Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
25


__ADS_3

Baru masuk ke dalam rumah, Dinda sudah ditarik Sisil untuk menuju dapur. Sedangkan yang ditarik hanya menurut dengan wajah bingung.


"Dinda bantuin aku buat kukis ya di sini."


"Lo bisa buat kue?"


Sisil mengangguk semangat sambil mengeluarkan beberapa bahan kue dari laci.


"Sisil sering bantuin mama buat kue dari kecil."


"Lo sering buatin Kak Arya kue juga dong?"


"Iya, tapi Arya nggak akan mau makan kalau nggak dipaksa. Dia nggak suka manis. Kalau Kak Tama suka manis nggak Dinda?"


Dinda mengingat sebentar. Sepertinya Tama tidak begitu masalah dengan makanan manis. Seingat Dinda, Tama tidak pernah pilih-pilih makanan.


"Mas Arya nggak pernah pilih-pilih makanan sih "


Sisil mengangguk mengerti sambil mencampurkan beberapa bahan. Sedangkan Dinda hanya membantu menyimpan kembali bahan yang sekiranya sudah tidak diperlukan.


Karena pada dasarnya Dinda tidak bisa membuat kue. Dia hanya tahu makannya saja.


"Kalau Kak Arya nggak suka manis kenapa lo tetep bikin kukis?"


"Kukisnya kan aku bikin buat Kak Tama, bukan buat Arya."


Dinda menatap Sisil bingung. "Kok Kak Tama? Bukan Kak Arya?" tanya Dinda memastikan. Dia jadi ikut-ikutan memanggil Mas Arya dengan panggilan Kak Tama.


"Iya, Kak Tama."


"Emangnya nanti Kak Arya nggak marah?"


"Kenapa Arya harus marah? Dia kan juga nggak suka manis."


"Tapi kan kalian pacaran."


Sisil menatap Dinda diam dalam persekian detik sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.


Bahkan Sisil sampai mengeluarkan air mata dan sakit perut karena merasa perkataan Dinda sangat lucu.


"Ya Ampun Dinda. Aku capek ketawa."


Dinda menatap Sisil agak kesal. "Apanya yang lucu?"


"Aku dan Arya nggak pernah pacaran."


"Tapi lo kan suka sama dia."


"Iya dulu, sekarang aku sukanya sama Kak Tama."


Dinda menjatuhkan tepung di tangannya karena kaget. Kok bisa? Bagaimana bisa Sisil berubah haluan menjadi suka sama Tama?

__ADS_1


"Kok bisa?"


"Ceritanya panjang. Tapi kamu nggak pa-pa kan kalau aku suka sama Kak Tama."


Dinda menggeleng cepat. Tentu saja hal itu bukan masalah. Dia tak memiliki hak apapun untuk merasa keberatan.


"Tapi lo beneran udah nggak suka sama Kak Arya?"


Sisil mengangguk yakin.


"Lalu Kak Arya?"


"Arya kan nggak pernah suka sama aku."


oOo


Entah sudah berapa kali Tama memukul Arya dengan buku materi yang tebalnya sebanyak dosa-dosa Arya ini.


Belum juga Arya selesai mengerjakan soal, tapi dia selalu mengantuk dan jatuh tertidur saat Tama menjelaskan persoalan yang Arya tak paham.


"Lo niat belajar nggak sih?"


"Enggak."


"Kampret! Trus ngapain lo ajak gue kemari. Cuma buat ngeliat lo molor?"


Arya meringis sambil kembali menghadap ke soal di depannya. Baru beberapa detik menatap soal penuh angka, hawa mengantuk sudah kembali menyerang.


Tama menggeleng, menyerah. Sepertinya nilai Arya takkan tertolong sebelum dirinya mencari solusi kantuk ini.


"Istirahat aja dulu, Bro."


"Istirahat apaan. Lo kerjain soal aja baru dapet lima udah minta istirahat."


"Otak gue kayaknya masih kebawa materi-materi di sekolah deh. Jadi harus didinginin dulu."


"Iya kak, mending istirahat dulu," ucap Sisil membela Arya.


Tama akhirnya menyerah berdebat dan memilih untuk beristirahat dulu.


"Coba kukisnya kak."


Tama mengambil kukis.


"Gimana Kak? Enak nggak?"


Belum sempat Tama menelan kunyahannya. Tapi Sisil sudah antusias dengan reaksi Tama.


" Enak kok," ucap Tama setelah menelan kunyahannya.


Saat Tama akan menggigit kuenya lagi, Sisil sudah mengeluarkan dua tas kertas ke atas meja.

__ADS_1


"Satu buat Kak Tama dan satu buat Dinda," ucap Sisil sambil memberikan masing-masing tas itu kepada Dinda dan Tama.


"Makasih ya," ucap Tama dan Dinda bergantian.


"Kak Tama kalau pengen kue bilang aja sama Sisil, nanti Sisil buatin."


"Iya, makasih ya."


Tama kemudian menghabiskan kue ditangannya. Mereka kembali mengerjakan soal walaupun sebenarnya lebih banyak bercandanya dari pada belajarnya.


"Arya..."


Arya mendengar suara mamanya memanggil dari bawah.


"Mamah di rumah? Kok tumben nggak ngabarin," ucapnya pada Sisil.


"Sisil juga nggak tahu, Mama nggak ngasih tahu Sisil juga."


Mereka berempat akhirnya turun ke bawah untuk memberi salam kepada orang tua Arya.


"Oh ada tamu rupanya."


"Malem tante," ucap Dindan dan Tama memberi salam.


"Malem. Namanya siapa?"


"Saya Tama tante, ini adik saya Dinda, teman sekelas Sisil."


"Oh gitu."


"Mamah kok tumben pulang nggak ngabarin?"


"Mamah udah sampe Jakarta juga? Kok nggak ngasih tahu Sisil?" tanya Sisil pada mamanya juga.


"Iya kan biar kejutan. Oh iya, Tama sama Dinda sekalian aja makan malam di sini."


"Nggak usah tante, nanti ngrepotin," tolak Dinda.


"Nggak kok, nggak ngrepotin sama sekali. Udah ayo duduk, nggak perlu sungkan."


Tama dan Dinda pun akhirnya menurut untuk duduk bersama keluarga Arya dan juga mamanya Sisil.


Sebenarnya keduanya merasa canggung, tapi nggak enak juga kalau menolak. Mereka juga bisa-bisanya tak sadar kalau hari sudah mulai gelap.


"Oh iya Sisil, rumah di sebelah sudah bisa deal. Besok kita sudah bisa pindah ke sebelah."


"Serius, Ma. Yeee asik."


"Kenapa sih harus pindah cepet-cepet. Udah di sini aja dulu. Kamu juga baru sampai. Istirahat dulu."


"Lagi pula kita kan juga mau membicarakan tentang pertunangan Arya dan Sisil. Lebih enak kalau dibicarakan saat satu rumah."

__ADS_1


"Pertunangan?" tanya Arya, Sisil, Dinda dan Tama bersamaan.


oOo


__ADS_2