Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
14


__ADS_3

Tama meraih ponselnya saat mendengar nada tanda pesan masuk. Dia membaca pesan yang tertulis. Keningnya mengerut tak paham dari maksud pesan elektronik itu.


Tunggu, kenapa ada nama Dinda tertera di bawah pesan. Padahal Tama sangat yakin kalau nama pengirim yang tertera di layarnya tadi adalah Arya.


Tama membaca sekali lagi pesan yang baru dia terima itu. Dia baru paham saat membaca isi pesan untuk kedua kalinya.


Bagaimana bisa Dinda memakai ponsel Arya. Apa mereka masih bersama? Pada jam segini?


Tama membuka jendela kamarnya untuk melihat pemilik suara montor yang baru saja dia dengar.


Arya tak melihat si pemilik montor karena sudah lebih dulu pergi. Tapi Tama tahu kalau itu Arya. Dilihat dari pintu gerbang rumah Dinda yang bergerak pertanda dibuka. Tama yakin kalau mereka baru sampai rumah. Kemana saja mereka sampai baru pulang jam segini?


Tama sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Berharap jendela kamar Dinda akan segera dibuka oleh si pemilik rumah, tapi nihil.


Mungkin karena ini sudah petang jadi Dinda tak berniat membuka jendelanya. Tapi Arya memutuskan untuk menunggu lebih dulu.


Tama mengecek ponselnya. Tadi dia sempat mengirim pesan pada Dinda, tapi cewek itu tak kunjung membalas pesannya.


Srek


Tepat pukul 7 malam dan akhirnya jendela itu terbuka. Memperlihatkan senyum indah Dinda di dalamnya.


“Mas Arya sorryyy.. tadi pulsa Dinda habis,” jelas Dinda bahkan sebelum Tama bertanya.


“Pulang jam berapa tadi?” tanya Tama datar.


Tama tak suka melihat Dinda pulang terlambat. Walaupun Dinda terlihat baik-baik saja sekalipun.


Arya terbiasa melihat Dinda pulang tepat waktu. Walaupun kadang Dinda terlambat pulang karena Tama tak bisa menjemputnya tepat waktu, tapi setidaknya tidak sampai setelat ini.


“Hehehe.. jam setengat 6. Tadi Dinda jatuhin kunci gerbang jadi balik ke sekolah lagi.”


“Nyari kunci sampe jam 6?”


“Nggak juga sih.. tadi mampir makan es krim dulu,” jelasnya.


“Oh..” sudah. Tama tak berniat untuk bertanya lagi.


Sebenarnya banyak hal yang ingin Tama tanyakan pada Dinda, tapi dia urungkan. Dia masih menunggu cewek itu mengatakannya sendiri.


Dinda selalu terbuka padanya dan sekarang Tama tak ingin semua itu berubah. Dia yakin Dinda punya alasan kenapa belum menjelaskan tentang hubungannya dengan Arya.


“Mas Arya marah, ya?” tanya Dinda terdengar murung melihat Tama yang hanya diam.


Tama menggeleng. “Udah masuk sana, belajar. Kamu udah SMA, bukan anak SMP lagi.”


Dinda mengerucutkan bibirnya kesal. “Capek. Dinda udah 7 jam belajar di sekolah. Rumah tu tempat buat istirahat.”

__ADS_1


“Ngarang. Pantes kamu nggak pinter-pinter, belajar aja males.”


“Dinda pinter kok. Orang masih masuk 10 besar di kelas. Belajarnya nanti aja pas mau ulangan.”


“Nggak baik belajar kebut.”


“Kan Mas Arya tau Dinda gampang lupa. Jadi percuma kalau belajar sekarang, tapi nanti ujung-ujungnya ilang semua.”


Tama menggeleng maklum. Dia sudah hafal sifat buruk adiknya yang satu itu. Tapi dia baru tahu kalau sifat pelupa Dinda juga berlaku pada pelajaran.


“Mas Arya mau belajar, ya?”


“Iya,” bohong Tama. PR saja Tama jarang mengerjakan, apa lagi belajar.


Lucu juga. Tama yang selalu menyuruh Dinda untuk belajar, tapi diri sendiri tak melakukannya.


“Yaudah deh, Dinda nggak mau ganggu. Selamat belajar, Mas Arya,” ucap Dinda seraya menutup jendela kamarnya.


Arya merasa tak rela saat melihat jendela itu mulai tertutup. Tapi apa daya jika Tama sendiri yang mengatakan akan belajar.


Ternyata berpura-pura sempurna itu sulit. Berpura-pura saja sulit, bagaimana jika dia terlahir sempurna.


Ada rasa bersalah saat Tama berbohong tadi. Dia hanya ingin menjadi kakak yang baik untuk Dinda.


Tama ingin menjadi panutan yang baik untuk adiknya. Tapi ternyata semua itu sulit. Apalagi sekarang Dinda satu sekolah dengannya.


Pada akhirnya apa yang Tama nanti tak juga Dinda sadari. Cewek itu masih bungkam dengan hubungannya dan Arya.


