
"Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku hanya bisa mengingat bahwa hubungan aku dan Dini baik-baik saja...? Dan rasanya baru kemarin kami tamat SMA dan masuk kuliah. Hery, Dini dan aku, kami baik-baik saja dan bahagia bisa kuliah di kampus yang sama. Lalu sekarang Mama berkata Hasna adalah istriku.. Bagaimana bisa aku menikah dengan Hasna? Siapa dia? Arrrgh, sakit..."
"Ma... Sakit.. Arrrgh... Kenapa bisa sakit sekali seperti ini..? Raihan merintih kesakitan. Ia memegang kepalanya erat, lalu meringkuk di atas ranjang sambil terus memegang kepalanya.
Hesti yang kebetulan ingin membersihkan kamar Dini atau yang ditempati Raihan sekarang terkejut saat membuka pintu dan mendengar suara Tuan Mudanya itu merintih kesakitan. ia pun segera memberi tahu Bu Lena yang sedang berada bersama Dini dan Hasna di lantai atas.
"Maaf Bu, mas Raihan.. ia seperti kesakitan sekali.." Ucap Hesti yang memang usianya lebih muda dari Raihan sehingga ia memanggil Raihan dengan sebutan Mas. Karena memang Raihan tidak mau dipanggil dengan sebutan Tuan Muda namun kadang Bik Minah saja yang kadang lupa dan kadang ingat. Katanya pengaruh kebiasaan ia dulu bekerja di rumah Tuan sebelumnya.
Mereka yang sedang sibuk bercengkrama dan bermain bersama baby boy nya Dini itu sontak serentak menoleh pada Hesti.
Hasna malah terpaku melihat pakaian yang digunakan Hesti. Dan itu terlalu pendek dan press body menurut Hasna. Hasna mengernyitkan keningnya. Apa Hesti biasa berpakaian seperti itu. Rasanya kemarin-kemarin pakaiannya tidak seperti itu. Dini saja yang belum berhijab namun pakaian Dini masih sangat sopan menurut Hasna. Ini kenapa Hesti berani berpakaian pendek begitu, apa Bu Lena tidak melarangnya. Hasna sibuk bermain dengan pikirannya sendiri, hingga suara Dini mengagetkan dirinya.
"Rum, sekarang waktunya... Kamu temui Raihan ya.."
"Apa Din?" Hasna malah balik bertanya, karena ia tak mendengar betul apa yang diucapkan Dini.
"Sekarang udah waktunya kamu menemui Raihan, kepalanya pasti sakit karena memikirkan kalian... Kamu berikan obat untuk Raihan ya.."
Dini langsung tersenyum karena Bu Lena mewakili ia mengulang kata-katanya barusan pada Hasna.
"Oh ya, obatnya ada di dalam tas pakaian Raihan, coba tanya Hesti tas pakaian Raihan ia taruh dimana.." Ucap Bu Lena kembali.
"Hehehe, i-iya Ma, Din.. aku ke bawah dulu ya.." jawab Hasna yang seperti salah tingkah.
Mereka pun mengangguk sambil tersenyum memberikan dukungannya pada Hasna. Hasna pun beranjak dari situ, ia langsung turun ke bawah. Sedangkan Hesti sudah langsung turun ke bawah lagi sesaat setelah memberi tahu Bu Lena.
"Mas Raihan, semoga amnesia aja selamanya ya Mas.. aku akan merebut hati mas Raihan dengan caraku. Aku senang, mbak Dini sudah tidak jadi sainganku lagi. Dan mbak Hasna, ia kan orangnya baik bin lugu.. lagian Mas Raihan juga nggak ingat sama mbak Hasna.."
Saat Hasna ingin mendekati Hesti, Hasna langsung terkejut mendengar ucapan Hesti yang mengira tak ada orang lain di sana hingga ucapannya cukup jelas di dengar Hasna.
__ADS_1
"Ehem, ehem.." Hasna langsung berdehem hingga mengagetkan Hesti yang sedang melamun.
"Mbak Hasna.. mbak sejak kapan ada disini, bu-bukannya mbak di atas bersama ibu?" Ucap Hesti tergagap seperti orang yang ketahuan melakukan kesalahan.
Hasna malah tersenyum pada Hesti. Dan itu membuat Hesti menghembuskan nafas lega.
"Dik Hesti tahu dimana tas pakaian Mas Raihan yang dari Rumah Sakit nggak?" Tanya Hasna dengan nada santai seolah tidak tahu apa-apa.
"Ta-tahu mbak, bentar saya ambilin.. Tadi saya membawanya ke belakang buat ngeluarin pakaian Mas Raihan untuk dicuci." Sahut Hesti masih dengan nada gagapnya walau sudah berkurang karena ia sedikit merasa lega karena menganggap Hasna tidak mendengar ucapannya tentang rencananya pada Raihan tersebut. Hesti pun langsung lari ke belakang.
