Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 52


__ADS_3

"Apa? Jadi ide itu dari kamu? Aduh, Mama nggak habis pikir deh, kalian bisa merencanakan ini. Dan kalian tahu, kalian itu ternyata jago bersandiwara juga.. Mau jadi aktor sinetron kalian, haaa." Ucap Bu Lena dengan nada suara agak tinggi karena shock mendengar penuturan Hery padanya.


Bu Lena yang langsung menghubungi Hery saat Raihan dan Hasna meninggalkan rumah. Namun karena siang itu Hery sedang ada urusan penting, ia baru bisa datang ba'da Maghrib ke rumah Bu Lena. Dan mereka baru saja selesai makan malam, karena Bu Lena tak ingin terburu-buru menanyakannya pada Hery sedangkan perutnya dalam keadaan lapar. Bagaimanapun juga seseorang yang dalam keadaan lapar emosinya jauh lebih tinggi dalam menanggapi sesuatu dari pada dalam keadaan kenyang.


"Ma, tapi itu demi kebaikan Raihan juga Ma.. Mama mau putra Mama itu sampai stress karena tak sanggup menghadapinya, nggak kan? Hatinya Raihan kemarin itu sempat tersiksa dengan hanya memikirkannya saja Ma, apalagi jika itu benar-benar akan ia jalani." Ucap Hery membela diri karena ia tak mau sampai disalahkan oleh Bu Lena.


Bu Lena tampak menghela napasnya pelan, seperti mencoba menenangkan dirinya. Sedangkan Hery kembali melanjutkan ucapannya.


"Masih beruntung Raihan bisa selamat dari kecelakaan itu Ma, dan nyatanya penyebab kecelakaan itu juga karena selama di perjalanan Raihan terlalu banyak melamun karena tak siap, sehingga ia tak sengaja membawa mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan akhirnya mobil itu tak terkendalikan lagi sehingga menabrak pembatasan jalan Tol Sedyatmo tersebut." Ucap Hery dengan nada lebih rendah dari sebelumnya. Dan Bu Lena tampak mengurut dadanya. Ternyata memiliki dua istri menjadi beban pikiran bagi putranya itu. Padahal Hasna sendiri yang mendukung Raihan untuk menikah ulang dengan Dini kembali.


"Lalu, apa kalian tak mengingat bagaimana perasaan Dini nantinya bila kalian ketahuan hanya bersandiwara."Tanya Bu Lena yang masih belum mengerti sepenuhnya maksud dari sandiwara putranya dengan Hery tersebut.


"Aku yakin Dini akan mendukung kami setelah tahu Ma, karena Dini sendiri yang curhat sama Hery, bahwa ia mengikhlaskan Raihan hanya untuk Rumi, sang perawatnya sekaligus menjadi sang sahabatnya Dini alias Hasna. Bahkan Dini sekarang malah menganggap Hasna saudaranya sendiri walau Dini hanya mau memanggil Hasna dengan sebutan Rumi karena ia sudah nyaman dengan panggilan tersebut."


"Huuuft, syukurkah..." Bu Lena menghela napasnya lega, karena ia memang menyaksikan saat Dini berbicara seperti itu juga pada Hasna.


"Dan untuk Mama ketahui, yang membuat rencana tragedi malam itu, itu adalah rencananya Dini dengan Roby Ma, Dini hanya berpura-pura seolah menjadi pahlawan di mata Mama dan tujuannya agar Mama bisa memaksa Raihan untuk menikahinya dengan alasan hutang nyawa. Dan Roby bisa merebut kembali Hasna dari Raihan. Karena diwaktu Hasna ditemukan oleh Raihan, Dini lah yang memberi tahu pada Roby."


"Lho, Dini bekerjasama dengan Roby, begitu maksud kamu Her? Tapi bukannya Dini yang melaporkan Roby ke Polisi malam itu juga?"

__ADS_1


"Benar Ma, karena malam itu Dini tak terima karena ingin dilecehkan oleh Roby. Sementara Dini sudah sadar bahwa ia sudah tak mau berbuat dosa Zina lagi. Dan ia juga takut Raihan malah semakin membencinya bila ketahuan masih berhubungan int*m dengan Roby. Saat itu Dini pun merasa Roby malah menjadi penghalang buat ia merebut hati Raihan, makanya ia melaporkan Roby ke Polisi agar Dini terbebas dari Roby yang semakin tak jelas akhlaknya itu." Ucap Hery yang kemudian tampak mengatur napasnya, lalu ia kembali berucap,


"Tapi.. pada saat berumah tangga dengan Raihan, Dini bisa merasakan bahwa cinta Raihan pada Hasna ternyata begitu besar Ma, karena Raihan selalu saja membandingkan Dini dengan Hasna. Dan Dini sama sekali tak menemukan sedikit pun cinta Raihan lagi untuk dirinya."


