Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
50


__ADS_3

Sisil menatap Tama bingung. Sudah cukup lama, mungkin ada 15 menit mereka hanya berdiri diam seperti ini.


Membuat Sisil jadi merasa sedikit canggung dengan suasana ini.


Pagi ini entah apa yang terjadi. Bahkan Sisil juga tak terlalu ingat apa yang terjadi, tapi dia sudah disini sekarang.


Sisil ditarik pergi oleh Tama ke gedung basket indoor sekolah. Gedung yang hanya dipakai saat tanding ini terlihat begitu luas, gelap dan sunyi.


Entah apa yang Tama inginkan, Sisil hanya menurut untuk dibawa kesini dan mendengarkan apa yang ingin Tama katakan.


"Jangan pindah. Jangan balik ke Kalimantan, please," ucap Tama kemudian membuat Sisil terperanjat.


Kenapa? Kenapa Tama tak menginginkannya pergi. Sisil ingin merasa senang, tapi dia tak ingin berbuat bodoh dan menjadi menyedihkan lagi.


"Kenapa Sisil nggak boleh pindah? Apa alasan Kak Tama nggak ngebolehin Sisil pindah?"


Tama diam sejenak dan Sisil berusaha setenang mungkin untuk mendengar jawaban jelas darinya.


Sepertinya Tama sama gugupnya dengan Sisil yang entah kenapa merasa jawaban Tama akan mengubah keputusannya saat ini.


"Karena gue nggak mau lo ninggalin gue."


Sisil menggeleng tak mengerti. Ini bukan jawaban yang dia inginkan.


"Kenapa? Kenapa Kak Tama nggak mau Sisil tinggalin?"


"Karena gue cinta sama lo."


Sisil terperanjat kaget. Matanya membulat dan tubuhnya kaku saat mendengar pengakuan Tama.

__ADS_1


Sisil tak siap untuk kejutan yang tak baik bagi jantung tapi baik bagi hatinya ini.


Awalnya dia hanya berpikir Tama hanya akan mengucapkan kata perpisahan yang mungkin saja akan sedikit menyakiti hatinya.


Sisil tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padanya.


"Putri?"


Tama menggeleng cepat sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Sisil.


"Kita sudah putus."


"Kapan?"


"Setelah acara sekolah."


"Kenapa kalian putus?"


Arya menghela nafas sambil menggeleng kecil. "Agak rumit jelasinnya."


"Tapi Sisil butuh penjelasan, Kak."


"Oke. Kita, gue dan Putri udah nyoba tapi nyatanya semuanya nggak berhasil. Gue emang sayang sama Putri, tapi rasa sayang gue ke Putri nggak lebih dari rasa sayang gue ke Dinda. Gue ke Putri, sama dengan rasa gue ke Dinda."


Sisil mengangguk mendengarkan. Kedua mata mereka saling menatap mencoba memahami satu sama lain. Tak ada yang ingin memalingkan wajah.


"Gue emang bukan Arya..."


Sisil mengernyitkan dahi tak mengerti saat tiba-tiba nama Arya dibawa dalam percakapan mereka.

__ADS_1


"Gue memang bukan Arya yang lo cintai selama ini. Gue juga nggak bisa jadi kayak dia, tapi gue janji gue bakal cinta sama lo dan jadiin lo satu-satunya kalau lo ngizinin."


Sisil menggeleng kecil mendengar ucapan Tama. Dengan tergesa dia menangkup kedua wajah Tama dan menempelkan kedua bibir mereka.


Tama membeku sejenak saat bibirnya dicium tanpa peringatan seperti sekarang. Hanya untuk sepersekian detik dia tersadar dan membalas ciuman Sisil. Lagipula siapa laki-laki yang hanya diam saat wanitanya melakukan ini.


Cukup lama mereka mengulum bibir satu sama lain hingga Sisil membutuhkan oksigen dan memukul bahu Tama meminta pengertian.


Tama menghentikan kegiatan menyenangkan mereka. Tama menelungkupkan tangannya pada wajah Sisil. Mengamati wajah putih Sisil yang kini memerah berkat ulahnya.


Tama berganti mengamati bibir Sisil yang sedikit terbuka karena dia butuh oksigen sekarang. Dia melihat bibir kecil itu berwarna semakin merah dan memiliki sedikit luka.


Tama mengusap bibir Sisil dengan ujung ibu jarinya. Kemudian dia mengecup dahi Sisil sayang.


"Apa gue bisa simpulin kalau jawabannya ya?"


Sisil menatap Tama tak mengerti. "Setelah apa yang kita lakukan, Kak Tama masih nanya jawaban Sisil?"


"Gue butuh jawaban yang pasti, Sil."


"Memangnya apa alasan Sisil pindah ke Jakarta, Kak?"


"Arya?"


Sisil menggeleng sambil tersenyum kecil. "Bukan, tapi Kak Tama."


Tama melebarkan senyumnya bahagia dan kemudian mengecup bibir Sisil lagi. Bodohnya dia yang tak pernah tahu hal ini.


END

__ADS_1


__ADS_2