Muhasabah Cinta Hasna

Muhasabah Cinta Hasna
MCH 37


__ADS_3

Suster Aisyah yang mendengarnya menjadi merasa bersalah karena sudah salah sangka pada mereka. Suster Aisyah sempat berpikir Hasna adalah perempuan perebut suami orang alias nama kerennya pelakor. Ia siap siaga hendak mengusir Hasna kalau-kalau kehadiran Hasna malah memperburuk keadaan psikis pasiennya itu. Namun Suster Aisyah tak menyangka ternyata malah pasiennya sendiri yang jadi pelakornya.


Suster Aisyah langsung beristighfar ia merasa malu karena sudah berprasangka buruk pada mereka. Hery yang melihatnya langsung tersenyum lebar, ia tidak perlu lagi capek-capek mengklarifikasi tentang Raihan lagi pada Suster Aisyah.


Suster Aisyah pamit undur diri dari ruangan itu, ia ingin segera pulang. Sebenarnya ini bukan jadwal jaganya lagi dan dari kemarin ia belum pulang sama sekali, tapi karena Bu Lena menitipkan Dini padanya ia pun bersedia menggantikan jadwal jaga yang seharusnya dikerjakan oleh perawat jaga lainnya.


Suster Aisyah berlalu melewati tempat berdiri Hery, saat ia tepat di depan Hery, ia pun berucap pada Hery,


"Maafkan saya karena telah berprasangka buruk pada sahabat anda." Ucapnya kemudian segera berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu..."


Dengan cepat Hery mengikuti langkah Suster Aisyah. Ia merasa ialah yang salah karena ucapannya kemarin yang keceplosan tentang Raihan sehingga membuat Suster Aisyah menjadi tak enak begitu. Hery seakan bisa merasakan ada sesuatu yang berat telah menimpa Suster Aisyah, jadi ia begitu sensitif dengan kondisi tersebut.


"Suster Aisyah, tunggu sebentar, saya mau bicara dengan anda." Sahut Hery kembali karena Suster Aisyah seperti tak mengacuhkan Hery yang mengekor di belakangnya. Suster Aisyah telah melaporkan dirinya ke bagian yang piket bahwa ia pulang pagi itu jadi ia meminta seseorang menggantikan dirinya untuk menjaga dan merawat Dini.


Mereka sekarang sudah berada di koridor Rumah Sakit. Suster Aisyah pun akhirnya menghentikan langkah kakinya di sana.


"Maaf, saya tak tahu kenapa anda ingin sekali berbicara dengan saya, tapi maaf saya mau pulang."


"Sus, sebenarnya anda tadi tidak perlu meminta maaf pada saya karena sebenarnya saya lah yang salah, karena saya juga anda jadi berprasangka buruk pada mereka. Tapi entah kenapa, hati saya jadi terpanggil untuk mengenal suster lebih lanjut. Kenalkan nama saya Hery Pratama, panggil saja Hery, saya masih single, dan masih kuliah tingkat akhir, saya sedang mencari calon untuk segera saya jadikan istri, dan jika suster masih single bolehkah saya taaruf?"


Suster Aisyah tampak tersenyum meremehkan makhluk yang ia anggap aneh didepannya itu, seorang anak muda yang over kepedean menurutnya.


"Masih kuliah aja berani mau nikahi anak orang, memang kamu punya bekal? Bekal tampang doang nggak akan mampu membuat istrimu bahagia. Asal kamu tahu, nikah itu butuh persiapan yang matang terutama kesiapan Agama yang akan menjadikanmu sebagai suami yang bertanggung jawab pada istrimu kelak. Dan satu lagi, saya ini janda, jadi lebih baik kamu berhenti mengganggu saya."


Hery terkesiap mendengar jawaban telak dari Suster Aisyah, ia pun terdiam. Kata-kata Suster Aisyah seperti menusuk ke dalam dada Hery, sehingga ia merasakan sesak di sana. Namun kemudian hatinya jadi malah lebih tertantang ingin mengenal Suster Aisyah lebih dalam lagi.


"Apa salahnya kalau dia janda, Hasna juga janda. Tapi Raihan bisa menerima Hasna bahkan sangat mencintai Hasna.." Ucap Hery kemudian dalam hatinya.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan kisah perjuangan Hery dalam menemukan jodohnya? Jika banyak yang mendukung, nanti kita buat satu kisah untuk Hery ya...


