Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
19


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Arya sudah kembali dari Manado setelah seminggu dia tidak masuk sekolah.


Dinda mendengar dari Tama bahwa ayah Sisil meninggal, jadi Arya ikut melakukan proses pemakaman di Manado.


Dinda hanya mendengarnya dari Tama karena kini hubungannya dengan Arya kembali seperti semula. Bukan saling bermusuhan, hanya saja mereka tak saling berbicara satu sama lain lagi.


Hubungan mereka telah berakhir. Entah siapa yang memulai berita tersebut. Bahkan Dinda dibuat bungkam saat semua orang bertanya tentang alasan perpisahan keduanya.


Bagaimana bisa Dinda menjawab kalau mereka bahkan tak menjalin hubungan apa pun.


Arya juga tak mengabari tentang kelanjutan sandiwara mereka. Karena Sisil telah kembali ke Manado, Dinda membuat kesimpulan sendiri bahwa dia sudah tak diperlukan lagi. Sandiwara itu telah berakhir.


Ingin sekali Dinda marah, tapi dia tak memiliki hak untuk marah. Dinda ingin memaki Arya, jangankan memaki untuk bertemu saja sulit.


Dinda juga ingin bertanya banyak hal kepada cowok yang telah membuatnya gila itu, tapi bagaimana mau bertanya kalau untuk memulai berbicara saja sudah tak memungkinkan. Mereka sudah benar-benar menjauh.


Sungguh Dinda merindukan momen candanya dengan Arya. Dia ingin mengobrol diselingi lelucon Arya saat menggodanya.


Kapan mereka bisa mengulang momen itu lagi. Bahkan Dinda tahu kalau Tama berulang kali ingin mempertemukan dirinya dengan Arya, tapi tak pernah berhasil.


Tama juga mengakui kalau Arya sedikit berubah. Sejak kembali dari Manado Arya berubah menjadi sosok yang lebih pendiam. Dia jarang berkumpul dengan teman-temannya nongkrong.


Padahal biasanya Arya yang selalu bersemangat dan menyeret teman-temannya untuk keluar dan kumpul bersama, tapi sekarang giliran Arya yang sulit untuk diajak berkumpul.


~oOo~


"Kak Arya," pekik beberapa teman sekelas Dinda saat sosk Arya lewat di depan kelasnya.


Tidak hanya dulu, bahkan sekarang Dinda tak suka mendengar nama itu. Hanya saja sekarang memiliki arti lain.


Sekarang Dinda hanya salah satu dari mereka. Bagi Arya, Dinda hanyalah salah satu dari para penggemarnya.


Lucu rasanya Dinda mengingat bagaimana hidup mempermainkannya.


Rasanya baru kemarin dia dan Arya masih bermusuhan dan menjadi bulan-bulanan Sisil. Tapi sekarang dirinyalah hanyalah orang asing dalam cerita Arya dan Sisil.


Dalam hati kecilnya, Dinda tentu merasa iri pada Sisil. Mau bagaimana lagi, Arya sudah menentukan pilihan.


Sebagai sesama wanita, Dinda mencoba ikut bahagia dengan kebahagiaan Sisil.


Suara Bu Wati di depan kelas membuat Dinda kembali sadar akan lamunannya. Beliau menegur beberapa murid yang gaduh.


Semuanya kembali menghadap ke papan tulis, diikuti dengan protesan dari beberapa siswi.


~oOo~


"Dinda!"


Dinda berhenti, begitu pun ketiga temannya latah berhenti saat nama dari mereka dipanggil lantang.


"Iya, Mas?"


Tama mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali berbicara.


"Besok nonton pertandingan tim basket, ya?"


"Pastilah mas, nggak usah ditanya."


Tama mengangguk mengerti.


"Mas, emang beneran ya Mas Arya habis mukul Kak Arya?" tanya Ardi penasaran.

__ADS_1


Karena Dinda yang selalu memanggil Tama dengan panggilan 'Mas', maka hal itu juga sudah menjadi wajar bagi teman Dinda yang lain.


Mereka kini sudah sangat terbiasa memanggil Tama dengan panggilan itu. Bahkan mereka sudah terbiasa mendengar ada 2 Arya dalam ceritanya.


"Apa?! Kalian berantem?!" Dinda kaget menatap Tama tak percaya.


Beberapa detik kemudian dia baru sadar bahwa hanya dirinya yang terkejut. Ketiganya tak bergeming sama sekali. Seakan hanya dirinya yang baru tahu hal ini.


"Kok? Apa cuma gue yang belum tahu?"


"Hampir semua orang udah tau, Din."


Dinda menganga tak percaya. Kemudian menatap Tama meminta penjelasan.


