
Tubuh Hasna pun bergetar seperti menggigil kedinginan.
Raihan menarik selimut dan membantu menutupi tubuh Hasna dengan selimut itu. Namun kemudian mata Raihan terpaku melihat darah yang mengalir dari hidung Hasna.
"Ya Allah, sayang... kamu kenapa..?" Ucap Raihan yang langsung panik melihat darah berwarna merah muda mengalir begitu saja dari hidung istrinya itu.
Dengan cepat Raihan menelpon Pak Ali sang supir yang mengantarkan mereka. Pak Ali memang tak menginap di sana karena Pak Ali memilih menginap di rumah mertuanya yang tak jauh dari Villa itu. Istri pak Ali ternyata adalah asli dari daerah Alahan Panjang tersebut.
"Pak, tolong cepat kesini ya.."
"Baik pak, saya tunggu.. tapi tolong cepat ya pak.."
Raihan semakin panik karena Pak Ali yang ia telpon sedang tak berada di rumah, ia pergi memancing di Danau bersama adik iparnya.
"Rai.."
Terdengar suara berat Hasna memanggil suaminya itu. Raihan kembali mendekati istrinya itu.
"Iya sayang.. Apa ada yang sakit? Katakan padaku.." Ucap Raihan yang kemudian membawa kepala Hasna ke atas pangkuannya sambil mengelap darah yang mengalir dari hidung Hasna menggunakan tisu.
"Rai... terimakasih.. izinkan aku tetap di pangkuanmu seperti ini, aku bahagia bisa selalu kamu peluk, tolong ridhoi aku.."
"Iya sayang.. tapi kamu harus segera dibawa ke Rumah Sakit ya, kamu harus diperiksa.. tapi kamu tenang aja... aku akan selalu ada di sisimu.."
"Nggak usah Rai, aku nggak mau ke Rumah Sakit... biarkan begini saja ya..."
"Sayang... kamu harus diperiksa..."
"Rai... aku ingin lebih lama lagi menikmati masa berdua denganmu Rai, tapi.. mmmmmhhhhh." Ucapan Hasna terpotong, tampak ia yang sedang kesulitan menarik napasnya yang tercekat di kerongkongannya.
"Rai.. apa kamu masih mau memenuhi keinginanku bila aku sudah tidak ada?"
__ADS_1
"Sayang, jangan berkata begitu... tanpa kamu minta, aku akan memenuhi semua keinginanmu, tapi kamu janji.. harus semangat untuk hidup... dan berjanjilah untuk selalu mendampingi hidupku Hasna.."
"Rai.. maafkan aku... jika aku tak bisa berjanji padamu, tapi kamu berjanjilah padaku Rai... aku mau kamu nikahi Dini kembali. Aku yakin kamu pasti bisa kembali membuka hati untuknya, karena... karena nanti hanya ada Dini sebagai istrimu.."
"Sayang... cukup.. jangan berkata aneh-aneh..." Sahut Raihan sambil terus menyeka lelehan darah dari hidung Hasna yang seakan tak berhenti mengalir.
"Rai.. sayangi Dini dan anaknya.. karena selain kamu dan Mama.. Dini tak mendapatkan kasih sayang... dan perhatian dari keluarganya... hanya kalian keluarganya.. huk huk huk." Hasna terus berusaha untuk berbicara walau napasnya tersengal dan terbatuk-batuk karenanya. Saat Hasna batuk, darah berwarna merah muda itu juga menyembur keluar dari mulutnya. Namun Hasna kembali memaksakan dirinya untuk berbicara. Sedangkan Raihan tampak semakin panik karenanya.
"Dan aku... Aku bahagia bisa bertemu kalian... aku bahagia bisa menjadi istrimu Rai.."
Hasna tampak menarik napasnya dalam.
"Rai.. nanti.. tolong bawa jenazahku ke Padang, bawa aku ke Panti Asuhan Putri Ar Rahmah tak jauh dari rumah Nenek. Panti Asuhan itu adalah punyanya adik Nenek, aku mau dimandikan sama adik-adik di sana dan tolong aku di kuburkan disamping makam Nenek dan Mamaku ya Rai..."
Raihan hanya diam, namun air matanya sudah jatuh mengenai pipi Hasna.
"Rai... kamu jangan nangis... kamu berjanjilah Rai.. aku ingin kamu yang nanti menyambut jenazahku di liang kubur dan kamulah yang akan menutupnya kembali.."
Sesaat Hasna terdiam namun kemudian terdengar suara Hasna sedang melafazkan kalimat tauhid.
"Laa.. ilaha illallah... Mu hammadar Rasulullah.."
