
"Segera angkat Rai, siapa tahu ada hal penting yang mau Mama sampaikan." Sahut Hasna yang segera mengambil posisi duduk. Hasna juga heran ada apa Mama Raihan menelpon mereka pagi-pagi, karena kemarin saat mereka selesai ijab kabul, Raihan sudah langsung menghubungi Bu Lena dengan sambungan video call sehingga Hasna bisa berbicara langsung lewat VC itu dengan Bu Lena, Mamanya Raihan yang sudah menjadi Ibu mertuanya itu.
"Mungkin Mama masih rindu dengan mantunya ya.. jadi pagi-pagi udah nelpon..."
"Rai...mulai deh.. Kasian Mama menunggu lama.."
"Hehehe iya, iya.. siap bidadari ku..."
Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
"Assalamu'alaikum, halo, iya Ma.." Ucap Raihan membuka percakapan lewat telepon nya dengan Mamanya itu.
"Wa'alaikumussalam, Rai maaf, Mama mengganggumu dan Hasna.." Balas Bu Lena dari balik telpon, Bu Lena sebisa mungkin berbicara seperti biasa walau suaranya sudah serak.
"Nggak kok Ma.. Mama nggak ganggu.." Balas Raihan kemudian mengaktifkan speaker di ponselnya sehingga Hasna juga bisa ikut mendengar suara Bu Lena.
"Rai.. Apa urusanmu di Kantor Cabang bisa ditinggalkan?"
"Kenapa Ma? Mama udah nggak sabar ya bertemu Hasna..?"
"Iya, pasti nya Rai.. Mama sangat menunggu kedatangan Hasna disini. Tapi.. Ini masalah Dini Rai..."
Hasna yang mendengarnya tadinya bahagia karena Ibu Mertuanya ternyata begitu menunggu kehadirannya namun mendengar nama Dini, Hasna jadi melirik tajam ke arah Raihan. Ia pun jadi penasaran dan tiba-tiba khawatir pada Dini. Hasna seolah bisa membayangkan perasaan Dini ketika Dini tahu ia telah menikah dengan Raihan. Mungkin sama seperti yang ia rasakan saat ia mengetahui Raihan telah menikah dengan Dini.
"Ada apa dengan Dini Ma?"
"Dini didapati pingsan oleh Bik Sumi di rumahnya, jadi ia langsung dibawa ke Rumah Sakit, dan saat Mama juga tiba datang melihat keadaan Dini di Rumah Sakit, kata Dokter, Dini terpaksa harus segera di Operasi Cesar Rai, karena berisiko jika janinnya masih dipertahankan dalam rahimnya mengingat kondisi Dini yang tidak stabil dan tekanan Darahnya yang tinggi. Mama pun menyetujui saran Dokter, Alhamdulillah anaknya berhasil diselamatkan Rai dan sekarang sedang di rawat intensif dalam inkubator. Tapi Dini Rai.. Dini harus mengalami kebutaan pasca operasi tersebut."
"Innalilahi.." Ucap Hasna dan Raihan berbarengan.
"Jadi, jika kalian nggak keberatan, kembalilah ke Jakarta hari ini.. Bagaimana pun juga kamu itu suaminya Rai.."
Raihan dan Hasna saling lirik. Hasna tampak cepat menganggukkan kepalanya memberi kode pada Raihan agar menyanggupi permintaan Mamanya.
"Baiklah Ma, hari ini juga kami akan terbang ke Jakarta."
"Kalau gitu, Mama tunggu kalian disini.. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Hasna dan Raihan pun berbarengan menjawab salam Bu Lena.
__ADS_1
"Na, apa kamu nggak apa-apa?" Tanya Raihan yang khawatir Hasna nggak mau bertemu dengan Dini.
"Iya.." Balas Hasna singkat, ia memegang lengan Raihan dan mengelusnya untuk memberikan dukungan pada suaminya itu.
"Terimakasih sayang.." Ucap Raihan yang langsung dibalas anggukan oleh Hasna.
Raihan langsung memesan tiket pesawat untuk mereka.
Hasna beranjak dari tempat tidur, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dan menyucikan diri.
Setelah Hasna keluar dari kamar mandi beberapa langkah, Raihan yang melihatnya pun segera mendekati Hasna.
"Sayangku main mandi sendirian, kok nggak nungguin..?"
"Rai..." Ucap Hasna sambil menatap Raihan dengan tatapan matanya yang membulat.
"Iya.. iya..." Ucap Raihan yang langsung melipir ke kamar mandi.
"Ya Allah, Raihan.. kamu nggak ada khawatir-khawatir nya pada Dini.. ia itu istrimu juga.." Ucap Hasna kemudian sambil menatap punggung Raihan yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Hasna nggak tahu apa Raihan mendengar ucapannya atau tidak.
