
Arya tengah memeluk Sisil di kursi tunggu ruang inap tampat Om Surya, ayah Sisil dirawat. Awalnya Arya datang kemari untuk menjenguk Om Surya.
Diluar dugaan ternyata kondisi Om Surya tak memungkinkan untuk dijenguk. Walaupun operasi transplantasi jantung itu berhasil, tapi jantung baru itu tak dapat diterima oleh tubuh Om Surya. Sehingga beliau hanya bergantung pada alat-alat rumah sakit yang masih terpasang.
Arya sekarang tahu kenapa Sisil terus menempel padanya. Sisil hanya ingin seseorang menghiburnya dan melupakan sejenak kekhawatirannya pada kondisi ayahnya.
Arya jadi merasa menyesal. Mengingat bagaimana dirinya selalu menjauhi Sisil bak hama. Dan parahnya sekarang dia membawa Sisil untuk melihat kondisi ayahnya yang semakin memburuk.
“Kita pulang,” ucap Arya setelah isakan Sisil mereda.
Arya melingkarkan tangannya pada pinggang Sisil, takut kalau cewek itu jatuh pingsan. Karena Sisil terlihat sangat rapuh saat ini. Arya menyesal karena percaya akan senyum sandiwara itu. Seharusnya dia sadar setelah melihat Sisil menangis kemarin malam.
~oOo~
Dinda mulai jenuh menatap jalanan depan rumahnya. Dia tak tahu sudah berapa lama menunggu Arya untuk datang menjemputnya.
Jangan-jangan hari ini Arya tak datang menjemputnya. Bukankah seharusnya Arya memberi kabar Dinda. Kenapa cowok itu selalu bertingkah seenaknya sendiri. Apa lebih baik Dinda yang mengirim pesan terlebih dahulu?
Dinda masih sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadari kalau Tama sudah berada di depannya. Dinda baru menyadari keberadaan Tama saat merasakan tepukan pelan pada bahunya.
“Mas Arya..” gumam Dinda terkejut dengan keberadaan Tama yang menurutnya tiba-tiba.
“Berangkat bareng Mas aja. Nanti telat.”
Dinda mengangguk menyetujui. Mungkin memang Dinda sudah tak berguna lagi bagi Arya. Dinda sudah dibuang sekarang.
Pasti kemarin Arya dan Sisil sudah resmi berpacaran. Dinda tak tahu kenapa pikiran itu terus memenuhi otaknya. Bukankah bagus jika begini? Bukankah seharusnya dia merasa senang? Tapi kenapa Dinda merasa kehilangan sekarang. Kenapa Dinda merasa tak ingin kehilangan Arya. Apa Dinda menyukai Arya? Apa laki-laki itu telah merebut hatinya?
Sesampainya di sekolah, Dinda singgah sebentar ke kelas Tama. Alasannya sih untuk memarahi Arya karena membuat Dinda menunggu. Tapi apa yang Dinda dapat saat sampai di kelas? Arya tidak masuk sekolah. Keterangannya tidak pasti.
Melihat Dinda yang sepertinya khawatir pada Arya, Tama mengirim Arya sebuah pesan untuk bertanya tentang keadaannya. Arya hanya membalas bahwa dirinya tengah berada di Manado. Tama tak bertanya lebih lanjut, kemudian Dinda kembali ke kelasnya.
Dinda meletakan kepalanya malas pada meja. Dia merasa lelah dengan kepala itu. Rasanya begitu berat hanya untuk menyangganya beberapa menit.
“Lo kenapa? Lemes gitu?” tanya Fany mendekati Dinda yang tengah murung. Fany yakin ada yang tidak beres dengan Dinda. Tak mungkin Dinda murung saat cuaca masih cerah seperti sekarang.
Ardi ikut menarik kursi mendekat untuk mendengar penjelasan dari Dinda.
“Gue nggak pa-pa. Cuma kurang tidur aja,” jawabnya asal.
Dinda merasa tak sedang berbohong. Toh semalam dia memang kurang tidur. Walaupun ada alasan lain dari insomnianya
__ADS_1
“Ke UKS aja gih, muka lo udah kayak zombi. War..” usul Ardi sambil menirukan gaya zombi di film. Tak lupa dengan memasang wajah menyeramkan yang jatuhnya aneh.
Fany dan Dinda hanya memandang Ardi jengah. Mereka akan pura-pura lupa kalau Ardi adalah teman mereka jika sudah berlagak seperti itu.
“Nggak perlu. Gue nggak mau bolos lagi. Kemarin udah banyak ketinggalan pelajaran. Ngejarnya susah,” jawab Dinda yang mulai mengangkat kepalanya.
“Ya nggak usah di kejar. Habis lo aneh masak ngejar pelajaran, emang pelajaran punya kaki?” yang ini Lola yang bicara.
Ketiga temannya hanya bisa memutar bola matanya masa bodoh saat sifat lemot Lola mulai kambuh.
Bagaimana bisa kedua orang tua Lola menamai anaknya dengan nama yang pas. Dasar, saudara sama sepupu sama saja, tidak ada yang beres.