"Hes, kita lihat saja ya, siapa yang duluan berhasil merebut hati Raihan.. Jika kamu berhasil, aku akan mengikhlaskannya untukmu." Ucap Hasna dalam hatinya dengan penuh keyakinan. Hasna yakin perihal jodoh maut dan rezeki itu sudah diatur Allah di Lauh Mahfudz sebelum kita dilahirkan ke dunia, dan ia percaya akan takdir yang berlaku nantinya pada mereka. Dan semuanya atas kehendak dari Yang Maha Kuasa.
"Ini mbak.. maaf agak lama.."
Hasna mengedipkan matanya pada Hesti sambil tersenyum. Kemudian Hasna mulai mencari obat sesuai arahan Bu Lena yang ada di dalam tas itu.
"Nnng saya nggak tahu mbak.. Tadi saya hanya mengeluarkan pakaiannya Mas Raihan saja."
"Ya Allah.. jadi kemana perginya...? Nggak mungkin Mama lupa.."
Hesti menggeleng-gelengkan kepalanya saat Hasna melihat pada dirinya untuk memastikan Hesti beneran tidak mengetahuinya.
Hasna tak mau membuang waktu, ia tak mungkin menanyakan pada Bu Lena, karena ia pikir Raihan pasti sedang menahan rasa sakit sekarang. Hasna segera bertindak, ia mengambil panci, lalu ia isikan dengan air hangat. Kemudian ia meminta handuk kecil pada Hesti.
Dengan perasaan deg-deg an Hasna masuk ke dalam kamar Raihan. Hatinya begitu miris saat melihat kondisi suaminya itu yang seperti tak tahan menahan rasa sakit.
"Bismillahirrahmanirrahim.."
Hasna berjalan mendekati kasur dimana Raihan tengah meringkuk menahan sakit.
__ADS_1
"Rai... izinkan aku membantumu ya..?" Ucap Hasna seraya meminta izin terlebih dahulu pada suaminya itu.
"Kamu... ngapain kesini? Aku tidak butuh kamu..." Ucap Raihan sambil memaksakan dirinya untuk duduk.
"Rai, kamu itu lagi sakit, aku ingin membantu kamu agar sakitnya hilang.."
"Nggak usah... Mama mana? Aaaargh.." Raihan kembali meringis.
"Rai, tenanglah.. aku janji akan keluar setelah kamu tidak merasakan sakit lagi."
Hasna meletakkan panci berisi air hangat yang ia bawa itu diatas nakas di samping ranjang. Lalu ia perlahan naik ke atas kasur dan mendekati Raihan.
"Ma, sakit..." Rintih Raihan sambil memegangi kepalanya. Ia sampai tidak menyadari Hasna sudah berada didekatnya. Hasna mulai memeluk Raihan dengan perasaan was-was takut Raihan menolaknya. Tapi kesadaran Raihan seolah hilang separuh karena tak kuat menahan sakit. Ia pun seperti pasrah di peluk Hasna.
"Rai, cepatlah pulih, aku tak kuat melihat kamu kesakitan seperti ini.. hiks hiks hiks." Hasna pun menangis. Ia memeluk suaminya itu begitu erat.
Sesaat kemudian..
"Kamu berbaring ya, aku akan mengobati kamu.." Titah Hasna kemudian pada Raihan.
Raihan pun menuruti perkataan Hasna. Ia pun berbaring. Dan Hasna mulai mengompres bagian leher Raihan, lalu pindah ke bagian belakang kepala Raihan. Konon katanya mengompres seperti itu dengan air hangat bisa menghilangkan sakit kepala tegang. Karena Hasna yakin Raihan merasakan sakit kepala tegang karena terpaksa berpikir dan stress seperti kata Bu Lena, Ibu Mertuanya.
Setelah itu Hasna mulai memberikan pijitan lembut di kepala Raihan dan ia pun menyenandungkan shalawat Nabi sambil terus berdoa untuk kesembuhan suaminya itu. Dan akhirnya Raihan pun tertidur karenanya. Hasna pun merasa lega, Hasna yang lelah karena kurang tidur selama menunggui Raihan di Rumah Sakit, ia pun merebahkan badannya di samping Raihan sambil memeluk Raihan.
"Rai, izinkan aku tidur memelukmu, aku rindu..." Ucap Hasna yang tak ingat akan janjinya lagi bahwa ia akan keluar begitu Raihan tidak merasakan sakit lagi.
TBC...
Reminder buat pembaca setia MCH, insyaallah nanti malam jam 10 terakhir author mengambil data pendukung terbanyak yang digabungkan dengan data sebelumnya ya.. Siapa yang beruntung nantinya Author ucapkan terimakasih banyak karena telah memberi support full nya dan menemani perjalanan author dalam menulis karya ini.. Insyaallah berkah.. dan insyaallah reward nya akan dikirim hari Jum'at esok.. Jazakumullah khairan Katsiran salam santun dan sayang dari Author..🙏🤗🥰
__ADS_1