
Seryl tengah berlari menuju teman-temannya di lapangan yang sedang mendampingi adik kelas menyelesaikan outbound.
Temannya terlihat antusias melihat Seryl yang datang dengan nafas naik turun. Kalau sudah begitu pasti ada gosip baru yang Seryl bawa.
Belum lagi gosip yang dibawa Seryl pasti selalu up to date, terpercaya dan jarang hanya dari katanya, alias dia melihat serta mendengar dengan mata dan telinganya sendiri.
“Eh, gue punya kabar bagus nih,” ucap Seryl yang sudah ditebak teman-temannya.
“Apa? Apa?” tanya yang lain antusias.
“Itu, si Alien ternyata nggak cuma naksir sama Arya, tapi dia juga jadi stalker-nya.”
“Serius?”
“Beneran. Orang tadi gue liat sendiri foto Arya di hape si Alien.”
“Ih.. serem banget tu cewek. Segitunya suka sama Arya. Gue aja yang naksir nggak sampai ngikutin dia.”
Mereka terus sibuk bergosip tanpa tahu bahwa banyak yang menguping pembicaraan mereka. Siapa lagi kalau bukan para siswa baru di dekat mereka.
Para siswa baru juga membuat berita bagus itu menjadi topik hangat sebagai bahan obrolan. Dari mulut ke mulut akhirnya berita itu sampai kesemua telinga hanya dalam hitungan menit.
Mungkin bukan hanya satu kakak kelas yang menyebarkan beritanya. Bahkan berita itu sudah mengalami perubahan versi, seperti Dinda yang terobsesi pada Arya atau Dinda yang sudah mengikuti Arya sebelum masuk ke sekolah ini dan Dinda yang sengaja membuat masalah untuk mendapatkan perhatian Arya.
Cerita dari mulut yang berbeda tentu berbeda pula versinya. Tergantung bumbu apa yang ditambahkan ke dalam ceritanya.
~oOo~
Akhirnya Dinda menyelesaikan hukumannya dan kembali ikut serta dalam outbound. Begitu juga dengan Arya yang melihat kelancaran outbound. Tak sedikit yang berbisik-bisik saat Dinda masuk ke dalam kelompoknya untuk bermain.
Berkali-kali juga Dinda merasa panitia cewek terus mengerjainya. Dia seperti sengaja dibuat terus mengulangi permainan yang sama saat berusaha menyelesaikan outbound.
Karena hal itu juga Dinda selalu dimarahi panitia karena dituduh main-main dan tidak serius mengikuti outbound.
Hey, bukannya outbound dilakukan memang untuk bermain-main. Kalau serius itu namanya ujian bukannya outbound. Tapi Dinda tentu tak punya keberanian untuk mengatakan hal itu.
Setelah outbound selesai. Siswa baru diberikan waktu satu jam untuk beristirahat dan mengganti pakaian kotornya yang penuh lumpur.
Berbeda dari hari sebelumnya yang biasa dipulangkan dengan pakaian kotor, karena hari ini mereka ada materi kelas sebentar sebelum pulang.
Dinda makan dengan ditemani Ardi, Fany dan Lola. Ya, ketiga teman yang dia kenal kemarin saat menunggu jemputan.
Sedari tadi Dinda cukup kesal karena banyak siswa yang bertanya seputar hubungannya dengan Arya.
Banyak cewek-cewek yang mendatangi meja mereka sekedar untuk bertanya atau titip salam pada Arya.
Bahkan dia mendapat tawaran untuk menjadi ketua klub fans Arya, yang benar saja. Jika klub itu berisi para haters Arya dengan senang hati Dinda akan menjadi ketuanya.
__ADS_1
Tapi, fans? Pasti orang-orang di depannya ini sudah gila. Apalagi dengan mencalonkan Dinda sebagai ketua klub.
“Ya? Mau, ya?” tanya seorang cewek yang terus berusaha memohon.
Tapi Dinda sudah lelah bersuara dan lebih memilih menjawab dengan gelengan kepala. Setelah sekian lama mendapatkan penolakan, akhirnya mereka menyerah memohon dan pergi dari tempat Dinda
“Hey, beneran lo jadi stalker-nya Kak Arya?” tanya Lola yang diberi pelototan dari Fany.
“Bukan salah Lola, gue juga penasaran,” jawab Ardi yang menatap Dinda intens.
Kini giliran mereka bertiga yang mulai membuka mulut.
“Nggak. Semua ini hanya salah paham.”
