Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 19


__ADS_3

"Kamu tunggu saja di sana, nanti aku nyusul." Ujar Raihan segera menjawab pertanyaan Dini. Lalu Raihan mematikan telpon dari Dini.


"Jika benar ia Hasna apa mungkin ia balik kampung?" Gumam Raihan dan segera naik ke atas bus yang menuju Padang. Namun ia sama sekali tak melihat perempuan berpakaian seperti Hasna di sana.


Sedangkan Hasna sudah keluar dari terminal Bus, dan ia sudah tidak bergabung dengan para wanita bercadar itu lagi.


"Ya Allah.. aku harus kemana?" Ucap Hasna khawatir.


"Hasna, aku tahu kamu itu Hasna kan?" Ucap seorang laki-laki dari arah belakangnya.


Hasna terpaku berdiri ditempatnya mendengar ucapan orang itu. Hasna sangat mengenal suara itu.


"Kenapa kamu lari dariku juga Hasna? Apa salahku sehingga kamu menghindariku juga?" Ucap laki-laki yang bernama Raihan itu ketika sudah berada di depan Hasna


"Rai, maafkan aku.. Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi dari kalian semua..." Ucap Hasna lemah.


"Aku tak akan membiarkan kamu pergi Na, tak akan.."


"Rai, tolong... status ku sekarang hanya mempersulit kamu.. A-aku..."


"Aku akan bantu kamu lepas dari Roby." Ucapan Hasna langsung dipotong Raihan.


"Tapi Rai..." Ingatan Hasna kembali pada saat ia memohon pada Roby agar melepaskannya.


Malam itu, Hasna habis di hajar Roby karena kecemburuan Roby pada Raihan yang telah menyentuh Hasna sedangkan ia belum menyentuh Hasna sama sekali. Roby memang mencintai Hasna namun nafsunya terlalu besar sehingga ia tak mau melampiaskan pada Hasna karena ia tahu Hasna sangat menjaga dirinya. Saking cintanya ia pada Hasna ia tak mau merusak Hasna sebelum ia halal untuknya. Tapi Allah memang berpihak pada yang benar. Allah tunjukkan belang Roby langsung pada Hasna saat hari pertama pernikahan mereka. Dan saat Allah memberikan kesempatan untuk kedua kalinya, Roby malah menyakiti hati dan fisik Hasna seolah ialah yang tersakiti.


"Mas, kau cemburu pada Raihan sedangkan ia melakukannya karena terpaksa. Tapi apa kau tak memikirkan perasaanku Mas saat aku tahu Dini mengaku hamil anakmu.. hancur, hancur sekali hatiku Mas...Dan sekarang tolong... tolong ceraikan aku..."


"Sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu.." Ucap Roby saat itu lalu meninggalkan Hasna dalam keadaan tak berdaya, karena Roby meninggalkan banyak luka di tubuh Hasna, begitu juga dengan hati Hasna yang terbelenggu dengan keserakahan dan kegilaan Roby.


"Tapi apa Na?" Ucap Raihan membuyarkan lamunan Hasna.


"A-aku sudah hancur Rai..." Ucap Hasna sambil menitikkan air matanya. Hasna membuka cadarnya.


Raihan terkejut melihat wajah Hasna yang sudah babak belur. Tampak banyak bekas luka dan ada beberapa yang masih basah.


"Astaghfirullah..." Ucap Raihan dengan dada yang bergemuruh hebat.


"Jadi sekarang kamu sudah tahu kan Rai, alasan ku lari darimu.. Kamu itu laki-laki yang baik Rai, kamu pantas mendapatkan yang lebih dari aku.. Jadi.. biarkan aku pergi Rai.."


"Tapi kamu mau kemana Na, kemana? Dan aku yakin Roby pasti akan mengejar mu kemana pun kamu pergi."


"A-aku.. mau ketemu Nenek, Nenek pasti bisa membantuku cerai dari Roby lagi.."

__ADS_1


Raihan begitu kaget mendengar ucapan Hasna.


"Berarti Hasna sudah menikah lagi dengan Roby, dan luka di wajah Hasna adalah perbuatan Roby. Benar-benar laki-laki bajingan kau Roby.." Geram Raihan dalam hatinya. Tapi kemudian Raihan cepat mengontrol emosinya, ia harus memberi tahu Hasna tentang Neneknya.


"Nggak Na, nggak akan... karena Nenekmu.."


"Kamu tahu kabar Nenek Rai, Nenekku baik-baik saja kan?" Ucap Hasna yang memang merindukan Neneknya dan semenjak ia dibawa lari Roby Hasna sama sekali tak mendapatkan kabar tentang Neneknya.


