
Hery merogoh sakunya, ia mengeluarkan ponselnya lalu segera menghubungi Pak Amir. Ia begitu yakin bahwa yang disampaikan Pak Ahmad benar.
Pak Amir yang telah mengansur perjalanannya sebelum subuh dengan kedua orang tua Raihan dan istrinya yang ia bawa serta, karena Pak Amir tak mau meninggalkan istrinya itu terlalu lama khawatir ia akan lama nanti di Villa Pak Raam. Pak Amir melihat ada panggilan masuk dari ponselnya yang ada di dashboard mobil.
"Siapa pak Amir?" Tanya Pak Raam yang duduk di samping pak Amir.
"Hery pak Raam."
"Kalau gitu segera angkat pak, jangan lupa aktifkan speakernya kami juga mau dengar."
"Baik pak Raam.."
"Ya nak Hery, apa ada kabar tentang nak Raihan?" Tanya Pak Amir tanpa basa-basi.
"Alhamdulillah pak, Raihan ditemukan warga pak kebetulan warga yang menemukan tinggal tak jauh dari rumah Om aku Pak.."
"Alhamdulillah..." Ucap mereka yang berada di dalam mobil itu serentak. Bu Lena menangis haru hatinya yang sesak dari semalam dan nggak bisa tidur seketika bisa bernafas lega.
Hery dapat mendengar suara gaduh penuh syukur dari balik ponselnya.
Pak Amir menghentikan mobil tersebut ketika melihat Mesjid. Mereka akan melaksanakan sholat Subuh terlebih dulu baru melanjutkan perjalanan. Sedangkan panggilan dari Hery masih berlangsung.
"Bapak lagi dimana sekarang? Jika sudah sampai alangkah baiknya bapak langsung kesini saja.."
"Baru keluar dari jalan Baypass nak Hery, insyaallah nanti kita akan langsung saja ke sana, sekarang kami berhenti untuk sholat dulu."
"Baik pak, saya tunggu.." Hery mematikan teleponnya. Ia segera masuk ke dalam Mesjid untuk menunaikan sholat Subuh yang sudah berjalan satu rakaat itu.
Di rumah Yulia..
"Kak, mau aku buatin kopi?" Ucap Yulia pada Haikal yang sudah kembali dari Mesjid, Haikal sengaja kembali lambat, ia berdoa dan berdzikir dahulu di Mesjid, berharap keajaiban untuk Hasna agar segera ditemukan.
Mata Yulia tampak sembab, namun ia nggak boleh lemah, pagi ini mereka akan kembali ke danau untuk melanjutkan pencarian Hasna dan Raihan.
Haikal semalam sengaja tidur di rumah menemani Yulia, sedangkan malam-malam sebelumnya saat ada Hasna, Haikal lebih memilih tidur di Mesjid untuk menghindari fitnah.
"Boleh dek, terimakasih.."
Yulia segera ke dapur untuk membuatkan kopi kakaknya. Tak lama ia kembali ke ruang depan dimana Haikal duduk bersandar di sofa yang tampak sudah tua.
"Kak.. Hasna kira-kira bisa ditemukan nggak ya..?" Ucap Yulia sendu, ia ikut duduk di samping kakaknya.
"Kita berdoa saja dek.." Ucap Haikal yang seperti kehilangan semangatnya, ia menyeruput pelan kopi yang sudah berada ditangannya itu. Berharap pikirannya bisa lebih rileks.
"Kak, aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Ya dek tanya apa?"
"Apa kakak punya perasaan terhadap Hasna?"
Haikal menatap lurus ke depan, tiba-tiba mulutnya terkunci.
"Kak, kenapa diam?"
__ADS_1
Haikal masih tak bersuara. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
Tiba-tiba ponsel Yulia yang berada di kamarnya berdering.
"Dek ponselmu bunyi tuh, segera lihat siapa tahu ada berita penting."
"Baik kak, sebentar.." Yulia segera berlari ke kamar.
"Siapa dek?"
"Dari kantor polisi kak." Ucap Yulia sambil berjalan mendekati kakaknya kembali.
"Segera angkat dek.."
"Kakak saja yang angkat aku nggak berani, aku takut kabar buruk yang mereka sampaikan."
"Ya sudah bawa sini.."
Jantung Haikal tiba-tiba berdebar, ada kabar apa gerangan yang akan disampaikan polisi pada mereka.
"Ya Assalamualaikum pak.."
"Wa'alaikumussalam, selamat pagi.. Kami dari kantor kepolisian mau menyampaikan bahwa saudari Hasna dan saudara Haikal sudah ditemukan dalam keadaan selamat oleh warga setempat. Semoga informasi ini membantu dan pencarian juga kami hentikan. Dan mereka sekarang di rumah Pak Ahmad di jorong Batang Hari."
Yulia yang menguping pembicaraan itu seketika bernapas lega.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Pak.." Ucap Haikal haru, tak sengaja bulir bening jatuh di pipinya. Sedangkan Yulia terlihat fokus memperhatikan mimik wajah kakaknya.
"Alhamdulillah ya Allah... akhirnya Hasna ditemukan juga... Rumah Pak Ahmad bukannya itu dekat rumahnya Tante Ica ya kak?" Ucap Hasna senang sambil terus memandang wajah kakaknya. Ica adalah istrinya dari Omnya Hery.
