Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
27


__ADS_3

Seperti biasa, Arya mengantar Sisil ke kelasnya. Begitu juga siswa yang lain. Mereka merasa kebucinan Arya ini merupakan hal yang biasa.


Mereka sudah tak ada yang heboh seperti awal-awal Arya melakukannya.


Sesampainya di kelas Arya berusaha mencari sosok Dinda. Rasa khawatirnya bertambah saat melihat Dinda melamun dengan dikelilingi teman-temannya seperti biasa.


"Ayo ikut gue sebentar."


Dinda menatap bingung saat tangannya digandeng begitu saja. Tubuhnya menurut begitu saja saat Arya membawanya entah kemana. Pikirannya bercampur aduk antara ini mimpi atau kenyataan.


Semua yang berada di kelas menganga. Terkejut tak percaya melihat apa yang tengah terjadi.


Drama macam apa ini? Bisa-bisanya Arya mendatangi dan menggandeng tangan Dinda di depan pacarnya sendiri.


Setelah kedua manusia itu keluar, tiba-tiba kelas berubah menjadi gaduh. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Apakah cinta keduanya belum selesai dan keduanya akan kembali bersama?


"Gila! Gue berasa kayak liat sinetron tau gk kalau sampai mereka balikan pasti bombastis banget," celetuk seorang cewek yang duduk di dekat Sisil.


Beberapa anak juga saling berbisik sambil menatap Sisil. Masalahnya sejak tadi Sisil tak bergeming. Dia seperti tak keberatan dengan apa yang baru saja dilakukan Arya.


Seorang cowok yang memiliki rasa suka pada Sisil, memberanikan diri untuk bertanya. Dia merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk mendekati Sisil.


Jika benar keduanya sudah putus, maka dia akan menjadi sosok yang akan meminjamkan bahunya untuk Sisil.

__ADS_1


"Emm, Sisil nggak cemburu liat Arya gandeng Dinda kayak gitu?"


"Hem, memangnya kenapa Sisil harus cemburu?"


"Tapi kalian kan pacaran."


"Siapa yang bilang? Sisil dan Arya nggak pernah pacaran kok," terang Sisil polos.


Sontak seisi kelas terkejut mendengar pernyataan Sisil. Kalau mereka tidak pacaran, lalu yang dilakukan Arya selama satu semester ini apa? Kenapa dia harus antar-jemput Sisil ke kelas?


"Terus kenapa kalian selalu mesra-mesraan tiap hari?"


"Kapan Sisil dan Arya mesra-mesraan?" tanya Sisil tak terima.


"Oh itu, dianter jemput itu mesra-mesraan ya? soalnya Sisil suka nyasar kalau di tempat baru. Apalagi sekolah ini kebanyakan lorongnya. Jadi Sisil minta Arya buat anter Sisil biar nggak nyasar."


"Apa iya sampai satu semester kamu nggak hafal jalan ke kelas sendiri?"


"Sebenarnya Sisil sudah hafal pas seminggu pertama. Kalau lebihannya sih hanya akal-akalan Arya buat ketemu Dinda. Arya itu bucinnya sama Dinda," jelas Sisil semakin membuat yang lain tak percaya.


Jadi selama ini mereka salah sangka. Bisa-bisanya satu kelas atau mungkin bahkan satu sekolah banyak yang percaya kalau Sisil dan Arya ada hubungan.


"Tapi kalian selalu berangkat sekolah bareng."


"Ya kan Sisil tinggal di rumah Arya."

__ADS_1


"Kamu saudaraan sama Arya?"


Sisil berpikir sebentar. Mungkin bisa dibilang begitu. Sisil dan Arya kan selalu bersama sejak kecil. Bukankah saudara juga selalu bersama dari kecil. Sama seperti Tama dan Dinda. Mereka tidak ada hubungan darah juga bisa jadi kakak dan adik.


Kemudian Sisil menjawab dengan anggukan semangat.


"Jadi, Sisil nggak punya pacar dong sekarang?"


Sisil menggeleng "Belum, tapi akan punya."


"Sisil udah suka sama orang lain?"


Sisil mengangguk semangat lagi. "Sisil suka sama Kak Tama," jawabnya polos.


Ardi menutup mulut tak percaya. Padahal sebenarnya dia tak ingin ikut dalam perdebatan kelas ini. Tapi semuanya sudah keterlaluan. Bisa-bisanya Sisil mau merebut Kak Tama darinya.


"Sabar, Di, sabar." Fany mencoba menahan Ardi yang hampir melabrak Sisil. Nanti kelas bisa tambah ricuh kalau Ardi ikutan.


"Mas Arya gua, Fan. Berani-beraninya dia mau ambil Mas Arya gue," ucap Ardi sedih.


"Iya, iya udah jangan nangis." Fani memeluk Ardi sayang.


Walaupun sebenarnya Fany juga mendukung hubungan Tama dan Sisil. Dia tak akan bisa membayangkan Tama bersama Ardi. Maafkan temanmu ini ya Ardi.


oOo

__ADS_1


__ADS_2