***


Sedangkan di dalam ruang rawat Dini, Raihan tampak sibuk dengan ponselnya, ia mengecek beberapa pesan masuk akan laporan dari Perusahaan Cabang yang ada di Padang yang sedang mengalami masalah. Sehari kemarin ia memang tak mengecek ponselnya, sehingga pesan itu semuanya sudah menumpuk masuk ke dalam ponsel Raihan.


Dan Hasna sedang menyibukkan dirinya dengan tilawah Qur'an yang ia baca dari aplikasi Qur'an dalam ponselnya.


Hasna duduk di samping Raihan di sebuah sofa panjang yang ada di sana. Fasilitas ruangan itu seolah tampak seperti apartemen karena isinya yang lengkap, sehingga membuat orang yang menunggunya tidak serasa berada di Rumah Sakit.


"Sayang, apa udah ngajinya?" Tanya Raihan pelan pada Hasna yang terlihat fokus mengaji.


"Mmmmh, emangnya kenapa?" Balas Hasna yang malah balik bertanya.


"Aku butuh kamu..." Ucap Raihan yang tiba-tiba sudah merebahkan kepalanya dipangkuan Hasna.


"Maksudnya..?"


"Rai... jangan macam-macam deh disini..." Ucap Hasna dengan tatapan aneh pada suaminya itu.


"Sayang... aku nggak macam-macam kok... Orang cuma mau minta dipijitin..."


"Kirain...hehehe.." Balas Hasna sambil tertawa salah tingkah karena ulah sikap usil suaminya itu.


Hasna pun mulai memberikan pijitan lembut di kepala Raihan dan sekaligus di kening bahkan di seluruh wajah Raihan sehingga Raihan sampai tertidur saking menikmati pijitan Hasna.


Sambil memijit, Hasna pun mendendangkan senandung shalawat ke atas Nabi, suaranya yang merdu


semakin membuat Raihan pulas dalam tidurnya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian..


Hasna melihat pergerakan dari arah Dini terbaring. Hasna bisa melihat Dini yang terbangun dari tidurnya. Dini meraba-rabakan tangannya ke sekeliling berharap ada Raihan di sana.


"Rai... aku haus.."


Raihan yang tadinya nyenyak tidur di pangkuan Hasna tiba-tiba langsung duduk.


"Sayang, kamu haus...? Sebentar ya sayang.. aku ambilin.." Ucap Raihan setengah sadar, ia mengucek-ngucek matanya lalu meregangkan tubuhnya.


Hasna langsung melongo melihat reaksi Raihan yang spontan saat mendengar suara Dini yang berkata ia haus.


"Rai... sayang.. kamu ada disini, syukur lah, aku haus sekali sayang.." Ujar Dini kembali yang terlihat begitu bahagia karena mendengar suara suaminya itu.


Nyawa Raihan yang sudah kembali seutuhnya itu pun seketika menjadi canggung saat mendengar dan melihat reaksi Dini. Ia melirik ke arah Hasna seolah ingin menjelaskan bahwa Hasna jangan salah paham padanya. Karena Raihan menyangka Hasna lah yang berbicara padanya dan berkata haus padanya.


Hati Hasna tiba-tiba saja merasa panas, di depan matanya sendiri ia melihat suaminya ternyata begitu perhatian pada Dini. Pikiran Hasna seketika melayang mengingat kata-kata Dini yang mengatakan Raihan cinta pertamanya begitu juga Raihan yang jujur pada Hasna bahwa Dini adalah cinta pertamanya. Sehingga Hasna menyimpulkan sendiri hati Raihan masih ada untuk Dini.


Hasna menarik napasnya berat yang seketika terasa sesak.


"Sa-..." Ucap Raihan tertahan, ia yang hendak memberikan penjelasan namun Hasna dengan cepat mencegahnya.


"Ssssst, lakukanlah... aku nggak apa-apa.." Ucap Hasna dengan sangat pelan. Ia berusaha untuk tegar walau hatinya terasa tersayat pisau berkarat.


"Ta-tapi, sayang jangan salah paham dulu..." Ucap Raihan tergagap dengan setengah berbisik.


Hasna mengedipkan matanya. Dan Raihan dengan terpaksa mengambilkan Dini air minum, dengan langkah berat ia mendekati Dini.


Mulut Hasna bisa berkata ikhlas pada Dini, namun hatinya ternyata masih belum se ikhlas ucapannya, ia pun menangis dalam diam. Air matanya mengalir begitu saja di pipi nya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2