~oOo~


Pluk


Sebuah pendaratan indah yang terjadi di tubuh Arya. Kini Sisil tengah memeluknya erat. Dia juga membenamkan wajahnya pada dada Arya.


Belum sampai dia masuk rumah, tapi Sisil sudah mulai menempelinya seperti ini.


Beruntung tubuh Sisil kecil sehingga Arya bisa menahan berat yang tiba-tiba menghantam tubuhnya itu.


“Arya kenapa pulang telat?” tanya Sisil yang masih membenamkan wajahnya pada dada Arya.


Arya merasa ada yang aneh. Suara Sisil terdengar berbeda di telinganya.


“Lo kenapa?” tanya Arya sambil berusaha memberi jarak pada mereka, tapi Sisil tak mengizinkan. Dia bahkan lebih mengeratkan pelukannya pada Arya.


Suara isakan mulai terdengarterdengar. Arya terkejut mendengar cewek itu tiba-tiba menangis. Apa dia sudah keterlaluan pada cewek ini.


Meresa tak tega, tangan Arya bergerak sendiri untuk mengusap punggung rapuh Sisil. Dia mencoba meredakan isak tangis Sisil. Arya paling tak bisa melihat wanita menangis di depan matanya.

__ADS_1


Cukup lama mereka berada diposisi yang sama. Bahkan pintu rumah itu belum sempat Arya tutup.


Setelah tangis Sisil mulai mereda, Arya beranjak untuk menutup pintu dan kembali duduk di sebelah Sisil yang lebih dulu sampai di sofa.


“Kemarin ayah baru selesai dioperasi,” jelas Sisil bahkan sebelum Arya bertanya lagi.


Aryahanya mengangguk mengerti karena memang sudah tahu kabar itu dari mamanya. “operasinya berhasil, tapi kenapa ayah belum juga sadar?” tanya Sisil menatap sayu ke arah Arya.


Sekarang Arya yang bingung harus menjawab seperti apa. Bodohnya dia yang belum sempat melihat kondisi sahabat baik papanya itu di rumah sakit.


Arya juga bukan dokter yang bisa menjelaskan tentang penyakit ayah Sisil, tapi Arya tak ingin memberi Sisil harapan palsu.


Arya bingung merangkai kata. Kalimat apa yang seperti tak memberi harapan, tapi juga bersifat menenangkan. Adakah kalimat seperti itu? Haruskah Arya bertanya kepada guru sastranya dulu?


“Mungkin Om masih butuh istirahat, lo cuma harus nunggu sebentar lagi,” ujar Arya akhirnya.


“Ayah akan sembuh, kan?"


“Kalau lo percaya pasti Om bakal sembuh. Lo percaya aja sama dokter dan juga jangan lupa berdoa biar Om cepet sembuh.”


Sisil tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada lengan Arya. Arya menurunkan bahu agar memudahkan Sisil untuk bersandar pada bahunya.


Sisil tersenyum bahagia. Inilah alasan Sisil mencintai Arya. Tak ada orang yang mampu membuatnya tenang kecuali Arya.


Sisil tak peduli Arya sudah memiliki pacar atau belum. Selama Arya belum menikah, Sisil akan terus berusaha mendapatkan Arya. Dia akan terus berusaha agar Arya bisa melihat ketulusan hatinya.


Dan juga Sisil hanya ingin menagih janji Arya. Walaupun mungkin di sini hanya Sisil yang ingat dengan janji masa kecil itu.


Walaupun mungkin suatu saat nanti Arya tak bisa menepati janji masa kecilnya. Sisil berharap Arya dapat mengingat janjinya tanpa bantuan Sisil.


Arya mengusap rambut Sisil pelan. Untuk kali ini saja, Arya tidak akan keberatan Sisil berada sedekat ini dengannya. Dia tak ingin menjadi orang yang egois sekarang.


“Mama ada di rumah sakit jagain ayah. Apa Arya laper? Sisil bisa siapin makan malam?” tanya Sisil menjauhkan kepalanya dari bahu Arya, menatap wajah teduh itu sejenak.


“Lo laper?” tanya Arya sambil menatap Sisil.


Sisil menggeleng pelan.


“Udah makan?” tanya Arya lagi.


Sisil menggelengkan kepalanya lagi.


“Kita pesan makanan aja. Gue mandi dulu, lo nonton tv aja di sini sambil nunggu pesenannya dateng,” ujar Arya.


“Ini uangnya gue taruh sini.” Arya meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Dia berjalan ke kamar sambil menelepon rumah makan pesan antar.


Tak perlu ditanya karena Arya sudah hafal makanan kesukaan Sisil, ikan cakalang. Dan beruntung ada rumah makan pesan antar yang menjualnya di dekat rumah.

__ADS_1


Arya memesan itu walaupun pada dasarnya sia tak terlalu suka pedas. Toh dia bisa menyingkirkan biji cabainya atau menaruh banyak kecap ke dalam pesanannya nanti. Hari ini spesial untuk Sisil. Arya akan mengalah untuk beberapa hal padanya.


~oOo~


__ADS_2