Dinda menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sedangkan para pendengar setianya hanya memasang tampang-tampang lucu saat mendengar cerita Dinda, diikuti dengan suara oh, eh dan gumaman yang lain.
“Itu hal biasa.” Komentar Ardi pada akhirnya.
“Apa maksud lo?” tanya Fany yang butuh penjelasan. Begitu juga dengan Lola.
“Sekedar informasi kalau Kak Arya itu cowok normal yang baru memasuki masa puber, jadi hal biasa kalau Kak Arya ngoleksi video sama majalah porno,” jelas Ardi.
“Jangan bilang lo juga punya?” tanya Dinda yang berharap Ardi mengatakan tidak.
“Nggak..” Dinda bernafas lega mendengarnya, diikuti dengan teman ceweknya yang lain.
Malangnya nasib Ardi. Beruntung dia hanya dipukul dengan menggunakan tangan kecil mereka.
~oOo~
Arya terlihat sibuk mencari-cari sesuatu pada tumpukan kertas di atas meja. Tidak hanya di atas meja. Dia juga membuka laci meja dan memeriksa kolong meja, tapi sepertinya benda yang sedang dicarinya tak dapat ditemukan.
Arya menggeram kesal. Dia tak habis pikir dapat menghilangkan benda sepenting itu
Galih muncul dan menatap heran pada Arya yang uring-uringan sendiri di dalam pos.
“Nyari apaan?” tanya si Galih yang berhasil membuat Arya berbalik ke arahnya.
“Copian proposal MOS. Gue lupa naruh.”
“Kebiasaan..” sindir si cowok. Arya tak menghiraukan sindiran itu karena dia benar-benar membutuhkan benda itu sekarang juga untuk rapat evaluasi sepulang kegiatan nanti.
“Nih.. gue temuin tadi di kantin,” ujar Galih sambil meletakan proposal yang sedari tadi dicari Arya.
“Sialan! Kenapa lo baru ngomong.”
“Masih untung gue bawain.”
__ADS_1
“Thanks. Kapan-kapan gue traktir lo.”
“Eh.. bukan sekali ini doang gue nolong elo. Jadi traktirannya harus double.”
Arya mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
“Tadi pagi,”ujar si cowok berusaha membuat Arya mengingatnya.
“Apaan?” tanya Arya yang masih tak paham dengan kode yang Galih berikan padanya.
“Foto tadi pagi. Gue nggak nyangka lo juga suka liat blue film,” ucap Galih sambil tersenyum dan memainkan alisnya naik turun.
“Tenang. Rahasia lo aman sama gue,” tambahnya sambil menepuk bahu Arya dan berlalu pergi dari pos.
Sedangkan cowok yang diajak bicara tak paham dengan arah pembicaraa mereka.
Atas dasar apa temannya itu mengecap Arya sebagai penyuka film dewasa yang bahkan dia belum pernah menonton bagaimana isi film-nya.
Ya, memang kemarin dia meminjamnya dari toko, tapi bukan untuk dilihat.
Ah, Arya tahu sekarang. Apa adik Tama itu memotretnya saat di toko DVD. Hah, temannya benar. Galih memang telah menyelamatkan reputasinya di sekolah.
~oOo~
Dinda tampak cemberut membaca pesan dari Tama. Bukannya Dinda tak ingin menunggu Tama latihan basket, hanya saja dia malas harus ke lapangan basket dan bertemu dengan cowok pembawa sial dalam hidupnya itu.
'Dinda pulang naik ojek aja.’
Send.
Tak berselang lama balasan dari Tama terpampang di layar ponselnya. Tama menyuruh Dinda untuk menunggu di gerbang depan. Dinda hanya berjalan sambil menggerutu menuju gerbang.
Bukannya menunggu, malah Dinda yang sudah ditunggu oleh Tama di gerbang.
“Kak Tama nggak latihan basket.”
“Nanti setelah nganterin kamu pulang.”
“Nggak pa-pa. Dinda naik ojek aja,” tolak Dinda. Dinda merasa tak enak hati jika Tama harus bolak-balik untuk mengantarnya pulang.
“Nggak boleh. Nanti kamu kenapa-napa gimana? Sekarang kamu tanggung jawab kakak juga.”
“Kak.. Dinda udah gede.”
“Gede badan doang. Ayo naik!”
Dinda menggerutu kesal, tapi pada akhirnya dia naik juga ke atas montor Tama.
__ADS_1
~oOo~