Hasna sedang menunggu Raihan keluar dari kamar mandi, ia telah berpakaian lengkap namun belum memasang hijabnya. Hasna belum tahu jam berapa mereka akan berangkat, karena Raihan belum memberi tahu, namun Hasna telah memakai pakaian perginya. Dan Hasna tak perlu susah payah lagi mengepak pakaiannya karena pakaian-pakaian itu masih berada dalam tas pakaian Hasna. Hanya saja ia memisahkan pakaian kotornya dengan pakaian bersihnya.
"Ya Allah, Rai.. kamu bikin aku kaget lho.."
Raihan malah meletakkan kedua tangannya di kedua pundak Hasna, kepalanya ia tempelkan diatas kepala Hasna. Ia pun memeluk Hasna dengan posisi tersebut, dengan tubuh yang hanya tertutup sehelai handuk.
"Sayang... aku pesan tiket pesawatnya nanti berangkat jam 11.25. Jadi masih ada waktu untuk kita pagi ini ke rumah Nenek, dan ziarah ke makam Nenek.."
"Lho memang nggak ada tiket pesawat yang berangkat pagi Rai..?" Ucap Hasna sambil mengangkat wajahnya. Ia bisa mencium aroma segar dari tubuh suaminya itu. Rambut Raihan yang masih acak-acakan bekas gesekkan handuk malah menambah ketampanan suaminya itu. Hasna bisa merasakan rasa sejuk dari badan suaminya yang segar setelah mandi.
"Udah pada habis sayang..." Raihan melepaskan pelukannya, ia mengambil sisir dari tangan Hasna lalu ia mulai menyisir rambut panjang Hasna dengan lembut.
"Mmmmmh ya udah... nanti kita tinggal jelasin pada Mama.." Ucap Hasna sambil menatap pantulan suaminya dari dalam kaca. Hasna bisa melihat wajah suaminya yang tampan dengan tubuh proporsional yang penuh kelembutan padanya.
"Kamu kok nggak senang, kan katanya kamu mau ziarah ke makam Nenek dan singgah di rumah Nenekmu kan?"
"Rai, aku bukannya nggak senang.. Tapi aku merasa kasian pada Dini Rai, ia juga pasti butuh kamu.."
Raihan terpaku mendengar ucapan Hasna istri kedua rasa istri pertamanya itu. Raihan mengubah posisinya berjalan ke samping Hasna, ia meletakkan sisir di atas meja rias. Hasna pun segera mengarahkan posisi duduknya menghadap suaminya itu.
__ADS_1
"Hatimu itu terbuat dari apa sih? Kok bisa selembut itu..?" Ucap Raihan kemudian memegang dagu Hasna dengan lembut.
Hasna menggapai kedua tangan Raihan. Jari-jari mereka pun saling bertautan.
"Allah Rai, Allah lah yang Maha Lembut.. aku nggak akan bisa apa-apa kalau bukan karena kasih sayang-Nya padaku termasuk hatiku yang berada dalam genggaman-Nya." Ucap Hasna sambil membawa satu tangan Raihan yang ia genggam ke bagian tengah dadanya.
"Masyaallah, iya sayang..."
Raihan mengecup kening Hasna dengan pelan sambil menikmati aroma sabun dan sampo yang bersatu memanjakan indra penciuman Raihan. Kegiatan itu seolah menjadi candu baginya sekarang.
Hasna juga begitu menikmati kecupan sayang dari suaminya itu. Sambil hatinya terus mengucapkan syukur.
"Alhamdulillah... aku beruntung memiliki istri seperti mu Bidadariku.. Semoga Allah selalu meridhoi pernikahan kita dan menyatukan kita kembali nanti di Surganya.."
"Aamiin, aku juga beruntung memiliki suami seperti mu suami dunia dan akhirat ku kelak, insyaallah.."
"Aamiin.." Ucap mereka berbarengan.
"Dah sana, pakai baju..." Ucap Hasna yang mulai risih melihat Raihan yang masih dalam keadaan berhanduk ria.
"Apa kamu tak menginginkannya lagi...? Ucap Raihan sambil berbisik di telinga Hasna.
"Rai..." Ucap Hasna sambil mendorong tubuh Raihan yang hampir menempel padanya.
"Iya...iya..." Raihan pun berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Ampuun deh..." Ucap Hasna menepuk jidatnya.
"Maklumlah sayang... lagi hangat-hangatnya soalnya... kan kamu yang pertama bagiku..." Ucap Raihan yang menongolkan kepalanya dari balik pintu lemari yang terbuka ke arah Hasna.
"Iya...iya..." Ucap Hasna yang juga menirukan gaya bicara Raihan.
"Kamu itu selalu bikin aku gemes... jadi jangan salahkan aku ya..." Ucap Raihan yang kembali berjalan mendekati istrinya itu. Raihan tak jadi memakai pakaiannya. Ia menangkap tubuh istrinya lalu mengangkat dan menggendongnya ke arah tempat tidur.
"Ya Allah Rai, kapan perginya kalau begini terus..."
"Sebentar saja..."
Lanjut apa nggak nih...? Author minta dukungannya dong, masih sepi banget soalnya... 😅
__ADS_1