Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 38


__ADS_3

Bohong kalau Hasna tak cemburu, sedangkan jika merunut cerita dari kisahnya istri para Nabi yaitu Siti Hawa saja cemburu karena Nabi Adam pulang lewat malam padahal ia tahu bahwa dia adalah satu-satunya wanita di muka bumi.


Siti Aisyah cemburu karena Rasulullah selalu menyebut nama Ibunda Siti Khadijah padahal beliau telah wafat sebelum dirinya menikah dengan Rasulullah.


Dan Zulaikha cemburu pada tanah hanya karena setiap kali Nabi Yusuf bertemu dengannya selalu menunduk ke tanah.


Apalagi yang dihadapi Hasna sekarang adalah wanita yang menjadi istri dari suaminya juga, yang menjadi tanggung jawab suaminya juga yang memang dulunya ada cinta diantara mereka walau keadaannya sekarang sudah berubah.


Raihan pun akhirnya menyodorkan segelas air mineral langsung ke mulut Dini dan Dini menyambutnya dengan senang. Ia meneguk minuman itu dengan beberapa kali tegukan dengan satu tangannya menempel di atas tangan Raihan yang memegang gelas.


"Sayang.. terima kasih..."


Raihan hanya diam tak membalas ucapan Dini karena ada hati yang perlu ia jaga.


"Rai..." Panggil Dini yang mencoba menangkap bagian tubuh Raihan yang hendak menjauh darinya setelah memberi minum. Gerakan Dini ternyata begitu sigap sehingga ia bisa memegang lengan Raihan. Ia pun kembali berucap,


"Rai.. kamu jangan pergi lagi ya... aku takut Rai... disini gelap sekali.. aku tak bisa melihat apa-apa... mana perut ku rasanya seperti tersayat Rai... hiks hiks hiks." Ucap Dini malah menangis dengan terisak-isak sambil meraba-raba wajah suaminya itu memastikan bahwa yang ada di depannya itu adalah Raihan suaminya.


Hasna diam terpaku melihat ke arah mereka. Hatinya terenyuh mendengar keluhan Dini. Walau hatinya sakit dan cemburu namun ia tetap tak tega melihat keadaan Dini sekarang.


Raihan melihat ke arah Hasna. Hasna dengan senyum tipis memberi anggukkan pada Raihan. Akhirnya dengan berat hati, Raihan mengambil posisi duduk di samping ranjang Dini.


Entah kenapa Hasna tergerak untuk mendekati mereka. Hasna mengambil tangan Raihan, tangan itu hendak ia taruh di pundak Dini.


Raihan menahan tangannya, ia mendongakkan kepalanya pada Hasna, ia menatap Hasna dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Hasna dengan cepat menggelengkan kepalanya. Satu jarinya ia taruh di bibirnya memberi kode Raihan agar diam dan mengikuti saja arahan Hasna.


Raihan pun dengan terpaksa mengalah, tangannya hampir saja menyentuh pundak Dini, namun..


"Sayang.. ada suster Aisyah ya disini..?" Tanya Dini pada Raihan yang ternyata bisa merasakan ada sosok lain selain suaminya di sana.


"Maaf.. bukan, saya bukan Suster Aisyah.. tapi saya perawat khusus yang disewa Tuan Muda Raihan yang akan menggantikan Suster Aisyah dalam merawat mu Nona Muda.." Ucap Hasna tanpa ragu menjawab pertanyaan Dini.


"Dengan menyebut nama-Mu ya Rabb, aku ikhlas karena-Mu, dan karena cintaku pada suamiku


juga. Aku tak mau suamiku nanti dimasukkan ke dalam neraka-Mu karena melalaikan tugasnya dan tanggung jawabnya sebagai suami pada salah satu istrinya ya Rabb, jadi tolong kuatkan aku.." Monolog Hasna dalam hatinya pada Rabb-nya.


Ia memantapkan hatinya untuk merawat Dini dengan berpura-pura sebagai perawat yang disewa khusus suaminya itu untuk Dini.


Raihan segera bangkit dari duduknya, ia tak menyangka Hasna melakukan hal diluar dugaannya. Dengan cepat ia memegang tangan Hasna lalu menariknya menjauh dari Dini yang tampak bahagia karena merasa diperhatikan oleh suaminya itu.


Raihan terus menarik tangan Hasna hingga sampai di taman yang ada di rumah sakit itu.


"Kamu ini apa-apaan sih? Jangan lakukan sesuatu sebelum meminta izin dariku. Dan harus kamu ketahui, aku tak akan mengizinkan kamu mengaku sebagai perawat khusus dia..." Ucap Raihan dengan suara tinggi pada Hasna ketika mereka sudah berada di taman.


Hasna menunduk, ia tak menyangka Raihan bisa begitu marah padanya. Air mata Hasna tak terasa mengalir begitu saja di pipinya. Namun ia harus kuat, ia harus ikhlas menerima kemarahan suaminya itu. Hasna mendongakkan kepalanya kembali menatap suaminya itu.


