuti apa kata teman-temannya saja.


Lagipula Dinda tak sedekat itu dengan Sisil. Jadi, entah dia akan patah hati atau menangis bukan urusannya.


Tak terhitung sudah berapa kali banyaknya Dinda terus menghela nafas panjang. Rasanya dia ingin kabur saja sekarang.


Dinda jadi menyesal kenapa dia harus mengiyakan ajakan Arya? Apa sekarang dia pura-pura sakit perut aja ya? Terus minta diantar pulang.


Ingin sekali Dinda bertanya pada Arya tentang status Tama yang tak lagi jomblo. Dinda sangat ingin tahu bagaimana tanggapan Arya soal itu.


Kemungkinan apa jawaban dari Arya akan membuat Dinda bisa mengambil keputusan. Apalagi sekarang Arya sudah berjanji untuk selalu menjaga Sisil.


Apa mungkin Arya mampu menjaga Sisil dan berpacaran dengannya sekaligus?


oOo


Sudah beberapa kali Arya mengintip Dinda dari kaca spion. Ada sedikit rasa khawatir saat melihat Dinda terus saja diam. Apa sebenarnya Dinda keberatan untuk keluar dengannya hari ini. Apakah hari ini bukan hari yang tepat?


Apa rencana pernyataan cintanya terlalu cepat? Atau sebaiknya mereka kencan dulu saja? Tapi rasanya Arya sudah tidak bisa menunggu lebih lama.


Sudah setahun lebih dia menyia-nyiakan waktu. Seharusnya jika dia lebih cepat mereka sudah bisa menikmati rasa pacaran di sekolah lebih lama.


Jika Arya mengulur waktu lagi, dia takut mereka bahkan takkan pernah bisa menjadi sepasang kekasih sama sekali.


"Dinda suka makanan jepang nggak?" tanya Arya akhirnya. Walaupun sebenarnya dia sudah tahu Dinda suka sushi dari Tama.


"Suka, Kak," jawab Dinda singkat.

__ADS_1


"Biasanya kamu kalau makanan Jepang yang paling disukai apa?"


"Sushi."


Oke. Jelas ini ada yang salah. Apa Dinda memang biasanya sependiam ini?


"Kamu nggak tanya aku suka makanan apa?"


"Oh iya. Kalau Kak Arya suka makanan apa?"


"Sushi juga. Kita banyak samanya ya?"


"Iya, ya."


Akhirnya mereka pun sampai di restoran Jepang yang sudah dipesan Arya sebelumnya. Ini bukan restoran Jepang yang mewah. Karena masih banyak menu yang bisa dibeli oleh kantong pelajar SMA.


Tapi memang pada jam-jam tertentu tempat ini cukup ramai. Jadi jika tidak pesan meja terlebih dahulu, kemungkinan besar mereka hanya akan pulang dan pergi ke tempat lain.


Setelah menyebutkan pesanan meja atas namanya. Mereka pun bergegas menuju meja yang disiapkan.


Apa jangan-jangan hari ini Arya ada salah pada Dinda?


"Din? Emang aku ada salah ya?" tanya Arya tiba-tiba.


"Hemm? Gimana? Salah apa, Kak?" tanya Dinda bingung.


"Bukan ya?"


"Enggak kok. Kak Arya nggak ada salah sama sekali sama Dinda. Emangnya kenapa? Kenapa Kak Arya bisa mikir gitu?"


"Habisnya kamu diam terus dari tadi."


Kletak.

__ADS_1


"Aduh jatuh."


Sumpit Dinda tiba-tiba saja terlepas dari tangannya. Dia pun bersusah payah mengambil sumpit itu tanpa turun dari kursinya.


"Nggak usah diambil. Biar aku minta yang baru aja."


Arya sudah bangkit dari duduknya untuk menuju kasir, karena waktu itu restoran sangat sibuk. Banyak karyawan yang sibuk menyiapkan pesanan dari meja lain.


"Nggak pa-pa, Kak. Bisa kok ini diambil."


Bersamaan dengan ucapannya, Kursi yang diduduki Dinda tiba-tiba saja hilang keseimbangan. Karena tak ingin jatuh dia berusaha untuk meraih meja, tapi dia salah sasaran meraih gelas minumnya.


Alhasil sekarang Dinda terguyur menimunnya sendiri saat jatuh terjerembab di bawah meja.


"Agkh!"


"Astaghfirullah, Dinda. Kamu nggak pa-pa?" tanya Arya sambil berusaha membantu Dinda berdiri.


Beberapa orang pun juga ikut menonton meja mereka. Salah satu orang staf menghampiri mereka menawarkan bantuan.


"Maaf Kak, Dinda pulang aja ya?" ucap Dinda sambil mengelap bajunya yang basah dengan tisu.


"Iya kita pulang. Aku ambilin jaket dulu ya di jok motor. Kamu tunggu di sini bentar."


"Enggak usah. Nanti jaket Kak Arya kotor. Dinda naik taksi aja."


Dinda langsung pergi begitu saja. Dia rasanya mau mati saja sekarang. Bisa-bisanya dia berbuat hal memalukan seperti itu.


"Dinda tunggu!" Arya mengejar Dinda. Baju Dinda masih basah. Setidaknya dia bisa memakai jaket Arya dulu.


Waktu yang tepat. Sudah ada beberapa taksi yang berhenti di depan restoran. Dinda langsung berlari masuk ke dalam mobil dan menyebutkan alamat lengkapnya.


Dinda tak perduli dengan Arya yang terus memanggilnya. Dia sangat malu sekarang.

__ADS_1


Jika bisa memutar waktu, Dinda ingin sekali memperbaiki semuanya. Dasar Dinda bodoh.


oOo


__ADS_2