Bel tanda masuk berbunyi. Lola kesal sendiri karena hanya dirinyalah yang berbeda kelas. Ingin sekali dia dipindahkan di kelas Dinda supaya tak perlu bolak-balik.
Sebenarnya ketiganya juga merasa kasihan. Ada kalanya mereka ingin berganti main menuju kelas Lola agar anak itu tak lelah bolak-balik.
Sepanjang pelajaran, Dinda tak mendengarkan gurunya menerangkan. Dia memang memandang bukunya, tapi pikirannya sedang tak berada di sana.
Arya di Manado. Sudah jelas jika cowok itu berada di tempat Sisil. Apa yang Arya lakukan di sana? Apa mereka sedang di jodohkan? Bahkan mungkin di sana sedang berlangsung pesta pertunangan.
Pikiran Dinda sudah mulai kemana-mana. Kenapa Arya tak mengabarinya? Ah Dinda lupa, dia kan bukan siapa-siapa Arya lagi. Kenapa juga Arya harus repot-repot mengabarinya.
Dan kenapa semua pemikirannya tentang Arya ini membuatnya pusing. Dinda menjambak rambutnya frustrasi.
Tadi Dinda terus saja diam dan sekarang dia tiba-tiba berubah histeris seperti dunia mau runtuh.
Beruntung bel istirahat sudah berbunyi, jadi guru yang mengajar sudah meninggalkan kelas. Bahkan Dinda juga tak mendengar bunyi bel kesayangannya itu berbunyi.
“Lo kenapa sih? Cerita deh..” desak Fany.
Dinda hanya menggeleng lemah.
“Please, gue nggak tahan liat lo kayak mayat hidup gini.”
Dinda menyerah. Dia meluapkan semua masalahnya kepada ketiga temannya. Tentang bagaimana perasaannya pada Arya, di mana Arya berada, semua pikiran buruk yang kini bersarang di otaknya dan juga ketakutan pada kehadiran Sisil di samping Arya.
“Lo jatuh cinta sama Kak Arya!” cicit Lola tak percaya sambil menutup mulutnya. Beruntungnya kalau soal cinta-cintaan Lola cepat tanggap. Setidaknya Lola tidak lemot dalam semua hal.
“Ini rahasia,” tukas Dinda sambil mendelik pada Lola.
“Ups.. sorry,” sesal Lola sambil kedua tangan yang menutupi mulutnya.
__ADS_1
“Lo udah coba tanya ke Kak Arya alasannya absen?” tanya Ardi.
Dinda menggeleng yang berhasil membuat ketiga temannya tepuk jidat.
“Kenapa?” tanya Fany marah. “lo harusnya nanya. Basa-basi apa kek..”
Dinda menatap ponselnya murung. “Gue kan nggak ada hak buat ikut campur urusan pribadi Kak Arya,”
Brak.
Ardi menggebrak meja. Membuat tidak hanya ketiga temannya melainkan seisi kelas memandang ke arahnya.
“Biasa aja bego,” ujar Fany menoyor kepala Ardi.
Mereka sudah mendeklarasikan bahwa ini bukanlah masalah yang sepele. Bahkan mereka tak berselera untuk jajan ke kantin. Kisah pilu Dinda lebih menarik daripada jajanan manis yang dapat mengisi perut kosong itu.
“Habis gue kesel. Jelaslah lo ada hak,” balas Ardi yang sudah dapat mengontrol nada bicaranya.
“Hak apa? Hak asasi manusia maksud lo?” tanya Dinda seenaknya.
Mendengar jawaban asal Dinda juga membuat Fany naik pitam. Jangan tanyakan keberadaan Lola. Lola masih berada di sana. Diaa sibuk menatap ketiganya dalam diam. Otak lemotnya masih mencerna setiap kalimat yang membuatnya bingung.
“Serius, Dindaaa..” ujar Fany mencoba sabar.
“Status lo kan masih jadi pacarnya Kak Arya, jadi lo masih ada hak buat nanya keadaan dia. Kecuali kalau emang mereka bertunangan dan elo pengen pertunangan mereka batal, itu lain cerita,” jelas Ardi.
Mendengar kata pertunangan membuat Dinda kembali murung. Fany kembali memukul kepala Ardi.
“Gue salah apa lagi?” tanyanya kesal sambil mengelus kepalanya yang selalu jadi bulan-bulanan Fany.
Fany menunjuk Dinda yang murung. “Mulut lo, please..”
Ardi hanya tersenyum kikuk, merasa bersalah.
“Siapa yang mau tunangan? Kak Arya, ya? Kok kita nggak diundang?” tanya Lola polos.
Ini lagi, hampir Fany menjahit mulut Lola kalau tak ingat Lola itu temannya dan menganiaya orang itu merupakan sebuah dosa.
Bagaimana bisa Fany punya dua teman abstrak seperti Lola dan Ardi, bisa cepat tua dirinya nanti.
“Udahlah, Din. Lo coba aja dulu tanya. Kali aja Kak Arya cuma nganterin Sisil balik ke Manado. Jangan ambil kesimpulan sendiri,” ujar Fany berusaha menenangkan Dinda.
__ADS_1
Dinda membalasnya dengan anggukan setuju, membuat ketiga temannya bernafas lega.
~oOo~