Raihan terpaku melihat istrinya itu yang begitu lancar melafazkan kalimat tauhid walau dengan napas yang tercekat di tenggorokannya.
"Hasna..." Teriak Raihan seketika melihat kekasih hatinya itu tak bernapas lagi.
"Sayang... bangun.. sayang... jangan bercanda... bangun lah Rumi Hasna Amara... Hasna.. bangun... huhuhu.." Tangis Raihan pun pecah hingga mengagetkan Pak Ali yang baru saja membuka pintu. Tampak Raihan yang sedang mengguncang-guncang tubuh Hasna yang sudah tak bergerak lagi.
"Tuan Muda..."
Raihan mendengar suara Pak Ali memanggilnya.
__ADS_1
"Pak, tolong cepat panggil ambulans.." Titah Raihan pada Pak Ali yang berdiri terpaku di depan pintu.
Awalnya Pak Ali tak berani membuka pintu kamar itu, karena telah beberapa kali ia memanggil Tuan Mudanya namun tak ada jawaban dan saat mendengar teriakan Tuan Mudanya, Pak Ali kemudian memberanikan diri membuka pintu tersebut.
"Ba-baik Tuan Muda.."
Pak Ali segera menghubungi ambulans dengan panggilan darurat lewat ponselnya.
"Hasna bertahanlah... aku yakin kamu hanya pingsan sayang... bertahanlah.." Ucap Raihan sambil terus memangku istrinya itu.
Raihan meletakkan tubuh Hasna yang mulai dingin diatas kasur, ia segera mengambil hijab dari dalam koper pakaian Hasna yang akan ia pakaikan pada istrinya itu. Bagaimanapun Raihan tetap ingin menjaga aurat Hasna agar tak terlihat orang lain.
Saat ia mengambilnya, Raihan tak sengaja melihat sebuah amplop putih jatuh bersamaan dengan terangkatnya hijab tersebut.
Raihan membukanya, di dalamnya Raihan bisa melihat sekilas goresan tulisan tangan Hasna. Raihan menutup kembali amplop itu. Kemudian memasukkan kembali amplop itu ke dalam koper. Raihan menyuruh Pak Ali membawa koper itu masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat Raihan kembali mendekati Hasna, dengan perasaan tangan yang gemetar ia memasangkan hijab itu di kepala Hasna. Lalu ia mengecup kening Hasna lama. Dan Raihan kembali membawa kepala Hasna keatas pangkuannya sesuai dengan permintaan Hasna yang ingin selalu berada di pangkuannya itu. Raihan terus memanggil nama Hasna berharap Hasnanya itu bangun. Dari mulai nada yang lembut sampai nada berteriak sekalipun tetap saja tak membuat Hasnanya bangun.
Bunyi sirine ambulans memecah jalanan yang mereka tempuh. Raihan yang walau sudah diberi tahu bahwa denyut nadi Hasna sudah tak berdetak lagi oleh perawat yang menemani mereka, namun Raihan masih tetap bersikeras untuk membawa Hasna ke Rumah Sakit Besar yang ada di Kota Padang. Raihan seakan tak percaya istrinya itu sudah tak bernyawa lagi.
Waktu terasa berjalan begitu lama. Raihan sudah tak sabar mendengarkan kabar dari sang Dokter jaga yang memeriksa istrinya itu.
Dan akhirnya sang Dokter pun keluar memberi tahu bahwa Hasna sudah meninggal sekitar dua jam yang lalu.
"Innalilahi wa inna ilaihi Raji'un.." Seketika ucapan itu baru bisa keluar dari mulut Raihan. Raihan terduduk lemas di lantai Rumah Sakit, tubuhnya berguncang hebat.
Ia tak menyangka Hasna nya pergi begitu saja dengan tiba-tiba, tanpa ia tahu penyebabnya. Apakah Hasnanya ada mengidap penyakit mematikan selama ini. Raihan hendak menanyakannya pada sang Dokter namun lidahnya terasa kelu. Ia menangis dalam diam, dengan hati yang penuh duka dan seakan tak mempercayai semuanya yang terjadi begitu saja.
Raihan berharap itu hanyalah mimpi. Dan berharap terbangun dengan melihat Hasna nya sehat. Walau Hasna harus marah-marah ribuan kali pun padanya mungkin jauh lebih baik asalkan Hasna tetap hidup bersamanya.
Sekuat tenaga Raihan bangkit untuk berdiri, kakinya terasa tak kuat berpijak lagi, namun ia harus melihat Hasnanya. Satu kali ia mencoba namun Raihan kembali terduduk di lantai.
__ADS_1
TBC...