
Hasna berusaha mencari pegangan saat tubuhnya tiba-tiba terasa sempoyongan dibawa jalan.
"Hati-hati Nona.." Ucap seseorang sambil memegang tangan Hasna yang kebetulan lewat dan melihat Hasna yang hampir saja jatuh karena tak mendapatkan pegangan.
"Terimakasih..." Ucap Hasna setelah tubuhnya sudah berdiri tegak kembali. Hasna cepat menarik tangannya saat tahu tangan itu adalah tangan seorang laki-laki.
"Maaf, jika membuat Nona tidak nyaman, saya hanya niat membantu." Ucapnya kembali lalu segera berlalu dari situ.
Hasna yang tadinya hanya menunduk akhirnya penasaran melihat wujud orang yang telah menolongnya. Dari pakaiannya Hasna bisa langsung menebak ia adalah seorang Dokter di Rumah Sakit tersebut.
Hasna berjalan dengan susah payah menghampiri tempat di mana Bu Lena menunggunya. Karena kakinya begitu gemetaran dan perasaannya campur aduk. Akankah suaminya Raihan bisa sehat lagi, sedangkan kondisinya sekarang cukup kritis.
"Bagaimana Na... apa kata mereka?" Tanya Bu Lena saat Hasna sudah berada di dekatnya. Akhirnya Bu Lena bisa bersuara juga.
"Raihan masih di ruang ICU Ma.. keadaannya masih kritis.." Hasna mengambil posisi duduk di samping Bu Lena, satu tangannya langsung merangkul pundak Ibu Mertua nya itu. Hasna bisa merasakan tubuh Bu Lena tidak memiliki kekuatan lagi untuk duduk, Hasna menarik tubuh Bu Lena untuk ia rebahkan di bahunya.
"Kita terus berdoa ya Ma.. semoga ada keajaiban buat Raihan, Raihan bisa pulih lagi seperti sedia kala."
Bu Lena hanya menganggukkan kepalanya.
Tak lama, Hery yang ternyata diberi tahu oleh Bik Minah juga sudah sampai di Rumah Sakit Mitra Husada.
"Ma.. Hasna..." Sapa Hery saat melihat Bu Lena dan Hasna duduk di ruang tunggu IGD tersebut.
"Her... Raihan Her, Raihan... hiks hiks hiks." Bu Lena pun akhirnya menangis terisak-isak. Tadinya ia berusaha untuk kuat karena tak mau menambah beban Hasna yang pastinya juga sangat terpukul, tapi setelah Hery datang Bu Lena menumpahkan tangisnya pada Hery.
Hery meraih tangan Bu Lena, Ibu angkat yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri itu.
"Ma, yang sabar ya... Raihan pasti sembuh..." Ucap Hery dengan suara yang sudah serak. Hery juga begitu terpukul saat mendengar kabar Raihan yang kecelakaan dari Bik Minah. Ia pun langsung berangkat menuju Rumah Sakit.
"Keluarganya Pak Raihan Raam Jaya.."
"Iya Sus.." Jawab Hery cepat saat mendengar suster menyebut nama Raihan yang baru keluar dari ruang ICU.
"Maaf, pasien masih membutuhkan transfusi darah beberapa kantong lagi, kebetulan stok darah di Rumah Sakit untuk golongan darah Pak Raihan cuma tinggal satu. Silahkan dari keluarga jika memiliki golongan darah yang sama untuk mendonorkan darahnya atau membantu mencarinya di luar."
"Golongan darah Raihan O, sedangkan saya B.." Sahut Hery dengan raut wajah sedih.
"Sus, apa boleh saya mencobanya, saya memang belum pernah cek golongan darah sama sekali tapi siapa tahu nanti cocok dengan Raihan.." Ucap Hasna sambil bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Baik Kak, mari ikut saya.."
"Ma, Hasna tinggal dulu... Her tolong jaga Mama ya..." Ucap Hasna kemudian mengikuti sang Suster untuk memeriksa golongan darahnya.
Dalam hatinya Hasna sangat berharap semoga ia bisa membantu suaminya dengan cara mendonorkan darahnya nanti.
***
Waktu terus berputar mengikuti porosnya. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, manusia hanya bisa menjalani setiap roda kehidupan dengan usaha dan ikhtiarnya masing-masing. Namun tetap berharap mendapatkan akhir yang baik dari usaha yang telah dilakukan.
Begitulah yang dihadapi Hasna sekarang, ujian demi ujian seakan tak pernah berhenti menyapanya. Sudah lebih satu bulan Raihan dirawat. Namun Raihan masih saja belum sadar dari komanya. Hasna begitu setia menunggu suaminya itu di Rumah Sakit. Ia belum sama sekali pulang ke rumah. Walau Bu Lena bersikeras menyuruh Hasna untuk pulang, karena Hery juga mau menggantikan Hasna menunggu Raihan. Namun Hasna selalu menolaknya. Hasna ingin menjadi orang pertama melihat suaminya itu tersadar dari komanya, karena Hasna begitu merindukan suaminya itu.
Hasna melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran selalu di dekat Raihan. Ia juga tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan suaminya itu.
"Sayang.. apa kamu tak rindu padaku...? Kenapa kamu nggak bangun-bangun Rai.."