"Tapi aneh juga, kenapa kalian membuat rencana seolah-olah Raihan hanya mengingat Dini dan malah Raihan tak mengingat Hasna. Kenapa tidak kebalikannya saja, jadi Hasna nggak merasakan rasa sakit dan sedih saat Raihan melupakannya. Kenapa kalian sampai tega menyakiti menantu Mama, haaa?" Ucap Bu Lena yang tanpa sengaja mendukung rencana sandiwara putranya itu. Dan itu langsung membuat tawa Hery pecah.


"Hahahaha, tuh kan Mama malah ikutan mendukung kami untuk menjadi aktor sinetron."


"Dasar, kamu Her menertawakan orang tua, pamali.." Ucap Bu Lena sambil menjitak kepala Hery.


"Ampun Ma.. Maafkan Hery ya.. ya.." Ucap Hery sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya langsung di depan Bu Lena.


"Sebenarnya tanpa Hery jelaskan, Mama pasti mengerti deh alasannya kenapa?"


"Ooooh Mama tahu, kalian ingin menguji Dini apakah Dini memang benar-benar sudah mengikhlaskan Raihan hanya untuk Hasna saja, iya kan..? Tapi kalau Hasna.. Mama masih belum mengerti deh kenapa kalian begitu tega membuat ia sedih, untung Hasna orangnya sabar kalau tidak bagaimana?"


"Naaah apa kata Hery, Mama pasti akan bisa mengerti.. Dan tentang Hasna sebaiknya Mama tanyakan sendiri nanti pada Raihan. Hery takut terlalu jauh mencampuri urusan Raihan dengan para istrinya. Tapi tanpa Raihan bagi tahu juga, lambat laun Mama pasti mengerti juga.."


"Kamu itu ya.. bikin Mama penasaran saja.. Tapi perlu kamu ingat istri Raihan itu hanya Hasna, dan pernikahan Dini dan Raihan dulu itu tidak sah menurut Agama. Jadi berhenti menyebut para istri Raihan." Ucap Bu Lena yang sedikit tersulut emosi dengan ucapan Hery yang menggantung serta beliau yang memang memahami pernikahan Dini dan Raihan itu diharamkan Agama setelah mendapatkan penjelasan dari adiknya yang tinggal di Arab Saudi.

__ADS_1


"Iya Ma, Maafkan Hery Ma, jika Hery salah..."


"Ya sudah, Mama juga minta maaf.. Mama kedalam dulu.." Ucap Bu Lena yang sadar bahwa ia sebenarnya tak pantas marah pada Hery.


***


Di dalam mobil. Raihan dan Hasna baru saja selesai melaksanakan shalat jamak Maghrib dan Isya nya di sebuah Masjid yang terletak di pinggiran jalan Bypass tersebut. Sebuah Mesjid dimana mereka melangsungkan pernikahan dadakan mereka di sana. Hasna pun tersenyum mengingat moment tersebut.


"Rai, di Mesjid itulah kamu mengucapkan ijab kabul padaku. Sekarang kamu mengajakku kembali menginjakkan kaki lagi di sana. Seolah kamu tahu tempat itu bersejarah bagi kita. Kamu ini kenapa Rai? Aku merasa kamu sengaja mengajak ku ke tempat itu lagi.." Ucap Hasna yang tadinya ingin ia sampaikan pada Raihan namun ternyata Hasna hanya mampu berkata-kata dalam hatinya. Karena Raihan hanya diam dan berlaku dingin padanya.


Namun perlakuan romantis Raihan yang membukakan pintu mobil kembali pada Hasna saat Hasna hendak masuk ke dalam mobil, membuat Hasna semakin bingung dengan suaminya itu. Kadang Hasna dicuekin Raihan kadang Hasna diperlakukan manis. Dan Hasna puj jadi berpikir saat Hasna di perlakukan dingin oleh Raihan mungkin karena Raihan belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa ia adalah istrinya. Dan di keadaan lain Raihan bisa berlaku baik mungkin karena rasa tanggung-jawabnya saja karena Hasna adalah istrinya. Dan itu hanya membuat kepala Hasna sakit karena memikirkannya.


"Auuuww." Rintih Hasna yang tiba-tiba memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Raihan spontan karena cemas melihat Hasna kesakitan seperti itu. Namun ia cepat kembali berpura-pura cuek pada Hasna dan mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.


"Nggak apa, aku baik-baik saja kok.." Sahut Hasna cepat karena tak mau membagikan apa yang ia pikirkan pada suaminya itu, setelah melihat reaksi Raihan yang kembali dingin setelah bertanya padanya. Mungkin jika Raihan tidak langsung bersikap dingin, bisa jadi Hasna sudah bertanya banyak hal pada suaminya itu. Dan kali ini Hasna hanya mampu memendamnya terlebih dahulu.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2