"Rai... Maafkan aku ya... maaf karena tidak meminta persetujuan darimu dulu.. Aku ikhlas Rai.. jika kamu akhirnya marah padaku, tapi aku melakukannya karena -..." Ucapan Hasna tertahan karena langsung di sela Raihan.


"Hai, sayang.. apa kamu tak sadar, ia itu sudah banyak membuat hatimu sakit, bukan hatimu saja pernah ia sakiti tapi hati ku juga... Kamu tahu kan rasanya bagaimana dikhianati, itu yang aku rasakan dulu. Sekarang kamu malah menyuruhku untuk mengasihi dirinya. Tidak sayang... tak akan aku lakukan sampai kapanpun.." Ucap Raihan penuh emosi. Hati dan logika Raihan seolah berperang sekarang.

__ADS_1


Satu sisi Raihan ingin menjaga perasaan Hasna, satu sisi lagi sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam ia juga merasa kasihan pada Dini namun ia tak mau menampakkannya pada Hasna. Karena yang ada di hati Raihan sekarang hanya sebatas rasa kasihan saja pada Dini, tak lebih. Jadi ia tak ingin Hasna malah salah paham padanya jika ia berlaku baik pada Dini karena dalam hatinya sebenarnya sudah tak ada cinta lagi untuk Dini.


"Rai... Dini itu statusnya sekarang juga sebagai istrimu, ia berhak mendapatkan kasih sayang darimu juga. Aku ikhlas karena Allah Rai..." Ucap Hasna dengan kedua tangannya memegang lengan Raihan, berharap hati suaminya itu luluh menerima status ia sebagai suami Dini juga dan menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan baik.


"Tapi bukan dengan harus kamu mengaku sebagai perawat Dini juga kan Na...? Biarkan Dini belajar ikhlas menerima kamu..." Ucap Raihan yang nadanya sudah mulai melunak. Ia sebenarnya juga tak ingin melihat Hasna sedih karena emosinya yang tidak terkontrol.


"Cuma dengan cara seperti itu Rai, kita bisa hidup damai bertiga serumah. Dalam keadaannya yang seperti itu, Dini itu tentunya sangat membutuhkan kamu selalu ada di sisinya. Sedangkan aku... aku juga tak bisa jauh dari mu Rai..." Ucap Hasna kemudian langsung menundukkan kepalanya, tangannya sudah terlepas dari lengan Raihan. Air matanya kembali berlinang di pelupuk matanya dan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.


Raihan mengangkat dagu Hasna, lalu ia mengusap lembut pipi Hasna yang basah karena air mata dengan punggung tangannya.


"Sayang, jangan lakukan jika itu hanya menyiksa dirimu sendiri nantinya."


Hasna dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Nggak Rai.. aku tak apa-apa... aku malah bahagia jika suamiku bisa berlaku adil dan menjalankan tugasnya sebaik-baiknya sebagai suami untuk kami berdua.. walau aku harus berpura-pura terlebih dahulu Rai... Karena aku tahu, Dini pasti tak mau bertemu aku. Jadi aku akan berusaha mengambil hati Dini dengan caraku. Jadi fokuslah demi kesembuhan Dini.. Semoga Allah membuka hatinya menerima semuanya nanti dengan ikhlas." Ucap Hasna dengan senyuman penuh arti menatap mata suaminya itu.


"Sayang... Maafkan aku karena telah membawamu dalam kondisi rumit seperti ini.. Jika seandainya tak ada kejadian itu, mungkin Dini tak akan ada dalam kehidupan Rumah Tangga kita.."


"Rai, nggak boleh bicara seperti itu ya... ini semua sudah ditakdirkan Allah untuk kita lalui. Jadi mau tak mau kita harus melaluinya dengan hati yang lapang."


Raihan menatap Hasna dengan perasaan yang tak menentu. Hasna begitu yakin dengan rencananya, hingga Raihan akhirnya menganggukkan kepalanya tanda memberi izin pada Hasna. Hasna pun tersenyum pada Raihan.


Tiba-tiba ponsel Raihan pun berdering.


"Ya hallo, bagaimana...? Oke, oke, saya akan cari penerbangan yang berangkat lebih awal."

__ADS_1


TBC...


Yang udah setia membaca karya ini dari awal, Author ucapkan banyak terimakasih ya, jangan segan-segan buat tinggalin jejak jempolnya, komen atau subscribe nya ya.. Karena mulai dari Jum'at depan author mau ngasih reward paket data bagi pembaca teraktif tiap minggunya yang akan dilihat dari dukungan terbanyaknya setiap Jum'at nya nanti Insyaallah sampai novel ini tamat. Karena dengan cara itu Author bisa mengungkapkan rasa terimakasih buat kalian yang udah ikhlas memberikan dukungan penuh buat author. Semoga sama-sama jadi berkah nantinya ya.. Aamiin. Pembaca senang author pun ikut senang.. Dan ini berlaku buat siapa aja, baik pembaca yang baru mampir ataupun yang udah lama ya.. Terkhusus untuk kak Mery.. baca pesan ku ya kak..! Terimakasih buat semua... Salam santun dan sayang dari Author Gadih Hazar..


__ADS_2