"Ayolah Rai... bangun... aku sangat merindukanmu... Dalam darahmu mengalir darahku Rai.. begitu besarnya cinta Allah pada kita hingga golongan darahku juga sama denganmu..." Ucap Hasna di sela mengajinya dengan menggenggam tangan suaminya itu. Lalu Hasna menciumnya dengan takdzim.
Hasna mengikuti saran Dokter agar selalu mengajak bicara Raihan untuk mempercepat pemulihan Raihan dari komanya. Termasuk terapi cerita yang bisa membantu mempercepat pasien sadar dari komanya.
"Rai, kamu ingat nggak saat kamu menolong ku tenggelam di Danau..? Aku marah padamu... karena aku pikir kamu macam-macam padaku saat itu... Ternyata kamu hanya membantuku memberi nafas buatan.. dan kau pun meminta maaf saat Malam Pertama kita karena kau telah menyuri startnya di sana... Jika dipikir-pikir kamu itu lugu ya Rai...mmmhh kita sama..." Ucap Hasna sambil tersenyum mengingat momen itu.
"Rai... aku jadi merindukan suasana Danau deh, kamu bangun ya... Kita akan berbulan madu di sana... Bukannya dulu kamu pernah berjanji padaku, jika kita sudah menikah kita akan berbulan madu di sana, di Villa yang ternyata punya Papa mu sendiri yang kamu sendiri tak mengetahuinya kan... Jadi... sekarang aku tagih janjimu sayang... kamu bangun..." Ucap Hasna yang berharap usahanya berhasil kali ini untuk membuat Raihan sadar.
Hasna dengan pelan mengangkat kepalanya yang terasa berat karena baru saja rasanya ia tertidur namun ia harus terbangun karena merasakan sesuatu seperti ketukan berulang di kepalanya.
"Kamu siapa? Kenapa bisa di sini bersamaku?" Ucap Raihan sambil mengitari seisi ruangan itu. Hingga ia tahu bahwa ia sekarang sedang berada di Rumah Sakit.
Baru saja Hasna tersadar bahwa suaminya ternyata sudah bangun dari komanya, Hasna malah dibuat bingung oleh pertanyaan suaminya itu.
"Rai, Alhamdulillah kamu udah sadar.." Ucap Hasna senang sambil mengucek matanya yang terasa perih.
"Aku tanya kamu ini siapa? Kenapa bisa ada di sini dan sok kenal denganku..?" Bentak Raihan karena ia merasa tak mengenal Hasna sama sekali.
Hasna yang tadinya bahagia karena suaminya sudah sadar harus menelan kekecewaan karena suaminya tak mengenalinya.
Dengan cepat Hasna memencet tombol yang ada di dekat ranjang Raihan untuk memberi tahu Dokter.
Dan tak lama sang perawat pun masuk.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya bantu kak?" Tanya perawat yang memang masih muda dari Hasna.
"Sus, pasien sudah sadar tapi kenapa ia jadi tak mengenali saya ya..?"
"Sebentar saya panggil Dokter dulu kak.."
Hasna menganggukkan kepalanya.
Tak lama, Dokter yang masih Muda yang menangani Raihan pun masuk. Ia adalah Dokter yang menolong Hasna yang hampir jatuh saat itu.
Dokter Muda itu segera memeriksa kondisi Raihan. Detak jantung, tekanan darah, semuanya sudah kembali normal.
"Maaf, apa boleh saya tahu nama saudara?" Tanya Dokter pada Raihan setelah memeriksa dan memastikan kondisi tubuh Raihan semuanya sudah stabil.
"Nama saya Raihan Dok.."
"Nama Orang Tuanya?"
"Raam Jaya dan Lena Wati."
"Kalau gitu, apa saudara memiliki orang terdekat selain orang tua?"
"Ada.. Namanya Hery, ia sudah seperti saudara saya dan teman dekat saya yang perempuan adalah Dini."
Raihan menjawabnya dengan lancar dan benar adanya. Namun setelah Dokter menanyakan Hasna pada Raihan. Raihan menggelengkan kepalanya, lalu berucap,
"Saya tak mengenalnya?"
"Benar saudara tak mengenalnya..?" Ucap sang Dokter Muda sembari melirik Hasna yang seperti menahan tangisnya. Raihan masih tetap menggelengkan kepalanya tanda ia tak mengenal Hasna.
"Kenapa saya bisa ada disini Dok? Apa yang telah terjadi pada saya hingga saya berada di sini? Mana orang tua saya? Papa saya yang biasanya walaupun sibuk, jika saya sakit pasti beliau tetap menyempatkan diri menemani saya, apalagi saya di Rumah Sakit. Mana beliau?"
"Sebaiknya saudara istirahat dulu, sebentar lagi orang tua saudara akan datang."
Raihan mengangguk lemah. Sedangkan Hasna sudah tidak tahan lagi, ia ingin mendapatkan jawaban langsung dari sang Dokter kenapa suaminya tak mengenali dirinya.
"Dok, kenapa Raihan bisa tak mengenali saya? Dan ia juga lupa kalau Papanya sudah tidak ada Dok?"
"Baik Nona, silahkan ikut saya, nanti saya akan jelaskan di ruangan saya.."
__ADS_1
Hasna pun mengangguk, ia pun melangkah mengikuti Dokter itu untuk masuk ke ruangannya dengan perasaan yang tak menentu.
TBC...