"Oh ya kak, aku jadi yakin, kakak pasti punya perasaan pada Hasna.."
Haikal menundukkan kepalanya.
"Kalau suka, aku sangat mendukungmu kak, Hasna butuh laki-laki sepertimu kak, udah Sholeh, dewasa, perhatian lagi.. nggak seperti Roby itu.."
"Ssst, kamu nggak boleh ngomong seperti itu."
"Tapi dek..."
"Tapi apa kak..?"
"Bagaimana dengan Hasna, apa ia mau sama kakak yang pekerjaannya hanya menjadi petani di kampung ini?"
"Mmmmh, apa kakak nggak mau cari pekerjaan di Kota saja? Sayang sarjananya juga kan.."
"Ini udah impian kakak dek, biarkan kakak membangun kampung halaman ini dengan cara kakak sendiri."
"Trus, yayasan yang kakak bangun untuk Pendidikan Usia Dini itu gimana ceritanya?"
"Insyaallah bulan depan, sudah bisa dibuka dek.."
"Mmmh sepertinya Hasna cocok jadi istrimu kak, karena Hasna juga senang dengan dunia pendidikan, terlihat dari ia yang antusias ingin membantu kakak mengajar anak-anak ngaji kan.."
__ADS_1
Haikal seketika tersenyum, Ia terbayang wajah Hasna yang bersemu merah muda saat mengajar kemarin.
"Hasna tampak begitu menikmati profesi itu.." Ucap Haikal dengan raut wajah bahagia.
"Naaah tu kan... Kakak pasti sudah membayangkan Hasna... Nggak baik belum halal lho.."
"Astaghfirullah..."
"Oh ya dek, tapi Raihan sepertinya ia juga ada hati pada Hasna, apa kamu tak bisa melihat itu?"
"Soal Raihan sih, aku rasa Hasna menutup hatinya dengan laki-laki Kota kak, jadi aku pikir kesempatan kakak untuk mendapatkan Hasna itu lebih besar dari Raihan."
Haikal pun tampak mengulum senyumnya.
***
Hery begitu bahagia sambil satu tangannya terus memeluk pundak Raihan. Di ruangan tamu sederhana itu, di sofa yang panjang duduklah Pak Ahmad, Buk Par dan Hasna yang duduk di samping Buk Par. Sedangkan Hery dan Raihan duduk tepat berada di depan mereka.
"Jadi nak Hery sudah melaporkan kembali ke kantor Polisi?" Tanya Pak Ahmad memulai percakapan mereka. Setelah mereka menyelesaikan sarapan dengan nasi goreng yang dibuat Buk Par dibantu Hasna pagi itu bersama-sama.
"Sudah pak, aku langsung bergerak cepat termasuk orang tua Hery juga sudah aku beri tahu, sebentar lagi mereka akan sampai dan langsung kesini." Hary melepaskan rangkulannya satu tangannya dari pundak Raihan setelah Raihan memberi kode, Raihan yang sudah merasa sesak dan kaku karenanya. Ditambah badannya yang sedikit lemah karena demam.
"Syukurlah.."
"Kebetulan sekali ini pak, nak Raihan dan nak Hery, orang tuanya Raihan datang, soalnya ibu mau menyampaikan sesuatu pada mereka." Ucap Buk Par sambil menolehkan wajahnya pada Hasna yang duduk disampingnya kemudian memberi kode pada Hasna dan Hasna pun tersenyum pada Buk Par.
Raihan menyandarkan kepalanya ke kepala sofa, tiba-tiba ia merasakan pusing.
"Kamu kenapa Rai?"
Hery meraba kening Raihan.
"Kamu demam, pantas saja tadi kau tampak tak berselera padahal nasi goreng buatan Hasna sangat enak.."
"Maaf, tenggorokan aku pahit, jadi bukannya aku tak menghargai makanan Hasna.."
Hasna tampak malu dan tersanjung, ia yang tadinya hanya membantu saja tapi malah ia yang mendapatkan pujian. Karena Buk Par lah yang mempromosikan pada mereka bahwa Hasna lah yang memasak nasi goreng tersebut.
"Kalau gitu nak Raihan istirahat saja dulu di kamar Herman." Pak Ahmad memberi saran karena ia tahu Raihan pasti butuh istirahat.
"Oh ya Herman mana ya pak? Nggak ada muncul batang hidungnya dari tadi.."
"Semalam ia tidur di rumah si Ujang nak Hery.."
Hery yang dulunya walau seminggu berada di sana namun Hery begitu mudah akrab dengan warga sekitar, hingga ia bisa mengenal banyak nama warga di sana.
"Ayo lah Rai, mau aku temani?" Ajak Hery yang hendak merangkul Raihan
"Nggak usah, kalau sama kamu yang ada aku nggak bisa istirahat ntar.." Tolak Raihan sambil berdiri kemudian ia berjalan menuju kamar Herman yang semalam juga ia tempati.
Pak Ahmad dan Buk Par tertawa melihat tingkah mereka. Sedangkan Hasna kembali menata hatinya. Ia terus berdoa semoga keputusan yang telah ia buat adalah keputusan yang terbaik menurut Tuhannya.
"Kalau gitu, saya pamit dulu Pak, Buk, terimakasih atas sarapannya.. saya mau menunggu orang tua Raihan di rumah Om saja." Ucap Hery kemudian ia pamit pulang dan pada Hasna ia hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
TBC...