"Jawab Rai... Nenek baik-baik saja kan..?" Ucap Hasna kembali yang mulai merasakan perasaan yang tak enak karena Raihan malah diam tak menjawab pertanyaannya.


Raihan malah menangis tersedu-sedu.


"Rai... Jawab..." Teriak Hasna yang sudah tak bisa mengontrol perasaannya lagi.


"Ne-nek sudah pergi meninggalkan dunia ini Na, sama seperti Papa ku.. Pak Amir dan istrinya, hiks hiks hiks."


Hasna mendadak merasakan dirinya kehilangan tenaga mendengar ucapan Raihan. Kakinya serasa tak kuat menopang tubuhnya dan pandangan Hasna mulai kabur.


"Hasna.." Raihan dengan cepat meraih tubuh Hasna yang hampir ambruk ke tanah.


"Tolong.."


Orang-orang yang kebetulan lewat segera membantu Raihan mengangkat Hasna masuk ke dalam mobilnya. Dan Raihan segera membawa Hasna ke Rumah Sakit.


"Bagaimana Dokter?" Tanya Raihan saat melihat Dokter keluar sari ruang IGD tersebut.


"Saudara siapanya pasien?"


"Saya calon suaminya Bu Dokter." Ucap Raihan dengan jujur.


"Mari ikut ke ruangan saya." Ucap Dokter yang bernama Mila tersebut sambil berjalan ke ruangannya.


"Baik Dok.." Sahut Raihan patuh sembari mengikuti langkah Dokter.


Setelah sampai di ruangan Dokter Mila. Dokter Mila mempersilahkan Raihan untuk duduk di kursi yang ada didepan mejanya, setelah itu ia juga duduk.


"Silahkan duduk .."


"Terimakasih Dok.."


"Sebelumnya saya minta maaf, saya sempat berpikir bahwa saudara suaminya pasien. Hampir saja saya tadi ingin memarahi saudara karena di sekujur tubuh pasien mengalami luka lebam dan luka lama yang begitu banyak meninggalkan bekas dan saya pikir itu adalah ulah saudara. Dan pasien sekarang belum sadar namun kondisi jantungnya sudah stabil."


"Astaghfirullahal'adzim.." istighfar Raihan sambil tertunduk. Tak terasa bulir bening jatuh dari matanya. Kedua tangannya terkepal kuat.

__ADS_1


"Roby, lihat saja... aku akan bikin perhitungan padamu.. Aku yakin kau juga dalang dari kecelakaan yang kami alami." Gumam Raihan dalam hatinya.


"Jadi untuk sekarang pasien dianjurkan untuk dirawat dulu."


"Baik Dok, terimakasih...Saya permisi keluar."


"Silahkan!" Sahut sang Dokter seolah mengerti perasaan Raihan.


Raihan keluar dari ruangan itu. Ia segera menghubungi Hery.


"Her, temui aku di Rumah Sakit Medika Aksara." Ucap Raihan tanpa basa-basi saat telponnya tersambung.


"Rai, siapa yang sakit?"


"Cepat kesini Her, aku butuh kamu sekarang.."


"Ok baik.." Jawab Hery dari balik telpon.


Sedangkan Dini yang berada di samping Hery menghalangi langkah Hery yang hendak pergi dari pesta pernikahan tersebut.


"Her, kamu mau kemana?"


"Rumah Sakit." Jawab Hery singkat, Hery tak pandai berbohong.


"Rumah Sakit, siapa yang sakit?"


"Aku nggak tahu Din, yang jelas Raihan menyuruhku ke sana?"


"Aku ikut.."


"Jangan, kamu disini saja, aku tak mau Raihan marah."


"Baiklah.." Ucap Dini.


Dini segera mengurungkan niatnya memaksa untuk ikut, karena ia harus mengambil hati semua orang-orang yang dekat dengan Raihan. Namun dalam hatinya ia tetap berencana mengikuti Hery ke Rumah Sakit.


Satu jam kemudian...


Dini mengintip Hery dan Raihan yang sedang berbicara serius di balik tiang Rumah Sakit. Posisinya sengaja dibuat cukup dekat agar ia bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka.


Setelah mendengar semuanya Dini segera menelpon seseorang.


"Kau mau selamat kan? Dia ada di Rumah Sakit Medika Aksara. Segera bawa ia dan kau keluar lah dari Indonesia, pergi jauh dari sini.."

__ADS_1


TBC...


__ADS_2