"Santai, santai. Kita nggak beneran berantem kok. Biasalah kalau anak cowok temenan suka gitu."


Dinda masih menatap Tama tak percaya. Penjelasan Tama tak membuatnya puas.


"Kalau kamu nggak percaya, bisa tanya langsung ke Arya."


Mendengar nama Arya di sebut Dinda jadi melunak, agak sedih. Mana mungkin dia bisa bertanya langsung ke Arya.


"Iya Dinda percaya."


Tama mengusap pucuk kepala Dinda pelan.


"Ya udah, Mas mau ganti baju dulu. Sorry ganggu waktu istirahatnya."


"Santai aja mas," jawab Fany sebelum Tama tersenyum dan meninggalkan mereka.


~oOo~


Dinda mendengar dengan khidmat dari ketiga temannya mengenai alasan kedua Arya bertengkar.


Dinda menghela nafas panjang.


"Lo pasti tahu sesuatu, kan?" tanya Ardi berlagak layaknya detektif yang sedang mengintrogasi tersangka.


Dinda mengangguk lemah.


"Gue udah jujur semuanya sama Mas Arya beberapa hari yang lalu."


"Trus?" tanya Fany penasaran.


"Ya gitu, Mas Arya kaget, khawatir, marah, nano-nano deh pokoknya."


"Kak Arya tmben ke kantin?"


Mendengar nama Arya disebut kepala Dinda refleks mencari ke sumber suara. Beberapa siswi team pemandu sorak sudah mengekor dibelakang Arya.


Dinda melirik dengan ekor matanya, melihat bagaimana Arya begitu dipuja para siswi cantik seantero sekolah.


Lagi-lagi Dinda menghela nafas berat.


"Jangan pesimis, Din. Belum tentu Kak Arya tertarik sama mereka."


"Sisil yang cantik, mulus, body goals aja nggak dilirik sama Kak Arya, apalagi mereka," jelas Lola.


Mendengar penjelasan Lola membuat Dinda menatap dirinya pada kaca pintu dikantin.


Iya, cewek secantik Sisil aja Arya tidak tertarik apalagi dirinya.

__ADS_1


"Udah, udah. Pokoknya jangan nyerah. Inget ada kita bertiga yang selalu ada buat lo."


Dinda menghambur memeluk Fany. Emang sohibnya satu ini paling bisa diandalkan kalau soal memberi nasehat.


"Gue bisa kan, Fan?"


"Jelas dong. Kalau cerita cinta lo nggak semulus cerita novel, tenang aja. Kita yang bakal usahain buat lebih, lebih, lebih so sweet dari disney."


"Iya Fin, pokoknya lo harus inget kita selalu ada buat lo."


"Kalian..."


Mereka bertiga pun berpelukan. Tak menghiraukan semua mata memandang aneh ke arah mereka.


~oOo~


"Mas Arya!"


Dinda berlari kecil ke arah Tama. Hari ini tim basket tidak ada latihan. Katanya hari tenang karena besok sudah akan tanding.


Dinda merasa aneh melihat Tama yang asik sendiri dengan ponselnya sampai tak mendengar panggilannya tadi.


Merasa penasaran Dinda mengintip dari belakang siapa sebenarnya yang sedang Tama sms.


"Hah?! Mas Arya sms-an sama Sisil?"


Kaget mendengar teriakan Dinda di sebelah telinganya membuat Tama terjungkal ke depan.


"Apaan sih Din, bikin kaget aja."


"Coba jelasin, kenapa Mas Arya bisa punya nomernya Sisil."


"Nggak tahu, Sisil yang SMS duluan. Katanya dapat nomer Mas dari Arya. Baru tadi juga SMS-nya."


"Dia ngapain SMS, Mas?"


"Kok kamu sendi gitu?"


"Ya habisnya..."


Tama menghela nafas pelan.


"Ya apalagi alasannya. Kan nggak mungkin dia nanya aku lagi ngapain."


"Terus sekarang Mas Arya jadi mata-matanya Sisil gitu?"


"Bukan juga,"


"Dinda nggak mau tahu, pokoknya Mas nggak boleh jadi mata-mata Sisil."


"Nggak mungkin lah, Mas nglakuin itu. Lagian Arya juga pasti nggak suka kalau Mas laporan-laporan sama Sisik."


"Janji, ya?"


"Iya, janji."


Mereka berdua saling menautkan kedua jadi kelingking. Keduanya bergegas menarik kedua jarinya saat beberapa siswi melihat tingkah lucu keduanya yang masih melakukan perjanjian seperti tadi.


"Ya udah, buruan naik. Malu nih,"


"Iya, iya. Ayo gas. Dinda juga malu "

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2